Kuliah Mahal-mahal, Punya Gelar Sarjana Jadi Ibu Rumah Tangga Juga Akhirnya

Komentar

Foto via wajibbaca.com

Kata orang, apa nggak malu punya gelar sarjana kok cuma jadi ibu rumah tangga

"Sayang jadi ibu rumah tangga doang, ijasahnya gak kepakek"

Disaat orangtua menasehati untuk sekolah yang bener supaya dapat pekerjaan yang baik dan menjadi sukses, tak tertinggal  juga nasehat guru supaya kita bisa melanjutkan ke Universitas yang diimpikan, disaat itu pula ada perkataan yang membuat semua berubah, disaat itu impian tinggi menjadi ambyar karena "Kuliah tinggi-tinggi tetap sama juga nantinya jari ibu rumah tangga"

Bila mengingat kembali sebagai siswa kelas 3 SMA yang hendak menghadapi Ujian Nasional, rasanya cukup menarik, pasalnya disaat - saat itulah para siswa kelas 3 akan banyak menerima nasihat dari para guru.

Dimulai dari nasihat harus rajin belajar, harus bisa melanjutkan ke universitas yang sesuai, harus bisa mencapai nilai yang tinggi, namun ada satu nasihat dari salah satu guru yang saat itu memang tak terlalu aku pedulikan, toh pikirku nasihat itu masih terlalu jauh untuk dibahas diusiaku yang masih remaja.

Baca juga : Mau Berbuat Tapi Tak Bertanggung Jawab, Ibu ini Tak Tau Azab Perih Menanti

Sebelum memberikan nasihat tersebut guruku bertanya kepada semua siswa laki-laki di kelasku, pertanyaanya adalah seperti ini "Kamu ingin punya istri yang menjadi wanita karir atau cukup menjadi ibu rumah tangga saja ?" waaah jawabannya pun berbeda-beda, ada yang ingin punya istri wanita karir, ada yang ingin istrinya kelak cukup menjadi ibu rumah tangga saja, dan ada juga yang sudah berniat memiliki istri yang wanita karir dan istri satunya lagi ibu rumah tangga ehhh wkwkk.

Kemudian setelah mendengar jawaban tersebut barulah guruku ini memberikan nasihat disela-sela jam pelajaran yang hampir selesai.

Menurutnya terserah kelak para siswa laki-laki ingin memiliki calon istri yang cukup menjadi ibu rumah tangga saja atau sambil bekerja meniti karir diluar rumah, tapi beliau menyampaikan nasihat yang kurang lebih seperti ini "Kalau bisa jangan cari calon istri yang bergelar sarjana bila hanya menjadikannya seorang Ibu rumah tangga saja".

Pesan tersebut saat itu memang tak terlalu aku pedulikan, toh pikirku "Apaan sih nih guru, kok malah ngebahas kayak beginian".

Namun seiring berjalannya waktu diusiaku yang mudah-mudahan lulus kuliah tahun depan, Amin, pesan tersebut kembali aku ingat dan lumayan menari-nari dipikiranku saat ini.

Cukup membingungkan memang bila kembali mengingat pesan tersebut, terlebih dengan banyaknya bermunculan kata-kata dimedia sosial yang menyinggung permasalahan seorang wanita bergelar sarjana namun hanya menjadi ibu rumah tangga, contohnya begini :

"Justru hebat dong anak gw diurus sama sarjana lulusan UI, dibanding anak lo yang diasuh sama pembantu lulusan SD." (Aku tak ada maksud merendahkan tingkat pendidikan ya)

Mengingat nasihat dari guruku tersebut bisa dibenarkan namun bisa juga disalahkan, loh kok begindang sih di ? ya iya dong, karena pada kenyataanya semua orang memiliki keadaan yang berbeda-beda.

Baca juga : Allah SWT Sudah Mempersiapkan Anak di Surga Bagi Pasangan yang Mandul, Benarkah?

Jadi nasihat guruku bisa dibenarkan dan disalahkan sesuai dengan kondisi atau suatu keadaan. Untuk keadaanku saat ini saja sepertinya aku cenderung setuju dengan pesan dari guruku tersebut, karena ketika memutuskan untuk melanjutkan keperguruan tinggi orang tuaku berpesan seperti ini "Belajar dikampus yang bener nak, biar dapet kerjaan yang bagus".

Ucapan seperti itu sampai sekarang masih sering aku dengar setiap kali berada dirumah atau hendak pamitan untuk pergi kuliah.

Lah terus apa hubungannya ucapan tersebut dengan persepsiku kalau saat ini aku setuju dengan pendapat guruku tersebut ?

