Tanpa Disadari, Ternyata Banyak Orang Tua yang Jadi "Toxic Parent", Ini Sangat Buruk

Komentar

Sumber gambar digikashmir.in

Karena toxic parents jenis ini tidak kasat mata. Dari luar, mereka terlihat seperti orang tua normal. 

Mereka memenuhi kebutuhan fisik anak, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti fisik anak, dan menginginkan yang terbaik untuk anak. 

Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi, melindungi dan menyediakan yang terbaik untuk anaknya. Selazimnya begitulah peranan orangtua terhadap anak-anaknya.

Namun banyak anak tumbuh dengan orang tua yang destruktif dan dalam lingkungan yang tidak stabil.

Lebih buruk lagi, tidak semua orang tua menyadari, perlakuan mereka pada anak dapat merusak fisik dan mental anak. Perlakuan seperti inilah yang memicu istilah toxic parents.

Toxic berarti mengandung racun. Seperti yang dikutip dari life.idntimes.com istilah toxic parents tidak hanya ditujukan kepada orang tua dengan perilaku buruk seperti melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap anak.

Toxic parents juga dialamatkan kepada orang tua dengan tindakan yang dapat meracuni kondisi psikologis dan emosional anak. Ini lebih berbahaya, karena toxic parents jenis ini tidak kasat mata. Dari luar, mereka terlihat seperti orang tua normal.

Mereka memenuhi kebutuhan fisik anak, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti fisik anak, dan menginginkan yang terbaik untuk anak.

1. Terjebak dalam pikiran negatif

Orang tua memiliki kecenderungan terjebak di dalam pikiran mereka sendiri.

Bagi toxic parents, perilaku ini dapat menyebabkan respon yang negatif pada anak mereka.

Jeffrey Bernstein, seorang pakar psikologi anak mengatakan bahwa pikiran orang tua sering menjadi akar perilaku negatif pada anak-anak.

2. Selalu menaruh curiga pada teman bermain mereka

Setiap kali si kecil membawa teman mereka pulang ke rumah, ekspresimu seolah mengeluarkan kritik tentang teman-temannya.

Toxic parents selalu menaruh curiga dan mengkritik teman bermain anak-anaknya.

Tanpa terlebih dahulu berusaha mengenali latar belakang teman-temannya.

3. Selalu membandingkan si kecil dengan orang lain

Salah satu perilaku terburuk dari toxic parents adalah membandingkan seorang anak dengan teman-teman atau bahkan dengan saudara kandungnya.

Mungkin maksudmu adalah untuk memotivasi anak agar berbuat baik sama dengan mereka.

Namun, yang harus kamu tahu perbandingan bukanlah suatu motivasi melainkan hal yang akan merusak harga diri anak-anak.

4. Tidak membiarkan mereka mandiri

Bagi orang tua, menyaksikan anak mereka tumbuh besar dan mandiri merupakan satu kebanggaan tersendiri.

Namun bagi toxic parents proses ini justru menjadi hal yang dapat menghambat pertumbuhan anak secara alami.

Anak-anak harus mulai diberi tugas-tugas sendiri pada usia tertentu.

Dengan mengekang atau melarang mereka bertindak justru akan meninggalkan pesan bahwa kalian menganggap mereka kurang berkompeten dalam suatu hal.

BACA JUGA Bagaimana Jika Ibu yang Selama Ini Anda Benci Meninggal

5. Untuk dihormati, mereka ditakuti.

Semestinya, wibawa lah yang membuat seseorang dihormati dengan sendirinya. Bukannya menciptakan rasa takut agar dihormati. Banyak orangtua yang berlindung di balik kata 'disiplin'. Nyatanya justru anak-anak menjadi takut dan ketakutan itu yang menjauhkan hubungan orangtua-anak.

Jika ini terus berlanjut, komunikasi yang buruk akan terjadi dan anak-anak tak akan berani menceritakan masalah-masalah mereka kepada orangtua. Hubungan semakin menjauh.

6. Membicarakan keburukan anak di depan orang lain

Bahkan ucapan sesepele “waduh, anakku, sih paling susah disuruh bangun pagi” termasuk dalam kategori membicarakan keburukan anak. Anak juga punya harga diri.

Membicarakan keburukan anak di depan orang lain, apalagi didengar langsung anak adalah perbuatan yang melukai hati, meruntuhkan kepercayaan diri, menumbuhkan sifat rendah diri, dan mempermalukan. Berhati-hatilah saat membicarakan soal anak kepada orang lain.

Jagalah privasi anak seperti Anda ingin privasi pribadi Anda terjaga rapi.

7. Mereka tidak memperbolehkan anaknya menunjukkan emosi negatif.

Mereka melarang anak-anaknya untuk marah. Satu-satunya yang boleh marah dan menangis adalah orangtua. Sementara mereka sendiri tak berusaha menunjukkan sisi emosi yang positif.

Padahal, menyalurkan emosi negatif itu diperlukan semua manusia untuk meringankan depresi. Jika hal ini terjadi di masa kecil, tak menutup kemungkinan di saat dewasa sang anak menjadi sulit mengontrol emosi negatifnya dan malah justru berbahaya.
Top