Pamornya Tak Kalah dari Zaadit, ini 6 Fakta Presma ITB yang Tuai Pujian Warganet

Komentar
Foto via tribunstyle.com

Bukan Zaadit, tapi Presma ini yang jadi perhatian

Bukan Zaadit Taqwa yang berhasil curi perhatian penonton Mata Najwa  (7/2), namun dua mahasiswa ini yang bikin netizen salut dengan pernyataan mereka.
Presiden Mahasiswa  (Presma) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berhasil membuat netizen kagum dengan pernyataannya selama acara debat Mata Najwa, berikut ini beberapa fakta menarik dari Ardhi Rasy Wardhana.

Beberapa waktu yang lalu, publik sempat dihebohkan dengan aksi Zaadit Taqwa, Presiden BEM Universitas Indonesia, yang mengacungkan kartu kuning kepada Presiden Jokowi.

Kejadian tersebut berlangsung di Balairung Universitas Indonesia.

Baca juga : Sudah Habis Rp. 500 Juta untuk Oplas, Malah Menderita, Tapi Setelah 3 Bulan Hasilnya Bikin Melongo

Saat itu Zaadit sampai harus diamankan oleh Paspampres.

Menanggapi hal ini, Presiden Jokowi menganggap hal itu biasa, mahasiswa bisa saja menyampaikan pendapatnya dan ada kemungkinan untuk mengirim Mahasiswa UI ke Asmat.

"Namanya aktivis, muda yan gnamanya mahasiswa, dinamika seperti itu biasa lah." katanya.

Dalam acara Mata Najwa episode Kartu Kuning Jokowi, lima perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus diundang untuk menyampaikan pendapatnya.

Mereka adalah Zaadit Taqwa selaku ketua BEM UI, Ardhi Rasy Wardhana Presiden Keluarga Mahasiswa ITB, Obed Kresna Widyapratistha Presiden Mahasiswa UGM, Qudsyi Ainul Fawaid Ketua BEM IPB, dan Gafar Revindo Presiden Mahasiswa Trisakti.

Saling tukar pendapat antara para mahasiswa dengan para petinggi negara terjadi, dengan didampingi oleh Najwa Shihab tentunya.

Namun bukan pernyataan Zaadit Taqwa yang mencuri perhatian penonton, melainkan pernyataan cerdas dari dua mahasiwa dari UGM dan ITB.

Selain Obed Kresna Widyapratistha, ketua BEM UGM yang mencuri perhatian, ada juga Presma ITB, Ardhi Rasy Wardhana.

Beberapa pernyataan Ardhi Rasy dianggap cerdas oleh para netizen di sosial media.

Ardhi sempat menanggapi pernyataan Staff Kepresidenan, Moeldoko, terkait pencapaian Presiden.

"Kartu kuning ini hanyalah simbol peringatan bahwa tidak hanya tiga isu tersebut yang menjadi permasalahan. Yang kedua, jika mengatakan tentang legitimiasi moral, pak kami dari mahasiswa ITB ketika ada masalah tentang kereta api cepat, kami ada di sana memperjuangkan hal tersebut. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan apakah tuntutan kami dijalankan atau tidak," paparnya.

Ia menambahkan, "Jadi menurut saya, tidak relevan ketika dibilang legitimasi moral tanpa melihat data-data yang ada karena kami di sini ITB melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan. Inikan mengecilkan seakan-akan kita tidak memiliki legitimasi moral seperti itu."

Baca juga : Lahirkan Diatas Gerobak, Bayi ini Penuh Tanah dan Pasir, Hingga Mau Dijual Karena ibu Depresi

Orasi dan pernyataan Ardhi pun mencuri perhatian netizen dan dianggap lebih berbobot dibanding beberapa pernyataan Zaadit dalam diskusi malam itu.

Kalian pasti penasaran dong dengan fakta menarik dari Presma ITB ini.

Dilansir dari Tribunstyle.com, simak berikut ini enam fakta menarik dari Ardhi Rasy Wardhana, Presma ITB 2017/2018.

1. Kelahiran 1995



Ardhi tercatat sebagai Mahasiswa ITB Jurusan Teknik Tambang 2013.

Ia adalah pria kelahiran 8 Mei 1995.

Ardhi merupakan anak bungsu dari dua bersaudara.

2. Berjiwa nasionalis sejak kecil



Kedua orang tuanya berasal dari kalangan patriot militer. Ayahnya seorang penerbang TNI Angkatan Udara dan ibunya adalah perawat di matra yang sama.

