Potret Rumah Bocah "Penjual Kerupuk" yang Kondisinya Jauh Dari Kata Layak

Komentar


SEPERTI INILAH KONDISI ISTANAKU....

Sungguh miris sekali tempat tinggal bocah penjual kerupuk ini. Jauh dari kata layak rumah yang ditempatinya. Sangat menyentuh hati. Kalau kalian melihatnya apa yang anda lakukan?

Mengutip detik,  Gubuk reyot di tengah-tengah sawah berukuran 1x2 meter persegi ini adalah tempat tinggal Sutrisno (13), bocah penjual kerupuk keliling di Garut yang akrab disapa Fadil.

Di gubuk yang terletak di Kampung Sinyar, Desa/Kecamatan Kadungora, Garut ini Fadil tinggal bersama ibunya Heni Rohaeni (36) yang tengah mengandung 5 bulan, dan seorang adiknya Nurlaela Jamilah (3).

Baca Juga : The Power Of Children, Bocah yang Masih Berusia 8 Tahun ini Sudah Jadi Tulang Punggung Keluarganya. Salut

"Kalau tidur tiap malam juga di sini aja, karena enggak ada tempat lain," ungkap Heni kepada detikcom di gubuk itu, Senin (4/12/2017).

Fadil hanya tinggal bertiga bersama Heni dan Lela. Ayahnya Udin meninggal saat ia berusia dua tahun. Sedangkan ayah tirinya Asep Kurnia (50) merantau ke Jambi sejak sebulan lalu.

Gubuk itu dibangun dengan kayu seadanya tanpa dinding. Atapnya hanya ditutupi ranting pohon kering dan terpal bekas. Di beberapa bagian samping hanya ditutupi karung.

"Ini bukan punya saya, hanya dipinjemin sama pak Asep yang punya sawah," katanya.

Heni mengaku telah terbiasa tinggal di gubuk ini. Meskipun setiap hujan turun ia dan anaknya basah kuyup karena atap gubuk bocor.

Parahnya lagi, di sebelah barat gubuk itu terdapat kandang domba yang mengeluarkan bau tak sedap karena banyak terdapat kotoran ternak. Kandang itu hanya berjarak sekitar 5 meter dari lokasi gubuk.

Baca Juga : Tak Ada Makanan dan Uang, Adik Kelaparan, Kakaknya Hanya Berikan ini Untuk Dihisap, Buat Terharu

Fadil sendiri berjualan kerupuk keliling sejak setahun lalu. Sebelumnya Fadil pernah bersekolah di SDN Karangtengah 2 Kadungora, namun Fadil dikeluarkan dari sekolah.

"Katanya karena kelebihan murid. Sebelum ujian anak saya dikeluarkan. Sejak saat itu, anak saya lebih milih jualan kerupuk meskipun sudah saya larang. Ya mau bagaimana lagi kita butuh uang. Kondisi saya juga sedang hamil lima bulan," tuturnya.

Setiap hari Heni dan dua anaknya hanya makan seadanya. Terkadang ia juga mengaku tak makan karena tidak memiliki kayu bakar untuk memasak.

"Kadang sama tahu, sama garam apa aja," pungkas Heni.
Top