Bukti Banyak Orang Tua yang Jadi Racun dan Perusak Mental Anaknya, Baca Faktanya

Komentar

Foto via wajibbaca.com

Orang tua yang baik gak pernah nuntut balas budi atau mengharapkan sesuatu dari anaknya.

Saat ini banyak orangtua yang demikian....

Anak berhak dilahirkan dalam keluarga bahagia yang mencintai mereka seutuhnya.

Kenyataannya, banyak anak tumbuh dengan orang tua yang destruktif dan dalam lingkungan yang tidak stabil.

Wanita ini membuka pikiran para orangtua agar memutuskan rantai toxic yang selama ini banyak terjadi pada anak dan berefek buruk pada anak...

Lebih buruk lagi, tidak semua orang tua menyadari, perlakuan mereka pada anak dapat merusak fisik dan mental anak. Perlakuan seperti inilah yang memicu istilah toxic parents.

Toxic berarti mengandung racun. Istilah toxic parents tidak hanya ditujukan kepada orang tua dengan perilaku buruk seperti melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap anak.

Baca juga : Suami Tak Harus Memberitahukan Hal-Hal ini Kepada Istrinya

Seperti yang baru-baru ini viral, nama Gabriel Gertruida menjadi bincangan netizen pasalnya telah membuat sebuah pemikiran yang merubah dan menginspirasi semua orangtua.

Ia ingin semua orangtua tau bahwa toxic parents banyak dilakukan tapi tidak ada yang memutuskan tali toxic yang berpengaruh buruk pada anak dengan perlakuan orang tua yang tidak adil

Toxic parents juga dialamatkan kepada orang tua dengan tindakan yang dapat meracuni kondisi psikologis dan emosional anak.

Ini lebih berbahaya, karena toxic parents jenis ini tidak kasat mata. Dari luar, mereka terlihat seperti orang tua normal.

Mereka memenuhi kebutuhan fisik anak, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti fisik anak, dan menginginkan yang terbaik untuk anak.

Kebanyakan pola perlakuan orang tua terhadap anak, dituntut harus seperti mereka, seperti yang mereka mau.

Sehingga untuk mewujudkan hal itu mereka melakukan toxic pada anaknya yang justru merusak. sikap atau perlakuan orang tua dan dampaknya terhadap kepribadian anak, perilaku buruk orang tua terhadap anak

Gabriel memposting beberapa foto yang berisi tentang orangtua yang toxic, dan bagaimana cara memutuskan tali toxic, karena apa yang orangtua kita lakukan pada kita saat ini pastinya kita akan menerapkan hal yang sama pada anak kita.

Berikut penjelasan dari Gabriel :



Menghormati orangtua itu wajib apalagi dalam agama memang sudah dijelaskan bahwa menghormati orangtua itu harus dan wajib membahagiakannya juga.

Lalu bagaimana jika orangtua tidak menghormati atau menghargai anak ? pantaskah anak juga tidak menghormatinya karena orantua adalah teladan bagi anak.

Tidak seperti itu, tetap kita tetap harus menghormati orangtua, bagaimanapun itu orangtua kita. Tapi rasa kesal yang diperoleh dari orangtua tak gampang begitu saja dilupakan oleh anak

Karena orangtua toxic tidak menyakiti fisik, namun mental





Anak berhak dilahirkan dalam keluarga bahagia yang mencintai mereka seutuhnya. Kenyataannya, banyak anak tumbuh dengan orang tua yang destruktif dan dalam lingkungan yang tidak stabil.

Anak harus bahagiakan orangtua itu salah..., karena waktu anak lahir orangtua sudah bahagia.

Bukan anak dituntut untuk membahagiakan orangtua nantinya

Tapi gak semua “kebahagiaan” yg diinginkan orgtua itu berdasarkan ego & kebutuhannya aja loh. Banyak juga yg ternyata kebahagiaannya adalah melihat anaknya hidup tanpa kesusahan (gak seperti jaman orgtuanya yg apa-apa susah), makanya orangtua sering ngatur-ngatu hidup anaknya (beresin pendidikan lah, gak restuin pacarnya lah, dll

Baca juga : Ibu Rumah Tangga Bukan Profesi Sepele, ini 5 Pahala Melimpah Seorang Ibu






Belom siap punya anak udah sembarangan bikin anak. Ironisnya banyak yg gak sadar dan udh termakan sama siklus ini. Anak ga sesuai kemauan orang tua langsung dibilang durhaka. Belom lagi tak durhaka tapi dibilang durhaka sampe disumpahin orang tuanya.

