Kalau Masalah Kau Nyinyirkan dengan Tetangga, Itu Malah Membuatnya Semakin Buruk

Komentar

wajibbaca.com

WAHAI MERTUA

Antara aku (menantu perempuan) dan engkau (wahai ibu mertuaku)

Wahai ibu mertuaku dimatamu aku ini tidak ada benarnya. Setiap pekerjaan yang aku lakukan selalu salah.

Sedangkan suamiku, apa katanya saat kubilang hal itu. "Kamu nggak boleh bantah sedikitpun dengan ortuku, hargai ibuku"

Aku sudah berusaha menjadi menantu yang baik. Bahkan saat aku curhat dengan iparku dan ayah mertua tentang perlakuanmu, apa jawaban mereka? "Begitulah sikap ibu mertuamu"

Seolah kita ini sedang bersaing, jadi wanita utama dalam keluarga.



Engkau jadi sensitif, tak mau kalah denganku. Aku ini anakmu bukan sainganmu. Bahkan bukan hanya denganmu, engkau sibuk mencari kekuranganku dan membandingkan dengan menantumu yang lain.

Baca Juga: Wahai Mertua, Hargai Menantumu, Karena Ia Rela Menjaga Anakmu Hingga Berjuang Melahirkan Cucumu

Aku bukan anak manja Ibu mertuaku sayang. Tapi perlakuanmu ini sudah diluar batas kemanusiaan.



Aku tahu, tidak ada manusia yang sempurna, begitupun aku memahami kekuranganmu.

Saat aku salah kamu tak segan marah, saat aku berusaha melakukan kemauanmu kamu cuek.

Tak ada kasih sayang yang bisa kurasakan dari seorang ibu.

Bahkan lebih parah lagi saat aku melahirkan cucumu, tetap saja kamu cuek dengan kondisiku.



Hingga akhirnya aku sadar, tidak semua mertua seperti itu. Wahai mertuaku, aku tidak ingin dihargai, aku tidak ingin dihormati.

Ayah dan ibuku yang bersusah payah merawatku, dan biaya sekolahku tak pernah nyinyirkan aku bodoh.

Tak habis pikir, engkau yang tinggal menuai hasil pendidikanku malah marah habis-habisan.

Disclaimer: Artikel ini ditulis khusus untuk wajibbaca.com. Segala bentuk plagiarisme akan diproses secara hukum yang berlaku di Indonesia.
Top