Belum Bisa Jadi Imam yang Baik Jika Suami Sengaja Melupakan Ibunya dan Lebih Memilih Istri

Komentar

Sumber gambar islampos.com

Seringkali kita melihat, ada seorang ibu tinggal sendirian di rumahnya yang nyaris tak pernah dijenguk atau dikunjungi oleh anak-anaknya. 

Padahal, anak-anak dan menantunya hidup enak dalam kemuliaan, kemudahan dan kekayaan.


Bila Anda merasa belum memuliakan orangtua, ini wajib anda baca.

Tuntutan seorang pria setelah menikah ia harus memikul tanggung jawab yang besar.

Diantaranya tanggung jawab kepada istri, sebab seorang perempuan jika sudah dinikahi maka sepenuhnya tanggung jawab kepada suaminya.

Hal ini berbeda dengan peran seorang suami walaupun ia sudah menikah statusnya tetap berkewajiban untuk menafkahi orang tua dan keluarganya.

Bagaimana Jika Suami Lebih Mengutamakan Istri dan Melupakan Ibunya

Ketika dewasa dan telah berkeluarga, banyak di antara kita yang malah lupa dan mengabaikan ibu kita. Banyak di antara kita yang setelah dewasa menjadi durhaka kepada ibu dan malah takut kepada istri.

Apabila yang demikian itu telah terjadi, maka sesungguhya ini adalah tanda-tanda hari kiamat, yaitu ketika seseorang durhaka kepada ibunya dan lebih dekat serta takut kepada istrinya untuk melawan dan mendurhakai ibunya atau ayahnya sendiri. Fenomena ini sudah terjadi dewasa ini.

Seringkali kita melihat, ada seorang ibu tinggal sendirian di rumahnya yang nyaris tak pernah dijenguk atau dikunjungi oleh anak-anaknya. Padahal, anak-anak dan menantunya hidup enak dalam kemuliaan, kemudahan dan kekayaan.

Pada saat itu, andai ibu atau ayah tinggal bersama anak-anak mereka, kehidupan orang tua ini tidak akan mendapat perhatian atau perawatan, seperti yang diberikan anak-anak mereka kepada orang lain.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila harta rampasan perang (al-Fai’) hanya dibagikan di kalangan orang-orang kaya, seorang suami takut kepada istrinya dan durhaka terhadap ibunya, dan seseorang lebih dekat kepada temannya daripada ayahnya sendiri,” (HR. Tirmidzi. Mata rantai periwayatan hadits ini lemah).

Hikmah yang dapat kita petik dari permasalah seperti ini

Seorang suami yang bijak seharusnya bisa menuntun istrinya agar sadar dan mengerti bahwa seorang laki-laki meskipun sudah menikah, tapi masih punya kewajiban mengurus ibunya. Istri yang baik tidak akan melarang suaminya berbuat baik kepada orang tuanya. Seyogyanya, seorang istri membantu suaminya dengan cara memberi dorongan dan peluang kepadanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Tidak perlu takut, kalau suami memberi uang kepada ibunya, lantas rejekinya istri akan berkurang. Yakinlah, dengan rahmat-Nya, Allah akan melipat gandakannya.

Dengan seperti itu,seorang istri akan mendapat pahala kebaikan pula. Sebaliknya, jika istri menghalang-halangi suami berniat baik, maka ia akan mendapat dosa. Dan begitu pula dengan sang suami yang lebih memperhatikan Istrinya daripada Ibunya maka pertanggung jawaban akan semakin berat dengan dua hal

"Tidak Bisa Menjadi Suami Yang Dapat Memimpin Keluarga Yang Sejatinya Ada Pada Diri Seorang Laki-laki, Kedua Meninggalkan tanggung jawab untuk mengurus Ibu yang melahirkan"

Semoga Anda para suami bisa menjadi panutan anak yang Allah amanahkan, dan menjadi "IMAM" dalam keluarga untuk menjadikan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Dan untuk para "ISTRI" jangan pernah merasa kasih sayang Suami Anda hilang karena Ibu, ingat lah pada diri Anda saat Anda menjadi Ibu dihari tua nanti, Anak Anda Lupa akan diri Anda akrena sikap Anda yang serakah untuk menguasai Suami. Kemudian penderitaan suami di alami oleh anak Anda, yang takut sama Istri, Saat sakit Anak Anda tidak mengurus Anda karena takut pada Istrinya, Apa yang akan Anda lakukan? mohon di renungkan kembali bagi para suami dan para Istri. 
Top