Harapan Orang tua kepada Anak Perempuannya

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang tua yang menanamkan harapan besar terhadap anak perempuannya ketika melanjutkan ke perguruan tinggi, kelak setelah lulus dari perguruan tinggi semoga sang anak bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, terpandang, dan sukses.

Kalau saat kuliah masuk fakultas kedokteran semoga setelah lulus bisa jadi bu dokter yang baik, atau ketika kuliah difakultas hukum semoga setelah lulus bisa menjadi pengacara wanita yang sukses dan harum namanya dikalangan masyarakat, Amin.

Hal ini bukan berarti aku merendahkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, jelas tidak. Aku hanya sedang menjelaskan bahwa tidak semua wanita yang bergelar sarjana memiliki keadaan yang sama, baik itu dari sudut sosial, ekonomi dan lainnya, yaaah ujung-ujungnya pasti ekonomi deh.

Jujur saja hidup dalam keluarga yang sederhana, bagi orang tuaku biaya kuliah itu lumayan mahal namun bukan berarti mereka setengah hati membiayai semua anaknya termasuk aku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka cukup besar menanamkan harapan kepadaku untuk lebih baik darinya, walau bagiku orang tuaku jelas jelas lebih baik dari ku dalam segala hal.

Basi rasanya jika segala permasalahan dikaitkan dengan urusan ekonomi, tapi mau gimana lagi ? iya kalau nanti dapat jodoh yang bisa memenuhi sepenuhnya kebutuhan rumah tangga dan keinginan sang istri dari segi materi, kalau tak sepenuhnya bagaimana ? atau mungkin misalnya sedari lahir seorang wanita telah hidup dalam kalangan berada, jadi setelah lulus kuliah tak masalah hanya menjadi ibu rumah tangga toh warisan dari orang tua atau uang bulanan dari suami saja sudah sangat cukup.

Memang segalanya tak bisa diukur dalam keadaan materi saja, tapi pada kenyataanya materi memiliki pengaruh yang lumayan kuat.

Baca juga : "Pak Ustadz rezeki saya seret, apa karena orangtua saya ikut dalam tanggungan saya?"

Tak bisa munafik rasanya bila hidup tanpa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, tinggal bagaimana pribadi kita menyikapi perbedaannya saja dengan bijak atau penuh rasa iri.

Begitu juga ketika seorang wanita yang bergelar sarjana memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga saja, hal tersebut adalah sebuah keputusan yang sudah pasti alasan dan tek tek bengeknya akan berbeda dengan seorang wanita bergelar sarjana yang akan tetap meniti karir diluar rumah ketika sudah menikah.

Ketika seorang wanita bergelar sarjana, menjadi ibu rumah tangga saja atau tidak bukanlah hal yang memalukan, yang bikin malu itu ilmu yang dipelajari selama di perguruan tinggi tak bisa dimanfaatkan sama sekali, karena pada kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang menilai manfaat ilmu dari segi fisik ijazah saja, begini katanya "Sayang jadi ibu rumah tangga doang, ijazahnya gak kepake" atau misalnya kalau ijazahnya lulusan fakultas ekonomi maka harus menjadi pegawai disebuah bank atau perusahaan yang akan mempertimbangkan ijazah kita sebagai syarat penerimaan.

 Lho padahal seorang ibu rumah tangga juga sangat memerlukan ilmu tentang hitung menghitung dalam urusan ekonomi.

Jadi tak perlu diambil pusing soal keputusan seseorang menjadi ibu rumah tangga saja atau menjadi wanita karir, apalagi ribut soal anak diasuh dengan seorang sarjana atau lulusan SD saja.

Karena berbeda keadaan ya sudah pasti beda juga pilihannya, gak bisa disamakan dengan "Apapun makanannya, minumnya ya pake air" ehh gak lucu hehee.

Yang Luar Biasa Itu Adalah Wanita Bergelar Sarjana Tapi Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga

Foto via wajibbaca.com

Meraih pendidikan yang tinggi merupakan cita-cita bagi banyak orang, kamu yang berhasil melakukannya haruslah bersyukur karena banyak yang tidak seberuntung dirimu.

Foto via wajibbaca.com


Ketika lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana, kamu mungkin masih kepikiran untuk berkarir dan bekerja. Kamu ingin mengamalkan semua ilmu yang telah kamu dapatkan ketika di bangku kuliah. 

Kamu ingin mencoba mempraktikkan kerangka berpikir di dalam kehidupan nyata sembari merasakan kerasnya kehidupan di dunia.

Semua berubah ketika dia datang padamu, dia yang telah mencuri hatimu ingin hidup bersama denganmu.

Foto via wajibbaca.com


Kedatangannya dalam hidupmu membuatmu bahagia, dia adalah sosok yang akan melengkapi hidupmu. 

