Bayi Anda Sering Kentut dan Juga Sering Gumoh? Ketahui Berarti Bayi Sedang Mengalami ini

Komentar

Foto via wajibbaca.com

Ketahui gejalanya dan tandanya ini

Saat bayi menangis, merengek, pasti bunda berpikiran anak sedang lapar sehingga diberi ASI atau susu, benar memang anak menjadi diam dan tidak menangis lagi, tetapi jika anak bunda sering kentut dan juga sering gumoh berarti harus waspada.

Ketakutan para ibu adalah jika bayinya kelaparan. Padahal ada ha lain yang perlu diwaspadai yaitu jika bayi terlalu banyak minum susu.

Saat bayi menangis, bunda berpikir ia lapar sehingga segera diberi ASI atau susu formula.

Namun, hati-hati jangan sampai bayi terlalu banyak minum susu.

Baca juga : Ibu ini Melahirkan Kurang dari 3 Menit, Ternyata ini 9 Rahasia yang Selalu Diterapkan

Minum susu berlebih artinya bayi yang minum dari botol, mengonsumsi susu lebih dari yang dibutuhkannya untuk tumbuh kembang.

Bayi terlalu banyak minum susu dapat membebani perut kecilnya karena saluran pencernaannya tak sanggup menampung nutrisi terlalu banyak.

Tanda bayi terlalu banyak minum susu

  1. Jumlah popok basah per hari delapan kali lebih
  2. Sering buang air besar dan baunya busuk
  3. Perut kembung yang ekstrem
  4. Bunyi sendawa yang besar
  5. Sering gumoh
  6. Rewel
  7. Tidur terganggu

Gejala kebanyakan susu sering keliru dikaitkan dengan kolik, GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), alergi protein susu, maupun intoleransi laktosa.

Perbedaannya adalah bayi kebanyakan susu menunjukkan pertumbuhan yang sehat, berbeda jika ia mengalami salah satu kondisi yang memengaruhi sistem pencernaannya.

Sebagai tambahan, Parents bisa mengamati pertambahan berat bayi. Normalnya, berat bayi akan bertambah sebagai berikut:

0 – 3 bulan: bertambah 600 – 900 gram per bulan
4 – 6 bulan: bertambah 450 – 600 gram per bulan
7 – 12 bulan: bertambah 300 gram per bulan

Jika bayi Anda bertambah berat 35 gram per hari atau lebih dari 1 kg per bulan, kemungkinan ia kebanyakan susu. Bayi akan merasa tidak nyaman, rewel, menangis, tetapi bukan karena kelaparan.

Jika ia masih disusui, maka ia akan muntah karena perutnya sudah tak sanggup lagi menampung susu yang masuk.

Baca juga : Penyesalan ibu,"Bayiku sayang, maaf karena ibu terlalu mendengarkan omongan orang lain"

Apa yang menyebabkan bayi terlalu banyak minum susu?

Ada banyak alasan mengapa bayi kebanyakan minum susu, yaitu:


  • Bayi kurang tidur. Jam tidur yang kurang akan mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan. sehingga memicu nafsu makan bayi meningkat.
  • Salah menerjemahkan keinginan bayi. Bayi sedang dalam perkembangan fase oral di mana ia senang mengisap tangannya atau mainannya. Mengisap ini tidak selalu diartikan bahwa ia lapar. Bisa saja ia mengisap karena bosan, lelah, tidak nyaman, kesal, atau hanya karena ia senang mengisap.
  • Refleks mengisap. Bayi baru lahir belum bisa memberi tanda pada orang dewasa kapan ia merasa kenyang atau ingin berhenti menyusu, terutama jika ia diberikan susu melalui botol. Ia akan refleks mengisap ketika diberi susu terlalu cepat.
  • Memberi susu terlalu cepat. Butuh waktu bagi otak untuk memproses informasi bahwa perut sudah kenyang. Kecepatan makan akan meningkatkan kemungkinan bayi menelan lebih banyak susu dibanding yang bisa ditampung oleh perut kecilnya.
  • Minum susu hingga tertidur. Bayi yang secara teratur tidur sambil mengisap botol mungkin akan mengasosiasikan bahwa caranya tidur adalah dengan botol yang menempel di mulutnya. Ini berarti ia akan terus minum bukan hanya ketika lapar, tetapi juag ketika lelah.
  • Mengabaikan isyarat bahwa bayi sudah kenyang. Saat memberi susu melalui botol, kadang Parents berpikir: “Ah, tanggung sedikit lagi habis” padahal bayi sudah menunjukkan tanda-tanda kenyang. Anda tetap memberinya susu dan bayi belum bisa menolaknya.
  • Parents harus memerhatikan tanda-tanda jika bayi sudah merasa kenyang. Kebanyakan susu biasanya terjadi pada bayi yang diberi minum dengan botol.

Jangan pernah mencoba memaksa bayi jika ia sudah kenyang. Namun, dibanding kelebihan susu, justru bayi yang kelaparan akan jauh lebih membahayakan kesehatannya.

Untuk itu, Parents perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai kecukupan nutrisi anak.
Top