Apakah Allah SWT Tidak Adil, Jika Pria Dijanjikan Bidadari di Surga, Wanita Dapat apa?

Komentar

Wanita shalihah wajibbaca.com

Apa yang dijanjikan Allah untuk wanita...

Jika Allah Ta’ala menyebutkan kenikmatan ahlul jannah bagi kaum laki-laki dengan memberikan iming-iming Hurul ‘Ain (bidadari yang bermata jeli) dan istri-istri yang cantik. banyak yang bertanya-tanya kenikmatan apakah yang akan di berikan Allah pada wanita di jannah nanti?

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di jannah berupa makanan, pemandangan yang indah, tempat tinggal, ataupun pakaian, maka hal itu bukanlah monopoli laki-laki saja.

Allah maha adil kenikmatan jannah berlaku umum, baik laki-laki dan wanita selama mereka bertaqwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya ,

 “ Disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Tidak diragukan lagi bahwa ganjaran dihari kiamat itu untuk laki-laki maupun perempuan.

Lalu apa dasarnya jika kenikmatan itu bukan hanya untuk kaum lelaki saja?

Pernyataan Allah Ta’ala dalam ayat-ayat berikut ini.

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan “.
(QS. Ali Imron: 195)

 “ Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa: 124)

 “ Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin: 56)

 “ Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS. Az Zuhruf: 70)

“Di dalamnya kamu memperoleh segala sesuatu yang kamu inginkan dan kamu pun memperoleh segala sesuatu yang kamu cinta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Fushshilat: 31–32)

“Di dalam jannah itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata, dan kamu kekal di dalamnya.” (Qs. az-Zukhruf: 71)

Sudah maklum juga bahwa “zuwaj” (pasangan hidup) merupakan hal yang diinginkan oleh hati dan ini bisa didapatkan oleh ahli surga, baik yang laki-laki maupun wanita.

Baca juga: Bingung Karena Mertua Selalu Ikut Campur Dalam Rumahtangga Kita, Sikap Islami ini Bisa Jadi Solusi

Kaum wanita dipasangkan oleh Allah di dalam jannah dengan suaminya yang dahulu dalam hidupnya di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka. Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. Ghafir: 8)

Perlui diketahui, keadaan seorang wanita di dunia tidak akan luput dari kemungkinan-kemungkinan berikut;

Gambar via viva.co.id

1. Dia meninggal sebelum menikah.

Allah Ta’ala akan menikahkan wanita ini di jannah dengan seorang laki-laki di dunia. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Di jannah tidak ada yang hidup membujang.” (HR. Muslim no. 2834)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Apabila seorang wanita belum menikah di dunia, maka Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan seseorang yang menyenangkan pandangannya. Karena kenikmatan di jannah tidak hanya monopoli laki-laki, namun bagi laki-laki dan juga wanita. Sedangkan diantara bentuk nikmat adalah menikah. (Al Majmu’ Ats Tsamin 1/175)

2. Dia meninggal setelah dithalak (cerai) dan belum menikah lagi. Ataupun dia telah menikah, namun dirinya masuk jannah sedangkan suaminya tidak

Untuk keadaan kedua wanita ini, Syaikh Ibnu Utsaimin berkata,

“Seorang wanita apabila menjadi penghuni jannah sedangkan ia belum menikah di dunia, atau suaminya bukan termasuk ahli jannah, maka ketika dia masuk jannah akan dinikahkan dengan laki-laki dari penghuni jannah yang belum pernah menikah.”  (Al Majmu’ Ats Tsamin 1/173)

3. Dia meninggal setelah menikah. Maka suaminya di dunia adalah suaminya di jannah.

4. Dia tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal. Artinya dia menjanda hingga akhir hayat. Maka suaminya di dunia itulah yang akan menjadi suaminya di jannah

5. Dia menikah lagi setelah suaminya meninggal. Maka suaminya di jannah adalah orang yang terakhir kali menjadi suaminya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“ Seorang wanita (di jannah) adalah istri bagi suaminya yang terakhir di dunia.” (Silsilatul Ahadits As-Shahihah, Al-Bani. 1281 )

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada istrinya,

“ jika kamu ingin menjadi istriku di jannah, maka janganlah engkau menikah sepeninggalku, karena sesungguhnya wanita di jannah adalah bagi suaminya yang terakhir di dunia.” Karenanya pula Allah Ta’ala mengharamkan atas istri-istri Nabi untuk menikah sepeninggal Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di jannah pula.

Itulah keadaan mereka di dunia, sedangkan di jannah masing-masing akan mendapatkan bagian menurut keadaan mereka di dunia. Wallahu A'lam bishawab
Top