Belajar dari Kasus Istri Opick, Kenali Gejala dan Penyebab Keguguran yang Kerap Terjadi

Komentar

foto diolah wajibbaca.com via tribunnews.com

Istri kedua opick meninggal setelah keguguran...

Bukan hanya janinnya saja yang meninggal karena keguguran, Sang Ibu juga beresiko mengalaminya.. 

Sebagai contoh yang dialami oleh istri Opick

Sebelum hal ini terjadi, kenali gejala dan penyebabnya berikut ini agar bisa ditangani...

Wulan Mayangsari, istri Aunur Rofiq Lil Firdaus atau lebih dikenal dengan nama Opick meninggal dunia.

Wulan menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (19/3/2018).

Bukan meninggal usai melahirkan seperti yang diberitakan, ternyata istri Opick meninggal dunia usai menjalani pemulihan pascakeguguran dua bulan lalu.

Ustaz Derry Sulaiman mengungkapkan hal itu kepada sebuah media. Ia menyebutkan bahwa dua bulan lalu, Wulan mengalami keguguran.

Untuk kasus Wulan Mayasari belum ada penjelasan secara resmi. Tapi dalam beberapa kejadian meninggalnya ibu setelah keguguran, salah satu penyebabnya adalah sepsis atau infeksi darah karena tubuh bereaksi hebat terhadap bakteri atau mikroorganisme lain. 

Baca Juga : Penyebab Keguguran yang Paling Sering Terjadi dan Banyak Dilanggar Tanpa Disadari

Untuk dipahami bersama, Bun, berakhirnya kehamilan disebut keguguran jika terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu.

dr Katharine Wenstrom, profesor kebidanan dan ginekologi di Universitas Brown menjelaskan kondisi yang mengancam jiwa ibu terkait keguguran sebenarnya bukan hal yang langka. Ini karena infeksi sangat umum terjadi.

Infeksi lebih besar lebih mungkin terjadi jika seorang ibu hamil melakukan aborsi ilegal. Risiko ini juga lebih besar terjadi jika seorang ibu nggak sadar dirinya keguguran. "Infeksi bisa mempengaruhi sistem dan semua jaringan," terang dr Katharine

MENGENAL GEJALA DAN PENYEBAB KEGUGURAN



Sekitar 15-25 persen kehamilan berakhir dengan keguguran. Paling sering terjadi saat perempuan yang bersangkutan belum tahu dirinya hamil. Sekitar 15-25 pers kehamilan yang diakui akan berakhir dengan keguguran.

Baca Juga : "Jangan makan durian, nanas dan pepaya muda saat hamil, jika tak ingin keguguran"

Selain itu Bun, lebih dari 80 persen keguguran terjadi dalam tiga bulan pertama kehamilan. Apabila keguguran terjadi setelah kehamilan 20 minggu, maka kondisi ini disebut keguguran terlambat.

Nah, berikut ini beberapa informasi tentang keguguran yang mungkin belum Bunda ketahui sebagaimana dikutip haibunda.com

Gejala 

Beberapa gejala keguguran lainnya seperti diinfokan WebMD adalah:
  • 1. Pendarahan yang berkembang dari ringan ke berat 
  • 2. Kram yang parah di bagian bawah perut 
  • 3. Nyeri perut 
  • 4. Demam 
  • 5. Mual dan muntah yang tidak terkendali 
  • 6. Sakit punggung 
  • 7. Kelelahan
Kalau mengalami gejala di atas, segera hubungi penyedia layanan kesehatan kebidanan ya, Bun.

Baca Juga : Waspadai Kekentalah Darah Penyebab Sulit Hamil Dan Keguguran Pada Wanita

Penyebab Keguguran


foto via theasiaparent.com

Ada banyak penyebab seseorang mengalami keguguran Bun, meski biasanya penyebabnya tidak teridentifikasi.

1. Trimester Pertama

Kalau keguguran terjadi pada trimester pertama kehamilan (tiga bulan pertama), biasanya karena masalah pada janin (janin). Kebanyakan keguguran pada trimester awal karena kromosom abnormal pada bayi, Bun.

Baca Juga : Keguguran Hingga 18 Kali, Ketika Usia 48 Tahun Wanita ini Alami Hal Tak Terduga, Bikin Mewek

Kromosom merupakan "blok pembentuk" genetik atau blok DNA yang membimbing perkembangan bayi. Kromosom itu mengandung serangkaian instruksi terperinci yang mengendalikan berbagai faktor, dari bagaimana sel-sel tubuh berkembang hingga warna mata yang akan dimiliki bayi.

2. Trimester Kedua

Jika keguguran terjadi pada trimester kedua kehamilan (antara minggu 14 hingga 26), ini mungkin akibat kondisi kesehatan dasar pada ibu.

Keguguran terlambat ini bisa disebabkan infeksi di sekitar janin, yang menyebabkan kantung air ketuban pecah sebelum muncul rasa sakit atau pendarahan. Dalam kasus yang jarang terjadi, juga dapat disebabkan oleh leher rahim yang membuka terlalu cepat.

Keguguran pada trimester kedua kadang terjadi karena ada kelemahan serviks, disebut serviks yang tidak kompeten, sehingga tidak bisa menahan kehamilan.

