Bukti Terungkap, Bocornya Data Facebook Juga Karena Kelakuan Penggunanya

Komentar

Foto via kumparan.com

50 Juta data pengguna facebook disalah gunakan.

Beberapa hari ini, dunia maya yang riuh makin ramai bicarakan soal pencurian data 50 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat.

Terbongkar data itu “dicolong” dan dipergunakan untuk keperluan pemilu di Amerika Serikat 2016 lalu.

Hal ini harus diwaspadai para pengguna facebook karena hal ini bisa terjadi karena kelakuan Anda sendiri

Nama Cambridge Analytica mendadak viral selama sepekan terakhir ini. Perusahaan konsultan analisis data itu tenar bukan karena suatu prestasi, melainkan kasus penyalahgunaan data milik 50 juta pengguna Facebook.

Semua data tersebut dipakai Cambridge Analytica untuk memenangkan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat di tahun 2016 lalu.

Baca juga : Viral, Tangki 60 Lt Diisi 78 Lt, Ini Cara Cerdas Agar tak Dicurangi Saat isi BBM di SPBU

Telah mengumpulkan semua informasi terkini seputar skandal Cambridge Analytica ini. Kamu bisa membaca informasi-informasi di bawah ini untuk melengkapi pengetahuanmu tentang kasus yang turut mencoreng nama Facebook.

Siapa Cambridge Analytica?


Cambridge Analytica. (Foto: Cambridge Analytica)

Cambridge Analytica merupakan perusahaan konsultan analisis data asal Inggris yang dibangun pada 2013 lalu. Ia adalah anak usaha dari Strategic Communication Laboratories (SCL Group).

Orang kunci dari Cambridge Analytica adalah Alexander Nix (42) yang bergabung ke SCL Group pada 2003 setelah menyelesaikan studi di Manchester University. Dari sini Nix mulai membangun jaringan bisnis politik.

Sebagai perusahaan analisis data, tentu saja Nix dan rekan-rekannya melakukan cara-cara digital untuk mencapai target para klien, termasuk lewat media sosial.

Christopher Wylie si Whistleblower


Christopher Wylie. (Foto: Reuters/Henry Nicholls)

Kasus ini mungkin tidak akan pernah terungkap, jika Christopher Wylie tidak membocorkan 'rahasia penting perusahaannya' ke publik.

Kepada The Guardian dan New York Times, Wylie secara terang-terangan mengungkap perannya serta Cambridge Analytica dalam kampanye Trump pada 2016 lalu.

“Kami mengeksploitasi Facebook untuk menghimpun jutaan profil pribadi milik orang-orang. Setelah itu, kami menciptakan beberapa sistem untuk mengeksploitasi apa yang kami ketahui tentang mereka dan menarget 'sisi gelap' dari diri mereka. Itu adalah tujuan awal dari dibangunnya perusahaan kami,” aku Wylie.

Pada 2013, Wylie bertemu dengan Nix dari SCL Group, dan kemudian ikut berperan membangun
Cambridge Analytica. Di sana Wylie menjabat sebagai Director of Research.

Baca juga : Ternyata Seperti ini Maksud Dessy, Muslimah yang Merawat 115 Anjing

50 Juta Data Pengguna Facebook Didapat dari Aplikasi Kuis


Kantor Facebook. (Foto: AFP/Daniel Leal-Olivas)

Cambridge Analytica dilaporkan telah menyalahgunakan data pengguna Facebook sejak awal 2014 untuk menciptakan sebuah program perangkat lunak yang dapat digunakan untuk memprediksi dan mempengaruhi pemilih AS. Sistem peranti lunak yang mereka ciptakan mampu menjejali lini masa 50 juta pengguna Facebook dengan iklan-iklan politik.

Semua data tersebut Cambridge Analytica peroleh dari seorang akademisi lain yang juga berasal dari Cambridge, Aleksandre Kogan.