Orangtua yang gagal belum bisa bahagia banyak terjadi malah membebankan anaknya.








Pola pikir orangtua rata-rata ingin dan menuntuk anaknya sesuai dengan apa yang ia mau. Henya demi kebahagiaanya sendiri.

Anak harus bahagiakan orangtua itu salah, karena saat anak lagi orangtua sudah bahagia

Jika ortu menuntut anak disiplin tanggung jawab bahkan berprestasi semata-mata demi masa depan anak. Karena orangtua ingin kehidupan anaknya lebih baik

Salah satu pengalam dari netizen yang dibagikan Gabriel : 













Baca juga : 10 Solusi Hilangkan Rasa Putus Asa Karena Cobaan Hidup yang Terlalu Berat

Memutuskan rantai toxing dengan menjadi orangtua yang baik untuk anaknya tidak meneruskan rantai toxic dari orangtuanya dulu : 

































Postingan asli dari Gabriel : 



Sebagai manusia, orang tua pun tidak luput dari kesalahan. Untuk itu kami mengingatkan, perbuatan apa saja yang tanpa disadari membuat Anda masuk dalam kategori toxic parents?

1. Membuyarkan impian 

    “Untuk apa jadi musisi? Lebih baik kamu pilih sekolah kedokteran atau penerbangan, titik.” Jika Anda memaksakan anak untuk mengubah cita-cita sesuai kehendak Anda, berarti Anda toxic parents. Tanpa disadari Anda membuyarkan impian, melemahkan semangat, dan menurunkan kepercayaan diri anak.
Jika cita-cita anak ternyata berbeda dengan harapan Anda, kompromilah. Ada, lo seorang teman SMA kami yang berhasil jadi dokter, tetapi tetap menekuni profesi DJ. Sikap kompromistis tidak hanya akan menghindari konflik antara orang tua dan anak, tetapi akan menerbitkan solusi yang menguntungkan semua pihak.

2. Menyela ucapan

    “Tidak ada tapi-tapi, pokoknya kalau Mama bilang A, ya harus A.” Saat berdiskusi dengan anak, Anda menganggapnya sebagai pertarungan debat. Setiap ada ketidaksepahaman, Anda cenderung mendebat dan memotong ucapan anak. Tahukah Anda rasanya dituntut selalu mendengarkan tetapi tidak pernah didengarkan? Sakitnya, tuh di sini (tunjuk ke dada). Anak yang merasa tidak nyambung saat bicara, berdiskusi, apalagi curhat kepa\da orangtua akan cenderung mencari kenyamanan dari orang lain di luar rumah. Yakin, Anda siap diduakan dengan sahabat atau pacar anak?

3. Menghambat kemandirian    

    Anak ingin makan sendiri, tidak boleh karena takut berantakan. Anak ingin mandi sendiri, dilarang karena takut terpeleset. Anak ingin pilih baju sendiri, Anda marah karena membuat lemari berantakan. Jangan terus menganggap anak sebagai bayi. Seiring bertambahnya usia, kemampuan hidup anak meningkat. Berikan kepercayaan bagi mereka, yang perlu Anda lakukan hanya mengawasi dan memberi bantukan ketika dibutuhkan.

Membicarakan keburukan anak di depan orang lain
    Bahkan ucapan sesepele “waduh, anakku, sih paling susah disuruh bangun pagi” termasuk dalam kategori membicarakan keburukan anak. Anak juga punya harga diri. Membicarakan keburukan anak di depan orang lain, apalagi didengar langsung anak adalah perbuatan yang melukai hati, meruntuhkan kepercayaan diri, menumbuhkan sifat rendah diri, dan mempermalukan. Berhati-hatilah saat membicarakan soal anak kepada orang lain. Jagalah privasi anak seperti Anda ingin privasi pribadi Anda terjaga rapi.

4. Mengungkit kesalahan

    Ketika anak berbuat salah dan telah menyadari kesalahannya, tidak perlu terus mengungkit. Namun tanpa disadari orang tua melakukannya. Misalnya, ketika anak jatuh karena berlari-larian meski telah diperingatkan. Tidak perlu menambah sakit fisiknya dengan sakit batin karena Anda mengoceh, “Makanya, sudah tahu enggak boleh lari-larian, kenapa malah lari?” Jangan jadikan kesalahan anak sebagai ajang memperburuk situasi. Tanpa Anda ocehkan pun anak tahu perbuatannya salah. Pilih kalimat positif, misalnya, “Sudah, sini jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh lagi.”

Semoga bermanfaat
Top