Rumah Tangga yang Sakinah Hanya Bisa Terwujud Jika Lakukan 5 Syariat ini

Komentar

Foto via tribunnews.com, Keluarga yang sakinah

Ingin rumah tangga selali sakinah?

Rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah sudah pasti diinginkan setiap pasangan, namun apa saja faktor yang mendukung terwujudnya keluarga yang sakinah itu?

Setiap pasangan ingin rumah tangga yang sakinah. Lalu, apa itu sakinah? Secara sederhananya sakinah berarti tenang, tentram, damai, harmonis, indah dan bahagia, sebagaimana dikutip dari ruangmuslimah.com

Baca juga : Suami Meminum ASI Istrinya, Benarkah Haram dan Status Pernikahan Jadi Hilang?

Lalu bagaimana agar terwujud rumah tangga yang sakinah?

1. Dengan kelembutan dan kasih sayang

Menciptakan keluarga yang seperti itu harus dengan kelembutan, pada dasarnya kelembutan itu terdapat pada setiap orang,namun jika kelembutan itu tidak diterpkan maka Allah akan mencabut kelembutan itu.
Sehingga Nabi bersabda: ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Thabrani dalam al Mu’jam al Kabir, Shahihul Jaami’ no. 896)

Sehingga tidak elok ketika rumah tangga selalu dihiasi dengan kemarahan, dan Nabi mewasiatkan agar kita tidak menjadi orang yang pemarah,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhari]

2. Jangan Hiasi Rumah Tangga Dengan Kebohongan

Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga.

Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur.

Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka.

 Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta. [HR. Bukhari dan Muslim. Lafal di atas adalah lafal Bukhari]

Kebohongan mengantarkan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan itu mengantarkan kepada neraka.
Oleh sebab itu jadilah orang yang siddiq tanpa ada kebohongan di dalam kehidupan berumah tangga,agar tercipta kebahagiaan di dalamnya.

Baca juga : Pesan Pengingat Bagimu yang Sukanya Menumpuk Koleksi Pakaian ataupun Sepatu

3. Jangan Banyak Permintaan Duniawi

ketika di dalam rumahnya dapurnya tidak berasap selama 2 Bulan(tidak memasak), dan mereka hanya memakan kurma dan air.

Sehingga Istri-istrinya meminta menu makanan baru sehingga nabi Shallallaahu ‘alayhi wa sallam meninggalkan mereka beberapa saat sebagai teguran bagi mereka.

Pada lain kesempatan, istri beliau melihat shohabiah memakai perhiasan,sehingga para istri rasul meminta perhiasan walau hanya sedikit.

Hal ini sebetulnya wajar, tetapi Rasul takut justru permintaan duniawi ini akan berlanjut hingga para isteri beliau terlena dengan dunia, hingga turun ayat: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu bekal dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. (Al Ahzab 28)

4. Seorang Istri wajib patuh terhadap suaminya

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Baca juga : Sabda Rasulullah: "Disini Sudah Jelas Siapa Ahli Surga dan Neraka Karena 50.000 Tahun Lalu Sudah Ditetapkan"

5. Perbanyaklah Shadaqah (Jangan pelit)

Shadaqah terbaik suaminya adalah untuk keluarganya.

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”

[HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الْاِسْتِغْفَارَ ، فَإِنِّـيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah beristighfar (mohon ampun kepada Allâh) karena sungguh aku melihat kalian sebagai penghuni neraka yang paling banyak.”

أَلَاْ أُخْبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! النَّبِي فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الجَنَّةِ ، وَالشَّهِيدُ فِي الجَنَّةِ ، وَالمَوْلُودُ فِي الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصْرِ – لَاْ يَزُورُهُ إِلَّا لِلَّهِ – فِي الجَنَّةِ .أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian laki-laki penghuni Surga? Para Nabi di Surga, orang-orang yang jujur di Surga, orang yang mati syahid di Surga, anak yang terlahir (mati) di Surga, seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di belahan kota, yang dia mengunjunginya karena Allah, di Surga. Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian wanita ahli Surga? Yaitu setiap istri yang penuh cinta kepada suami serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya ia berkata, ‘inilah tanganku berada ditanganmu, aku tidak bisa tidur memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku.” (HR. Nasai).
Top