Balasan Pedih Bagi Suami yang Tak Memperhatikan Istri Saat Hamil, Tapi Malah Perhatikan Ibunya

Komentar

Foto via islampos.com

'Bahkan Saat Hamil, Aku Tidak Mendapat Perhatian Suamiku'

Saat istri hamil seharusnya memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih, tapi kenyataaanya apa seorang suami cenderung lebih cuek, dan ada yang malah memberi perhatian pada ibu disaat sedang hamil, padahal menyakiti hati istri itu balasannya pedih lho.

Mual, muntah, pegal di punggung bawah, hingga ngidam, umum dirasakan pada ibu hamil. Di saat-saat seperti ini rasanya senang banget kalau diperhatikan sama suami. Sayangnya, seorang wanita ini, mengaku tidak pernah mendapatkannya.

Baca juga : Tak Hanya Poligami yang Sunnah Rasul. ini 15 Sunnah Rasul untuk Para Suami

"Aku tidak mendapat perhatian dari suamiku,"

Saat hamil, ia hanya jalan-jalan pagi di sekitar rumah sendiri. Pun di akhir pekan, ketika suaminya libur bekerja, ia tetap jalan pagi sendiri.

Mual, muntah, ngidam, ke pasar, ataupun ke dokter untuk cek kehamilan pun dihadapi dan dilakukannya sendiri.

Dia dan suaminya memang menikah karena perjodohan. Namun sepertinya pepatah Jawa 'witing tresno jalaran soko kulino' tidak berlaku dalam kehidupan mereka.

Mereka masing-masing masih sama-sama merasa asing, menyimpan sendiri hal-hal yang sulit diungkapkan pada pasangan.

"Kalau lihat orang rasanya ngiri gitu. Istri hamil di anter kemana-mana, jalan pagi ditemenin, dimanja. Ini buru-buru, ngelahirin aja sendirian,"

Hal ini dikarenakan suami yang lebih memilih ibunya ketimbang merawat saya, entah apa karena kita dijodohkan.

Balasan apa yang didapat jika suami seperti ini ?

Adapun hukum suami yang membuat istrinya menangis.atau suami yang menyakiti hati istrinya sampai istrinya menangis hukumnya adalah haram.

 Firman allah Swt."orang-orang yang menyakiti hati mukmin laki-laki dan menyakiti mukmin perempuan tanpa perbuatan yg mereka lakukan.maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.(Qs.al-ahzab:84).dalam sebuah hadistpun dijelaskan.dari abu hurairah RA rasulullàh SAW bersabda "3oràng  yang haq bagi allah untuk menolong mereka yaitu:1).orang yg menikah dan mengharapkan penjagaan dari perbuatanmaksiat.2).budak yang menginginkan untuk melunasi uang untuk pembebasannya.3).orang yang melakukan jihad fi sabilillah.

Baca juga : Ada Tetangga Pinjam Uang Didepan Nangis-Nangis, Saat Ditagih Marah-Marah, Kasih aja Pelajaran ini

  Suami adalah imam yang memiliki kedudukan penting dalam rumah tangga suami bertugas untuk mencari nafkah. 

Dengan kedudukan tersebut tidak jarang para suami yang tidak menghargai posisi istrinya.apalagi jika seorang istri tidak bekerja hanya mengurus rumah tangga dan anaknya saja.

Para suami kerap melakukan perbuatan yang seenaknya kepada istri.padahal menyakiti hati istri adalah tindakan yang dapat menutup rizki suami.

Sehingga rizki suami menjadi seret.membahagiakan istri adalah kunci terbesar untuk membuka pintu rizki yang lebar.

Pertengkaran dalm rumah tangga yg dapat membuat istri menangis karena sakit hati jelas dapat menutup jalan rizki suami hal ini bisa anda buktika dalam kehidupan nyata.terlebih untuk para suami yng suka menyalahkan tindakan istrinya.

 Demikian penjelasn tetang hukum suami melukai hati istri dan larangan allah melukai hati istri.

Hak yang paling primer seorang istri adalah kehangatan dari suaminya.

Imam Baqir  pernah berkata, “Barangsiapa menikahi seorang perempuan maka wajib baginya memuliakannya, sebab istri seseorang dari kalian adalah sarana kebahagiaan kalian. Oleh karena itu istri tidak boleh direndahkan dan dirusak dengan mengabaikan hak-haknya untuk mendapat pemuliaan.”[Bihar al Anwar, jilid 103, hal. 224)

Baca juga : Istri Sudah Cantik, Tapi Mengapa Wanita Jelek Lain Terlihat Lebih Cantik? Cuma 4 Solusinya

Ada dua dosa yang disegerakan azabnya oleh Allah SWT kata Nabi, al-baghyu dan durhaka kepada orangtua.

Apa al baghyu itu? Al baghyu adalah berbuat zalim dan sewenang-wenang, menindas dan menganiaya orang lain. Dan al baghyu yang paling dimurkai adalah zalim terhadap istri sendiri.