Biasanya ada beberapa gejala sebelum keguguran yang disebabkan insufisiensi serviks. Seorang ibu mungkin merasakan ada tekanan mendadak, air ketuban pecah, serta jaringan dari janin dan plasenta dapat dikeluarkan tanpa banyak rasa sakit.

Baca Juga : Saat Kerabatmu Sedang Keguguran, Kalau Bisa Jangan Ucapkan 5 Kalimat ini Padanya

3. Masalah Plasenta

Plasenta adalah organ yang menghubungkan suplai darah ibu ke bayinya. Jika ada masalah dengan perkembangan plasenta, itu juga bisa menyebabkan keguguran, Bun.

4. Keguguran Berulang 

Banyak peremuan yang mengalami keguguran khawatir akan keguguran lagi. Kebanyakan keguguran dialami seorang perempuan satu kali dan kehamilan selanjutnya sukses.

Namun Sekitar 1 dari 100 perempuan mengalami keguguran berulang (tiga atau lebih berturut-turut). Penyebabnya ada berbagai macam, mungkin bisa:

1. Infeksi
2. Kondisi medis pada ibu, seperti diabetes atau penyakit tiroid
3. Masalah hormon
4. Terkait sistem kekebalan tubuh
5. Masalah fisik pada ibu
6. Kelainan uterus

Baca Juga : Rahasia Keguguran yang Jarang Diketahui, Salah Satunya Allah Gantikan Surga Kepada Mereka

Seorang perempuan memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi jika dia:
1. Hamil di atas 35 tahun 
2. Memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes atau masalah tiroid 
3. Telah mengalami tiga atau lebih keguguran.

HAL-HAL YANG BISA TINGKATKAN RESIKO KEGUGURAN


foto via ohayo.co.id

1. Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas

Semakin tua usia ibu mengandung, semakin besar pula risiko keguguran yang mungkin terjadi. Data menyebut pada perempuan yang hamil di bawah usia 30 tahun, keguguran terjadi pada satu dari 10 kehamilan.

Baca Juga : Sebuah Surga Allah Saat Ibu Keguguran

Sedangkan pada perempuan berusia 35-39 tahun, 2 dari 10 kehamilan berakhir dengan keguguran. Nah, pada perempuan di atas 45 tahun, lebih dari separuh kehamilan berakhir dengan keguguran.

2. Kegemukan

Sampai sekarang, tidak ada bukti yang menunjukkan menurunkan berat badan selama kehamilan bisa menurunkan risiko keguguran. Tetapi makan makanan sehat dan melakukan kegiatan sehat seperti berjalan dan berenang baik untuk ibu hamil.

Lagipula kegemukan saat hamil bisa mengundang penyakit seperti diabetes gestasional maupun preeklampsia.

3. Merokok Saat Hamil

Racun-racun yang masuk ke tubuh melalui asap rokok, bisa membahayakan janin dan meningkatkan risiko keguguran.

Baca Juga : Mitos, Ibu Hamil Makan Nangka Bisa Mengalami Keguguran, Benarkah ?

4. Penggunaan Zat Terlarang dan Alkohol

Nekat mengonsumsi zat terlarang bisa membahayakan kehamilan. Misalnya jika ibu hamil mengonsumsi sabu, bisa mengurangi aliran darah plasenta. Hal ini dapat menyebabkan hipoksia janin, yakni jumlah oksigen yang tidak mencukupi pada janin.

Keguguran bisa saja terjadi, atau bisa menyebabkan kelahiran prematur, berat badan yang kecil saat kelahiran, dan berbagai 'Neonatal Abstinence Syndrome' lainnya semisal kejang, muntah, diare, atau suhu tubuh yang tidak stabil.

6. Kondisi Kesehatan Tidak Baik

Sejumlah kondisi kesehatan yang tidak baik bisa meningkatkan risiko keguguran. Apa sajakah masalah kesehatan tersebut?
  • Diabetes yang tidak terkontrol
  • Tekanan darah tinggi
  • Lupus
  • Penyakit ginjal
  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Infeksi seperti rubella (campak jerman), cytomegalovirus, bakteri vaginosis, HIV, klamidia, gonorrhea, dan sipilis
  • Keracunan makanan yang disebabkan makan makanan yang terkontaminasi, juga bisa meningkatkan risiko keguguran.


7. Masalah di Rahim
Masalah dan kelainan dengan rahim juga dapat menyebabkan keguguran di trimester kedua kehamilan. Berbagai masalah di rahim yang bisa meningkatkan keguguran seperti
pertumbuhan non-kanker di rahim atau fibroid, rahim yang berbentuk tidak normal, serta serviks lemah.

Oh ya Bun, ada beberapa kesalahpahaman tentang keguguran. Peningkatan risiko keguguran tidak terkait dengan:

1. Keadaan emosi ibu selama kehamilan, seperti stres atau depresi

2. Mengalami shock atau ketakutan selama kehamilan

3. Olahraga selama kehamilan. Tetapi ada baiknya mendiskusikan dengan dokter terkait jenis dan jumlah latihan yang sesuai untuk ibu hamil.

5. Bekerja selama kehamilan

6. Berhubungan seks selama kehamilan, kecuali jika ada masalah seperti plasenta previa.

7. Bepergian melalui udara

8. Makan makanan pedas
Top