Suami Suka Marah Karena 4 Faktor ini, Begini Cara Islami Ademkan Suami Pemarah

Komentar


Ibarat air menembus batu karang, kekerasan harus dihadapi dengan kelembutan. 

Demikianlah tugas seorang istri ketika menghadapi suami yang temperamental. 

Istri mau tidak mau harus memberikan role model kesabaran, ketangguhan dan ketahanan mental yang luar biasa.

Jadi, langkah pertama agar pernikahan tetap langgeng memang harus sabar. Kita tidak boleh tertular untuk jadi pemarah juga.

Justru karena kita mencintainya, tentu kita ingin membantunya keluar dari sikap temperamental tersebut.

Mencintai akan sangat susah bagi seseorang. Tapi bila dicintai dengan tulus dan sepenuh hati, cinta akan tumbuh di hati dengan sendirinya. Perasaan dan logika harus berjalan dengan imbang, agar dapat menemui titik atau benang merah dari suatu masalah tanpa adanya pertikaian yang menuju ke arah temperamen,” saran Kasandra seperti yang dikutip dari ruangmuslimah.co.

Langkah berikutnya adalah kita harus belajar mengenali hal-hal yang sering memicu suami kita marah. Ada empat hal yang biasanya menjadi pemicu suami kita mudah tersulut emosinya.

1. Tegurannya pada suatu hal yang menurutnya penting, tidak kita pedulikan.

2. Ketika kita mencurigai hal-hal yang tidak dilakukannya.

3. Ketika kita selalu mengungkit-ungkit kesalahan kecil.

4. Menyinggung masalah yang menyentil egonya.

Nah, jika faktor pemicu marahnya sudah kita kenali kita akan lebih mudah untuk mencegah amarahnya meledak. Namun, jika pun meledak juga, kita akan lebih mudah terkendali karena sudah mengerti kemana arah kegusarannya. Agar komunikasi dapat tetap berjalan lancar dan suasana tidak bertambah keruh, trik-trik komunikasi berikut dapat kita lakukan ketika menghadapi ledakan emosinya.

Sabar, Kenali, dan Lakukan Trik Komunikasi

Sabar adalah perbuatan yang amat sulit dan membutuhkan perjuangan keras, karena seseorang yang berusaha sabar berarti ia telah memikul beban yang sangat berat di pundaknya.

Tidak ada yang kuat memikul beban tersebut melainkan orang yang betul-betul mengenal Allah. Karenanya, Allah U memberikan pahala yang begitu besar kepada orang-orang yang sabar.

Allah berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar :10)

Bijak dalam memberi nasihat

Setelah berusaha sabar, maka langkah berikutnya adalah sang istri berusaha memberi nasihat suaminya. Yang perlu diingat, tidak semua orang yang ingin memberi nasihat tahu bagaimana cara memberi nasihat, sehingga betapa banyak kalimat baik hanya menjadi penghalang kebaikan hanya karena salah penyampaian kalimat tersebut. Dari sini, ada beberapa adab yang diperhatikan istri ketika ingin menasihati suaminya, antara lain :

1. Meluruskan niat saat menasihati

Yaitu hanya karena mengharap wajah Allah, ia betul-betul mengharapkan kebaikan dari orang yang ia nasihati, bukan hanya karena ingin tersohor karena dikatakan istri yang shalihah, bukan karena ingin membuka aib dan mencela suami, dan juga bukan karena balas dendam.

Dikatakan niat istri lurus jika ia dalam menasihati jika ia dalam menasihati ingin melaksanakan perintah Allah, karena besarnya kasih sayangnya kepada suami, dan ingin kebenaran menang mengalahkan kebatilan dan keburukan.

2. Lemah lembut dalam memberi nasihat

Memberi nasihat adalah menginginkan kebaikan pada orang yang akan diberi nasihat. Jika yang akan diberi nasihat berbuat salah, tentunya kita ingin dia menyadari kesalahannya, dan hal ini sulit tercapai jika tidak dibarengi kelemah lembutan dalam memberi nasihat. Apalagi yang diberi nasihat adalah suami yang merupakan pemimpin baginya, suami yang kedudukannya lebih tinggi darinya, sehingga kelemah lembutan dalam memberi nasihat sebuah keharusan.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menegaskan,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah lemah lembut mengiringi sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan berubah menjadi buruk.” (Diriwayatkan oleh Muslim 16/493)

3. Memilih waktu dan tempat yang tepat

Tidak kalah penting dari sebelumnya dalam memberi nasihat adalah memilih waktu dan tempat yang tepat. Tidak semua perkataan yang ingin diucapkan seseorang itu harus diucapkan saat itu juga. Ia harus memperhatikan waktu dan tempat yang tepat. Karena kemungkinan suami belum siap karena sedang dalam masalah lainnya, atau di tempat yang memang tidak tepat untuk memberi nasihat. Jika dilaksanakan, justru akan memperkeruh keadaan.

4. Memberi kesempatan suami untuk mengubah diri

Mengubah watak dan perilaku seseorang tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Perubahan perilaku membutuhkan waktu dan proses. Sehingga, istri harus menambah kesabaran untuk menanti perubahan dari suaminya.

5.Berdoa kepada Allah dan bertawakal

Setelah berupaya dengan segenap tenaga yang ia miliki, ia pun harus sering berdoa memohon kepada Allah agar suaminya diberi hidayah. Karena semua qalbu manusia itu di tangan Allah, Allah membolak balikkan qalbu seseorang sesuai kehendak-Nya. Setelah itu, ia pun menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dengan tawakal yang sebenar-benarnya, Allah akan menjadi penolongnya.

Bila suasana sudah tenang dan kita dapat sama-sama berpikir jernih, mulailah bicara.

Usahakan jangan memaksakan diri untuk langsung menyelesaikan masalah dalam sekali perbincangan. Bila sudah cukup lelah, kita bisa melanjutkan esok hari. Tapi, jangan membiarkan masalah terlalu lama menggantung.

Jika masalah berlarut dan komunikasi menjadi terhambat, jangan putus untuk berdo’a kepada Allah karena Dia-lah yang Maha Membolak-balikkan hati
Top