Diantara bentuk al Baghyu adalah menelantarkan istri dengan tidak memberikan nafkah, menyakiti dan meremukkan hatinya, merampas kehangatan cintanya, melecehkan dan merendahkan kehormatannya, mengabaikan keinginan-keinginannya, menyingkirkannya dalam pengambilan keputusan dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama kita.

Tidak sedikit dari kita yang menjadi saksi mata akan bukti nyata ampuhnya hadits Nabi tersebut, bahwa mengabaikan hak istri akan disegerakan azabnya.

Nauzubillah.

Kita bukan hendak membicarakan suami yang berselingkuh, suami yang kurang pemberian nafkahnya, atau suami yang tidak menarik penampilannya.

Tapi suami yang tidak mampu memberikan kehangatan kepada istrinya. Banyak yang mampu memberikan istriya kemewahan dan hidup yang serba mudah, namun amat sedikit yang bisa membagi kehangatan pada istrinya.

Padahal diantara kebutuhan istri yang paling primer adalah kehangatan suami. Banyak istri yang bisa bertahan dengan suaminya yang chasingnya biasa-biasa saja.

Tidak sedikit juga istri yang rela dengan uang belanja dari suami yang pas-pasan. Tapi istri akan sangat menderita dan tersiksa batinnya jika tidak memperoleh kehangatan dari suaminya.

Banyak rumah tangga yang dibangun diatas kemegahan dan kemewahan melimpah namun akhirnya hancur lebur, sementara tidak sedikit rumah tangga meskipun dililit kesulitan ekonomi namun bisa bertahan hingga akhir. Jawabannya adalah adanya kehangatan yang terus tumbuh.

Suami setelah menikah memang memiliki peran dan tanggung jawab yang lebih besar. Diantaranya adalah peranan dan tanggung jawab nya kepada istrinya.

Baca juga : Bun, Siapa Allah itu?, Dimana Allah? Seperti apa Allah? ini Jawaban Singkat yang Harus Bunda Katakan

Karena seorang istri apabila sudah menikah maka sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab suami.

Berbeda dengan seorang suami, suami walaupun sudah menikah ia tetap berkewajiban untuk menafkahi orang tuanya. Karena orang tua adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW:

Artinya: “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya”. (HR. Muslim)

Dari hadis tersebut jelas bahwa ibu adalah tanggung jawab anak laki-laki (suami).

Bagaimana kehangatan itu bisa dilahirkan, dipupuk  dan ditumbuhkan? Modal cinta tidak akan pernah cukup.

Harus dibarengi dengan kesadaran yang terus dijaga, bahwa perempuan dinikahi untuk dimuliakan dan diagungkan hidupnya.

Untuk diajak hidup bahagia bersama. Termasuk suami yang aniaya jika membiarkan istri menderita dan meneteskan airmata karena tidak mendapatkan kehangatan dari suaminya.

Nabi sampai ‘kehilangan malu’ untuk menyerukan, kecup bibir istrimu, (bahkan dalam Shahih Bukhari disebutkan saling menggigit bibirlah),  remas jarinya, berhubungan intimlah minimal empat hari sekali (hukumnya sunnah, jangan terlalu dipaksakan), manjailah, bercandalah, ucapkan kata-kata mesra, bilang I love you padanya dan seterusnya yang intinya dapat melahirkan kehangatan dalam rumah tangga.

Mengapa kehangatan dalam rumah tangga itu penting? Dari rumah tangga yang sehat, hangat dan harmonis akan lahir individu-individu masyarakat yang akan membangun kehidupan sosial menjadi lebih baik.

Saking pentingnya keharmonisan dan kehangatan dalam rumah tangga, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib  sampai menulis surat kepada Malik al-Asytar dengan menasehatkan,

“Pilihlah pegawaimu dari orang-orang yang berasal dari rumah tangga yang harmonis, dan disana mereka mendapat pendidikan.” (Nahjul Balaghah, surat ke 53)

Mari membangun rumah tangga yang harmonis dimulai dari kesadaran tidak terhormatlah seorang laki-laki yang tidak mampu menghormati perempuan, sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi.

Hormati istri kita, agungkan, muliakan, jangan abaikan haknya untuk memperoleh kehangatan dan kebahagiaan, jangan rampas cintanya, jangan patahkan hatinya, jangan hancurkan harapannya untuk terus hidup bahagia bersama kita.

Istri orang lain? biar suaminya sendiri yang mengurusinya. Perempuan yang belum bersuami? Insya Allah akan ada laki-laki lain yang lebih baik dari kita yang akan mendatanginya.

Jangan terlalu pede merasa satu-satunya laki-laki yang paling baik sedunia.

Salah satu tanda adanya peningkatan iman, adalah semakin besarnya perhatian dan kepedulian terhadap istri. [Bihar al Anwar, jilid 103, hal. 228].
Top