Bersama dengannya kamu mengikat janji setia, hidup bersama di kala suka maupun duka. Kamu dan dia lalu menjalin ikatan yang lebih kuat melalui pernikahan, langkah awal bagi mimpimu dalam merajut bahtera rumah tangga.


Ketika buah hati yang ditunggu akhirnya datang, kamu mulai dihadapkan dengan pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Foto via wajibbaca.com

Ketika baru menikah, beban sebagai ibu belum ada. Kamu hanya seorang istri bagi seorang suami. Semua berbeda ketika buah hati mulai dalam kandungan, kamu mulai berpikir tentang masa depan anak yang sedang kamu kandung. 

Apakah lebih baik baginya jika aku terus bekerja? Ataukah aku harus meninggalkan pekerjaan demi mengasuhnya?

Hidup selalu memberikan banyak tawaran. Dan menjadi ibu rumah tangga adalah pilihanmu.

Foto via wajibbaca.com


Akhirnya kamu membuat pilihan untuk menjadi Ibu rumah tangga. Meninggalkan semua impian karir yang pernah kamu bangun. Kamu tahu peranmu dalam sebuah rumah tangga. Dan kamu tak keberatan untuk melakukannya.

Ada alasan logis di balik pilihanmu. Kamu ingin anak dan suamimu terawat dengan lebih baik.

Foto via wajibbaca.com


Menjadi ibu rumah tangga membuatmu bisa mengasuh anakmu secara langsung. Kamu juga akan menjadi seorang guru terbaik bagi anakmu. 

Kamu juga bisa melihat tumbuh kembang anakmu, momen pertama kali dia bisa berjalan dan menyebut namamu tidak akan kamu lewatkan.

"Seorang sarjana, memutuskan menjadi ibu rumah tangga?" Kamu kadang merasa resah dengan suara sumbang itu.

Foto via wajibbaca.com


"Sekolah tinggi-tinggi sampai sarjana cuma jadi ibu rumah tangga? Sayang banget"

"Kalau cuma mau jadi ibu rumah tangga gak usah sekolah sampai sarjana"

Begitulah yang mungkin akan sering kamu dengar ketika memutuskan untuk berkarir di rumah. Suara sumbang itu pernah mengusikmu, namun kamu tetap teguh pada keputusanmu. Haters gonna hate. Setiap keputusan dalam hidupmu pasti akan ada orang yang memberi tanggapan negatif.

Saat melihat kehidupan teman-temanmu yang tetap menjadi wanita karir, kamu pun kadang kembali bimbang.

Foto via wajibbaca.com


Kamu mungkin akan melihat kehidupan temanmu yang memilih jalan yang berbeda darimu. Terbersit keinginan untuk seperti mereka. 

Bebas bermain dan pergi kemana saja tanpa punya tanggungan di rumah. Mereka masih bisa mengejar karir setinggi yang mereka inginkan.

Rasa bimbang di hati sirna ketika kamu melihat anakmu tumbuh sehat dan dekat denganmu.

Foto via wajibbaca.com


Semua kebimbanganmu sirna ketika anakmu tumbuh menjadi anak yang pintar dan punya karakter baik. Dia menjadi anak yang baik dan penuh kasih sayang. Semua berkar limpahan waktu dan kasih sayang darimu. Kamu sadar bahwa dialah, si buah hati, sumber kebahagaiaanmu, bukan karir setinggi langit.

Keputusan ini juga membuatmu punya banyak waktu bersama pasanganmu. Dia pun semakin sayang padamu.

Foto via wajibbaca.com


Selain pada si buah hati, keputusanmu juga memberi efek positif bagi suamimu. Ingat, di balik pria sukses selalu ada wanita yang tangguh. 

Kamu punya banyak waktu untuk mengurus semua kebutuhannya, menjadi teman diskusi, bahkan tetap menjadi partner romantis di rumah. Hal yang tidak akan bisa kamu lakukan ketika kamu kecapean sepulang kerja.

Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia. Kamu menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Foto via wajibbaca.com

Ibu adalah inti keluarga yang akan menentukan arah perkembangan penerus keluarga. Kualitas seorang ibu akan menentukan kualitas anak yang dididiknya. Dengan menjadi Ibu rumah tangga, kamu telah mengabdikan dirimu bagi masa depan anakmu kelak, agar ia menjadi pribadi yang cerdas dan bermoral baik hingga dia bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi negara dan bangsa.



Foto via wajibbaca.com

Semoga bermanfaat dan bisa memilih mana yang tepat dan terbaik untuk kita dan keluarga kita, apapun itu pilihannya semoga keluarga tetap bahagia dan rumah tangga tetap langgeng tak ada masalah Aamiin.....
Top