Kisah Kejujuran Seorang Anak Ketika Ditanya Cita-Citanya

Komentar

Ilustrasi diolah wajibbaca.com via pribuminews

Kejujuran seorang anak ini mengajari kita agar berbuat lebih baik lagi...

Bagaimana bisa anak sekecil ini mempunyai cita-cita sebegitu wahnya...

Sebelum lanjut ada cerpen pendek yang bisa anda baca dari polosnya seorang anak...

Kisah seorang siswa SD saat ditanya gurunya tentang cita-cita..

Bu Guru: "Budi, apa cita - citamu?"
Budi: "Saya pengen jadi Direktur Pertamina Bu, sama seperti Bapak Saya"
Bu Guru: "Baguuss, oh jadi Bapakmu Direktur Pertamina yah... Hebattt ...!
Budi: "Bukan Bu ... Bapak Saya juga kepengen ..."
Bu Guru: 🤦

Ok sudah dulu, ini kisah yang sebenarnya...

Seorang netizen di forum kaskus menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan anak kecil masih SD yang menjual koran di perempatan. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, mereka juga memiliki cita-cita. Namun apa yang menjadi tujuan anak tersebut sungguh membuat siapapun sontak kaget, ia ingin menjadi koruptor. Berikut transkrip percakapan lengkapnya:

Jadi gini ceritanya, beberapa minggu yang lalu sewaktu saya lagi di perempatan jalan sambil nungguin lampu merah nih. Kebetulan saya lihat seorang anak SD lagi jualan koran walaupun dari segi penampilan kelihatannya dia bukan dari keluarga yang kurang mampu. Kalo saya prediksi, mungkin ini anak masih seusia anak kelas 2 atau 3 SD. Dalam hati saya salut kepada anak ini. 'Mungkin buat cari tambahan uang saku di hari libur kali ya', kata hati saya.


Ilustrasi via thetanjungpuratimes

Tapi bukankah hal semacam ini tidak diperbolehkan? Mengingat 'Anak dibawah usia 17 tahun dilarang untuk bekerja". Tapi saya gak peduliin itu dan tetap dengan rasa salut buat itu anak. Saya coba mendekat ke si anak penjual koran itu dengan dalih mau membeli koran sekaligus mau bertanya tentang keadaannya.

Jadi gini percakapannya (seingatnya aja ya)
Saya = T
Anak SD = A
T : dek, korannya berapa?
A : 6ribu pak
T : Iya dek, saya beli 1
Saat itu saya langsung bayar harga korannya pake uang 10rb. dan ketika si anak memberikan uang kembalian ke saya. Saya baru bertanya lagi.

T : Dek, kamu jualan koran disuruh siapa dek?
A : Saya sendiri pak yang minta, kebetulan tetangga saya agen koran sama majalah.
T : Jadi kamu sendiri yang minta? kan ini hari libur. kok gak main sama temen-temenmu saja kamu ini.
A : Enggak pak, ini saya nggak sendiri kok. itu disana ada teman saya juga (sambil nunjuk di sisi lain perempatan jalan).

Saat ini juga saya merasa tertarik dan ikut duduk di trotoar bersebelahan dengan si anak tersebut.

T : Wah, saya kira sendiri. lah terus uang hasil kamu ini kamu mau buat apa?.
A : Buat uang saku saya liburan pak, karena di hari libur bapak enggak kasih uang saku.
Selama 20 menit saya ngobrol sama ini anak, ternyata dia berjualan koran tidak hanya di hari libur, di hari sekolah pun dia masih berjualan. Tapi tidak sampai jam setengah 7 saja.
dan yang mengejutkan adalah pertanyaan terakhir yang saya ajukan

T : Oh, terus cita-citamu apa dek? Kan sayang sekali kalo cuma diselesaikan di SMA saja (dari sini mungkin anda sudah paham keadaannya).

A : Saya ingin kuliah pak, karena saya kalo jualan gini sempat baca juga. Saya ingin jadi Koruptor pak. Hampir setiap hari diliput di koran. Kerjanya cuma tidur dapat uang banyak, terus gak perlu jualan koran kaya begini.

Saya gak habis pikir, dari sini saya beri penjelasan kalo Korupsi itu ga baik. Makan uang rakyat. Disini juga ane tertegun. Kok bisa ya? anak sekecil ini mengerti hal seperti itu. Tapi ane menyadari juga kalo dia setiap hampir setiap hari bawa koran. Pastilah sekali-dua kali melihat berita seperti itu. Sesaat itu pula saya minta pamit dari si anak tersebut mengingat sudah waktunya saya berangkat bekerja

Selama di kantor, saya terus berpikir. Mengingat bahwa pada zaman kecil dulu yang namanya cita-cita pasti kalo ga Polisi, Guru, Tentara, Dokter, tapi mengapa sampai itu anak bermimpikan ingin menjadi seorang Pejabat yang Korupsi?
Top