Latar keluarga militer membuat Ardhi tumbuh dengan jiwa nasionalis yang tinggi.

Prinsip NKRI harga mati sering ia dengar.

Bagi Ardhi, anggota keluarga yang paling berjasa dalam memupuk rasa nasionalisme Ardhi adalah ibunya.

Ketika duduk di bangku SMP, ibunya menjadi Kepala Subdirektorat Pengkajian Politik di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas).

Karena jalan menuju sekolah Ardhi dan kantor ibunya searah, ia pun berangkat sekolah bersama dengan ibunya.

Di perjalanan, ibunya sering mengajak Ardhi berbincang mengenai isu kenegaraan yang tengah terjadi.



Melalui quality time antara ibu dan anak tersebut, terpupuk rasa nasionalisme dalam diri Ardhi.

Namun pada tahap ini, yang dirasakan Ardhi masih berupa hasil doktrin, bukan hasil penelusuran sendiri.

Semuanya berlanjut di bangku SMA.

Di bangku SMA ia masuk ke organisasi Perwakilan Kelas, Ardhi berkenalan dengan dasar-dasar birokrasi dan legislasi.

Dengan bergabung ke komunitas pecinta alam, Ardhi melihat berbagai wilayah Indonesia, keindahan serta polah manusianya.

Persis seperti yang ia baca di buku-buku Soe Hok Gie, kecintaannya terhadap Indonesia semakin bertambah begitu ia berinteraksi langsung dengan panorama ibu pertiwi.

Segala proses pembelajaran dari kecil inilah yang mengukuhkan perasaan dan pandangan Ardhi terhadap negaranya.

Baca juga : Belajar dari Semangat Anak ini yang Buat Kita Malu, Meski Dalam Kesusahan Masih Menghafal Al-Qur'an

3. Gemar membaca



Ardhi mengaku memiliki hobi membaca, olahraga dan diskusi.

Buku-buku bergenre kenegaraan, sosial politik dan kepemimpinan adalah yang dipilih Ardhi sebagai menu santapannya.

Tak selamanya Ardhi bergumul dengan pemikiran bapak bangsa seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir.

Ia menjadikan buku-buku novel fiksi seperti The Alchemist karya Paulo Coelho hingga Harry Potter gubahan J.K. Rowling sebagai selingan bacaannya.

4. Sudah pernah bertemu Jokowi



Tanpa kartu kuning seperti Zaadit, Ardhi berkesempatan berbincang dengan Jokowi dan memberikan hasil kajiannya.

Kajian itu berhasil disampaikan Ardhi pada bulan Desember 2017 lalu.

5. Bisa bermain alat musik



Belum lama ini, kampus Ardhi mengadakan Pesta Rakyat.

Ia terlihat memainkan alat musik di acara kampus tercintanya ini.

Makin lengkap deh ya.

Baca juga : Megap-Megap Dalam Kantung Plastik, Balita ini Dihukum Ibunya Untuk Alasan Kedisiplinan

6. Jiwa Aktivis



Dilansir Tribunstyle.com dari laman resmi ITB, hanya berbekal buku-buku Soe Hok Gie yang telah dibaca sebelumnya, Ardhi mantap meyakini bahwa menjadi mahasiswa yang ideal adalah yang melakukan aktivisme.

Aktivisme yang ia yakini bukanlah menjadi pejabat kampus, melainkan menjadi orang yang selalu peduli dan aktif melakukan sesuatu untuk mengubah kondisi sekitarnya menuju keidealan yang orang itu yakini.



Bagi Ardhi, aktivis adalah orang-orang yang selalu gelisah dan giat berusaha memberi kontribusinya kepada lingkungan sekitarnya. Adapun berbagai tanggung jawab yang pernah ia emban selama mengenyam pendidikan di ITB hanyalah sebagai alat baginya untuk berkontribusi.

Ardhi baru segelintir generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan tak sungkan untuk ikut terjun demi negeri Indonesia ini, bagaimana dengan kalian guys?

Semoga bermanfaat....tak perlu izin jika mau dishare...

NB: 

1. Karena terlalu banyak yang mencopy copywrityng kami. Sebelum copy, izin dulu, setelah dapat izin sertakan link wajibbaca.com.

2. Kalau nggak melakukan point nomor satu INGAT DOSA.
Top