Bermacam Mitos Ngeri Tentang Gerhana Sejak Zaman Nabi, China, Jepang Hingga Jawa

Komentar

Foto diolah via wajibbaca.com dari berbagai sumber

Adakah yang masih percara mitos gerhana?

Dijawa sendiri melekat mitos-mitos yang dipercayai orang jawa jaman dahulu hingga sekarang, bukan hanya jawa, tapi sejak jaman Nabi pun sudah ada dan tak kalah ngeri mitos yang bertebaran.Bagaimana di daerah anda mitos apa yang masih melekat tentang gerhana?

Gerhana merupakan sebuah peristiwa alam yang jarang terjadi. Gerhana juga merupakan salah satu tanda kemahakuasaan Allah SWT. Baik gerhana matahari maupun gerhana rembulan.

Pada tanggal 14 Jumadil Awal 1439 Hijriah atau yang bertepatan dengan tanggal 31 Januari 2018, seluruh wilayah di Indonesia akan mengalami gerhana bulan total.

Gerhana bulan sebagian dimulai pada pukul 18.48 WIB. Sementara gerhana bulan total dimulai pada pukul 19.52 dan berakhir pada pukul 21.11 WIB.

Baca juga : Kebanyakan Terjadi, Bolehkah Perempuan Menjadi Saksi Dalam Pernikahan?

Peristiwa gerhana di beberapa tempat masih dimaknai sebagian masyarakat dengan mitos-mitos tertentu dan hal tersebut sangat dipercayai kuat.

Di Jepang, misalnya, sebagian masyarakatnya mempercayai gerhana karena sedang terjadi peristiwa racun yang disebarluaskan di muka bumi. Agar air tidak mengalami kontaminasi, masyarakat menutup sumber air (sumur) mereka.

Di China, masyarakatnya mempercayai gerhana terjadi karena seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah, lalu menelannya.

Di Jawa, ada yang beranggapan gerhana bulan terjadi karena Batara Kala atau raksasa jahat sedang memangsa bulan. Kemudian masyarakat akan memukul kentongan secara ramai-ramai ketika terjadi gerhani untuk menakut-nakuti dan mengusir raksasa jahat.

Bagi wanita yang sedang hamil jangan sekali-kali keluar dari rumah, Mereka disuruh masuk ke bawah ranjang tempat tidur. Masyarakat kejawen masih meyakini bahwa Batara Kala akan memakan janin yang dikandung ibu hamil jika pada waktu gerhana tidak bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Di masyarakat Arab, ketika itu masih dalam zaman jahiliyah, suku Quraisy selalu menganggap bahwa peristiwa gerhana terjadi karena adanya kematian atau kelahiran seseorang.

Putra Nabi SAW yang bernama Ibrahim meninggal dunia. Peristiwa meninggalnya bersamaan dengan terjadinya gerhana. Sehingga sebagian orang Arab mengaitkan gerhana dengan kematian tersebut.

Baca juga : Buat Apa Rajin Ibadah, Sedekah Dan Pandai Ngaji, Kalau Hidup Miskin?

Mitos-mitos tersebut tentu saja tidak berdasar dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (saintik).

Saat menyampaikan khutbah, setelah selesai sholat gerhana, Nabi SAW menegaskan, “Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari banyak tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan bukan karena hidup atau matinya seseorang.

Karena itu, apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah. Bertakbirlah, laksanakanlah sholat gerhana dan bersedekahlah.” (HR. Muttafaq alaih)

Semoga kita tidak terjebak dan terbelenggu dengan pemikiran-pemikiran yang mengancam akal sehat.

Wallahu a’lam.

Top