Kogan, lewat perusahaan miliknya Global Science Research, menyiasati masalah data itu dengan menciptakan sebuah aplikasi tes kepribadian: 'thisismydigitallife'.

Lewat uji kepribadian itu, setiap orang yang melakukan tes tanpa disadari setuju untuk memberi akses kepada Kogan untuk mengakses profil Facebook mereka.

Data dari Kogan ini kemudian dimanfaatkan Wylie dan Cambridge Analytica untuk mengidentifikasi individu atau kelompok yang dapat dijadikan target pemasaran.

Bantu Trump dalam Kampanye Pemilu AS 2016


Ilustrasi Facebook dan Amerika Serikat. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Untuk memanfaatkan jutaan data menjadi mesin propaganda politik mematikan, Cambridge Analytica memproses data dari puluhan juta pengguna Facebook AS dengan mesin algoritma mereka untuk mencari pola psikologi tertentu.

Misal, seorang yang menyukai Kim Kardashian cenderung punya kepribadian yang terbuka, sangat teliti, dan punya pikiran yang agak terbuka.

Kemudian mereka yang menyukai film Fight Club, dinilai punya kepribadian yang lebih suka tantangan baru, dibanding seseorang yang suka menonton American Idol.

Dengan kemampuan membaca kepribadian dan aspek psikologi seseorang semacam itu, Cambridge Analytica bisa mengidentifikasi cara persuasi politik macam apa yang efektif digunakan sesuai dengan kepribadian mereka.

Atau pesan politik macam apa yang bisa menarik mereka memilih salah satu calon. Pendekatan politik seperti ini dikenal dengan istilah micro-targeting.

Iklan dengan respons publik paling ramai kemudian dikembangkan dan diredistribusi kembali menjadi propaganda atau iklan di hari-hari berikutnya.

Dengan begitu, data Cambridge Analytica tentang rekam jejak digital, dan tentu saja soal karakter psikologi pemilih di Amerika jadi kian presisi.

Respons Amerika Serikat dan Inggris


Ilustrasi Facebook di Amerika Serikat. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Aparat penegak hukum di Amerika Serikat telah mendengar soal kasus ini. Jaksa Agung Negara Bagian Massachusetts, Maura Healey, berkata pihaknya akan segera memulai investigasi atas terbongkarnya kasus pencurian data tersebut.

Komisi Informasi Kerajaan Inggris, The United Kingdom’s Information Commission, pada Sabtu (17/3) juga mengumumkan pihaknya akan segera memulai proses investigasi terhadap Cambridge Analytica.

Baca juga : Hukum Ganti Kel√£m1n dalam Islam Tanpa Alasan Kesehatan

Gus Dur, Indonesia, dan Cambridge Analytica


Peringatan tujuh tahun kepergian Gus Dur (Foto: Reuters)

Nama Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur) disebut-sebut pernah menggunakan jasa Cambridge Analytica.

Hal itu diketahui dari sejumlah publikasi ilmiah dan pemberitaan internasional.

Indonesia sendiri disinggung dalam situs resmi CambridgeAnalytica.org, sebagai salah satu negara yang pernah menjadi kliennya.

Konsultan analisis data itu mengklaim pernah berkiprah pada pemilu tahun 1999.

Dalam berita yang diturunkan The Independent pada Rabu (21/3), disebutkan bahwa tokoh kunci di balik Cambridge Analytica, Nigel Oakes, pernah bekerja sebagai konsultan di Jakarta untuk Abdurrahman Wahid.

Artikel The Independent  itu sebetulnya merujuk pada artikel yang terbit pada 5 Agustus 2000. Kala itu, kontributor The Independent bernama Richard Lloyd Parry membeberkan uraian tentang Gus Dur yang menggunakan jasa SCL antara tahun 1999-2000. Parry juga turut mendeskripsikan betapa canggihnya kantor SCL di Jakarta.

