Seperti Iniloh Umi, Cara Menasihati Remaja Muslim yang Nabi Contohkan

Komentar

Sumber gambar panjiandalas

Terlalu keras mendidik anak akan seperti tertekan dan menjauh, terlalu memanjakannya membuatnya tak mandiri. Terlebih di zaman sekarang yang dengan segala kemudahan akses informasi. Bagaimana menasihati remaja kita?

Masa remaja adalah masa pembangkangan, masa ketika anak merasa orang tua terlalu mengekang dan terlalu banyak membuat aturan. Jika dari kecil belum dikenalkan dengan syariat Islam, maka meminta mereka mematuhi syariat pada masa ini akan terasa sulit. Padahal pada masa remaja atau masa dimana mereka telah aqil baligh maka mereka kini telah bertanggung jawab sendiri atas segala amal pebuatannya.

Masa remaja seringkali membuat orang tua bingung. Terlalu keras mendidik anak akan seperti tertekan dan menjauh, terlalu memanjakannya membuatnya tak mandiri. Terlebih di zaman sekarang yang dengan segala kemudahan akses informasi. Bagaimana menasihati remaja kita? Suri teladan terbaik kita Nabi Muhammad Shalallahu, ‘alaihi wa Sallam telah memberikan panduannya.

Suatu kali ada seorang pemuda datang dan meminta izin Rasulullah untuk berzina. Bayangkan! Minta izin berzina! Jika kita yang menghadapi pemuda tersebut kita tentu sudah marah-marah. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasakan hal yang sama.

Mereka langsung menyuruh si pemuda untuk diam dan menghardiknya. Namun, apa yang dilakukan Rasulullah, ia tetap tenang dan kemudian Rasûlullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah”.

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk. Setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberi pertanyaan yang mudah dicerna dan dijawab dengan cara berpikir si pemuda. Pertanyaan itu tentang apakah jika si pemuda rela jika ibunya dizinai. Atau ketika anak perempuannya esok hari dizinai. Atau ketika saudari perempuannya dizinai. Atau ketika bibinya dizinai. Dan tentu saja jawaban pemuda tersebut, “Tidak.” Ia tidak rela.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan sang pemuda sambil meletakkan tangan beliau di dada sang pemuda. (Hadits riwayat Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).

BACA JUGA Suasana Haru Pemakaman 3 Anak yang Meninggal Akibat Racun Serangga, Begini Kondisi Ibunya


Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Rasulullah tersebut seperti yang dikutip dari bersamadakwah;

1. Sabar. Tidak mudah terpancing emosi, bahkan ketika yang dilakukan anak secara akal orang dewasa adalah sesuatu yang luar biasa tidak beradab atau keterlaluan.

2. Menasihati dengan posisi dekat dan kondisi tenang. Bukan menasehati sambil mengomel apslagi dilakukan sambil mondar-mandir ke sana kemari. Belum lagi disambi pekerjaan lainnya. Posisi dekat juga memungkinkan kita memandang wajah anak dan menatap matanya. Kondisi tenang agar anak lebih mudah mencerna yang kita katakan.

3. Mengajaknya berpikir dan merenung sesuai tingkat akalnya. Tidak menggunakan bahasa yang tinggi atau sulit dipahami anak.

4. Menyentuh badan anak. Hal ini berguna untuk menarik perhatian dan konsentrasinya. Pun juga si anak merasa kita tetap menyayanginya. Karena secara alami, saat orang merasa kesal atau tidak suka dengan sesuatu, tidak ingin bersentuhan dengannya. Dengan ini kita pun harus berusaha melawan ego dan rasa risih itu. Menyentuhnya bisa juga dengan cara memeluknya.

5. Mendoakan kebaikan untuk si anak. Dengan ini, anak in sya Allah bertambah rasa cintanya kepada orang tua dan semakin menyadari bahwa orang tuanya memang mencintainya dan tetap menyayanginya walaupun ia telah melakukan kesalahan.

Nampaknya sederhana dan mudah, namun kadang kita suka lupa dengan sikap pertama yang harus ditunjukkan, yaitu bersabar dan tenang. Mari terus memperbaiki diri dan menghadapi anak-anak kita dengan sabar dan tenang tidak mengedepankan emosi. 
Top