Masa Depan Anak yang Berharga Akan Hancur Jika 7 Hal ini Sudah Dialami Waktu Kecil

Komentar
pinterest.com

Jika waktu kecil, anak sudah mengalami hal ini 90% hidupnya kacau saat dewasa

Yang sudah banyak terjadi saat ini nomor 6, di usia anak pasti belum siap secara mental untuk menghadapi masalah seperti ini

Masa kanak-kanak merupakan fase yang penting dalam kehidupan seseorang. Tidak hanya pertumbuhan fisik, perkembangan mental seseorang juga sebagian besar terjadi pada masa kecil, sebelum memasuki usia remaja dan dewasa.

Pengalaman baik atau buruk yang dialami anak-anak pada masa kecilnya sangat berdampak pada kehidupan di masa mendatang.

Situasi-situasi tertentu bisa membuat anak terpaksa jadi “dewasa” sebelum waktunya. Maksudnya, mau tidak mau anak harus melompati fase kanak-kanak karena tuntutan hidup yang melampaui kemampuan anak-anak pada umumnya.

Melompati fase tersebut sangat mungkin menimbulkan trauma dan masalah perkembangan lainnya.

Seperti yang dikutip dari helllosehat.com menurut organiasi pemerhati perkembangan anak Save the Children, satu dari empat anak di dunia kehilangan masa kecil mereka.

Menurut organisasi internasional tersebut, ada beberapa situasi yang bisa merenggut masa kecil anak sebelum waktunya. Berikut laporan selengkapnya.

1. Tinggal di wilayah konflik


Konflik sosial seperti perang suku menyebabkan lingkungan yang tidak aman bagi seorang anak tinggal dan berkembang. Tinggal di wilayah dengan konflik juga sering mengharuskan mereka untuk berpindah. Hal ini juga dapat diikuti dengan masalah kejiwaan seperti PTSD (Post-traumatic Stress Disorder atau Gangguan Stres Pascatrauma), hilang kesempatan untuk memperoleh pendidikan, serta tidak mendapatkan pelayanan kesehatan dan keamanan.

2. Mengalami kekerasan


Diperkirakan ada sekitar 200 kasus kematian anak yang disebabkan oleh kekerasan fisik setiap harinya. Meskipun kekerasanyang  menimbulkan kematian tidak selalu bersifat fisik, mereka yang pernah mengalami kekerasan dapat mengalami dampak yang serius. Hal ini termasuk dalam pengalaman buruk bagi anak atau yang dikenal dengan Adverse Childhood Experiences (ACEs).

Pengalaman mengalami kekerasan merupakan salah satu penyebab timbulnya depresi, gangguan kecemasan, dan menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang. Menurut CDC Amerika Serikat, ACEs juga memiliki dampak jangka panjang yang muncul ketika seseorang sudah remaja hingga dewasa. Mengalami kekerasan fisik pada masa kecil dapat meningkatkan kemungkinan anak:
  1. Memiliki perilaku berisiko ketika dewasa.
  2. Lebih mudah mengalami penyakit kronis.
  3. Memiliki kualitas hidup yang rendah.
  4. Mengalami kematian dini.

3. Putus sekolah


Pendidikan merupakan inti utama dari masa kecil. Pendidikan formal seperti sekolah adalah tempat yang tepat untuk anak belajar bersosialisasi dan berkomunikasi. Meskipun begitu, diperkirakan ada 263 juta anak di dunia yang mengalami putus sekolah.

Beberapa penyebab seorang anak putus sekolah di antaranya masalah ekonomi, mengalami gangguan kesehatan atau disabilitas, serta terdapat masalah lainnya seperti adanya perang atau bencana alam di tempat mereka tinggal.

4. Mengalami malnutrisi


Kondisi malnutrisi seperti gizi kurang atau gizi buruk merupakan masalah umum di seluruh dunia, khusunya di negara berkembang seperti di Indonesia. Gizi kurang secara kronis atau yang terjadi sekitar 1.000 hari pertama kehidupan dikenal sebagai faktor risiko dari stunting.

Kondisi stunting dapat didefinisikan sebagai kependekan, atau gangguan pertumbuhan yang menghambat pertumbuhan fisik seseorang. Gangguan pertumbuhan dapat menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan untuk bermain dan berinteraksi serta dapat menghambat kecerdasan akademis. Stunting juga dapat berdampak dalam jangka panjang terutama dalam kesehatan, pendidikan, dan kesempatan bekerja di masa mendatang.

BACA JUGA Baca Hadist Berikut, Efek Buruk Jika Salah Memberi Nama Kepada Anak Kita



5. Harus bekerja pada usia anak-anak


Kesulitan ekonomi merupakan penyebab utama anak harus bekerja. Sebagai dampaknya, mereka kehilangan waktu untuk belajar, bermain, dan beristirahat yang cukup.

Bekerja pada usia muda tanpa keterampilan dan pendidikan juga menyebabkan mereka rentan terhadap bahaya di lingkungan kerja seperti pada bidang konstruksi, penambangan, atau pengolahan limbah. Belum lagi anak-anak lebih rentan diperlakukan secara tidak adil, dilecehkan, dan menjadi korban kekerasan di tempat kerja.

Bekerja pada usia anak-anak juga dapat menurunkan kualitas kehidupan dan kesehatan di masa mendatang. Pasalnya, tubuh dan psikis anak memang belum siap untuk menanggung beban pekerjaan.

6. Pernikahan pada usia anak-anak


Di samping bekerja, kesulitan ekonomi juga mendorong orangtua untuk menikahkan anak mereka pada usia dini (di bawah 18 tahun), khususnya bagi mereka yang memiliki anak perempuan. Ketika seorang anak menikah, maka mereka akan terpaksa untuk memulai kehidupan sebagai orang dewasa terlalu dini. Mereka juga kehilangan kebebasan, kesempatan bersekolah, dan kehidupan mereka sebagai seorang anak.

7. Melahirkan di usia anak-anak


Seorang anak perempuan akan kehilangan masa kecilnya ketika mereka melahirkan bayi di bawah usia 18 tahun. Ini karena memiliki tanggung jawab untuk mengurus seorang anak sementara dirinya sendiri masih tergolong anak-anak atau remaja.

Terlebih lagi kehamilan dan proses melahirkan pada masa anak-anak merupakan hal yang berisiko tinggi terhadap kesehatan perempuan secara keseluruhan. Risiko komplikasi saat hamil dan melahirkan meningkat drastis ketika seseorang melahirkan pada usia remaja dan anak-anak.

Perubahan hormon akibat kehamilan di usia yang sangat dini juga meningkatkan risiko penyakit kronis di usia dewasa hingga usia  lanjut.
Top