Facebook Blokir Akun Christopher Wylie dan Cambridge Analytica 


Cambridge Analytica. (Foto: Twitter @CamAnalytica)

Setelah adanya pemberitaan ini, soal peran Wylie dan Cambridge Analytica dalam kampanye Trump di 2016 lalu, akun Facebook Wylie diblokir. Selain itu, Facebook juga telah menangguhkan aktivitas Cambridge Analytica setelah menemukan kebijakan data pribadi mereka dilanggar.

Dengan penangguhan tersebut, Cambridge Analytica dan korporasi induknya, Strategic Communication Laboratories (SCL), sudah tidak dapat menampilkan iklan atau mengelola akun milik klien mereka.

Mark Zuckerberg: Saya Mohon Maaf


Mark Zuckerberg. (Foto: AFP/Rodrigo Buendia)

Skandal Cambridge Analytica, yang menyalahgunakan 50 juta data pengguna Facebook, memaksa CEO Mark Zuckerberg angkat bicara. Melalui akunnya, ia meminta maaf dan menyesali kesalahan yang telah dibuat perusahaannya.

Zuckerberg berjanji akan melakukan sejumlah langkah untuk melindungi data pengguna dan memperbaiki masalah yang ia sebut telah merusak kepercayaan antara Facebook dengan penggunanya.

6 Langkah Facebook Cegah Kebocoran Data


Perusahaan media sosial Facebook. (Foto: Dado Ruvic/Reuters)

Ada enam langkah yang sudah disiapkan Zuckerberg dan Facebook untuk mencegah terjadinya kebocoran dan penyalahgunaan lain di masa yang akan datang.

Pertama, Facebook akan memeriksa semua aplikasi yang memiliki akses atas informasi dalam jumlah besar di layanannya, sebelum mereka mengubah kebijakan di tahun 2014 untuk mengurangi akses terhadap data.

Mereka juga melakukan audit secara menyeluruh terhadap setiap aplikasi dengan aktivitas mencurigakan.


Kedua, Facebook bakal memberikan informasi kepada penggunanya yang terdampak dari penyalahgunaan data oleh aplikasi tertentu. Hal ini termasuk menyediakan cara bagi mereka untuk mengetahui apakah data miliknya telah diakses melalui "thisisyourdigitallife".

Perusahaan akan menonaktifkan akses untuk aplikasi yang sudah tidak digunakan pengguna selama tiga bulan terakhir, termasuk membatasi data yang dapat diakses melalui Facebook Login.


CEO Facebook, Mark Zuckerberg (Foto:  jamesrobertwatson.com)

Facebook saat ini telah menampilkan aplikasi apa saja yang terhubung dengan akun penggunanya, juga memberikan kendali atas data apa saja yang diizinkan untuk dipakai aplikasi tersebut.

Ke depannya, Zuckerberg ingin peraturan itu berada di bagian atas linimasa Facebook agar lebih mudah ditemukan pengguna.

Terakhir, agar layanannya lebih aman dari celah-celah yang bisa dieksploitasi pihak tidak bertanggung jawab, Facebook akan mengembangkan program Bug Bounty, yang memungkinkan pengguna Facebook untuk
melaporkan adanya penyalahgunaan data yang dilakukan oleh pengembang aplikasi.

#DeleteFacebook Menggema




Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX. (Foto: REUTERS/Monica Almeida)

Seruan #DeleteFacebook yang mengajak publik menghapus akun Facebook, mencuat setelah ada kabar bahwa data 50 juta pengguna Facebook disalahgunakan oleh Cambridge Analytica untuk memenangkan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016.

Kampanye hapus akun Facebook itu semakin besar setelah beberapa nama penting di industri teknologi ikut serta mendorong #DeleteFacebook, mulai dari CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk hingga salah satu pendiri WhatsApp Brian Acton.

Musk bahkan sudah menghapus dua laman resmi perusahaannya yang masing-masing telah memiliki 2,6 juta pengikut di Facebook.
Top