Peluru Hidup di Bagian Tubuh, 1300 Rakyat Palestina Terluka, Intifadhah Baru Digelorakan

Komentar

foto pertempuran warga palestina

Inikah akibat dari Donald Trump?

Sejak pengumuman Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel, korban-korban pun berjatuhan dari rakyat Palestina.

lebih dari 1.300 warga Palestina mengalami luka dan 4 lainnya terbunuh saat demonstrasi dinilai menghalangi pendudukan Israel.

Lebih dari 150 orang mengalami luka tembak dengan peluru hidup di bagian atas tubuh dan beberapa lainnya tertembak di kepala, kata sumber medis Palestina.

Sementara itu, pasukan pendudukan Israel telah menculik 150 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur sebagai bagian dari tindak kekerasan mereka terhadap demonstrasi Palestina.

Baca juga : Pidato Soal Yerusalem Ibukota Israel, Tiba-tiba Alami Kelu Lidah, Trump Kena Stroke?

Al-Quds. Setidaknya lebih dari seratus rakyat Palestina di Tepi Barat dan Gaza terluka akibat tindakan represif pasukan zionis Israel. Sementara seruan kemarahan dan intifadha baru semakin kencang digelorakan yang dikutip dari dakwatuna.

Dilansir dari Aljazeera.net, Jumat (08/12/2017), kota-kota seperti Nablus, Betlehem, Yerikho, Qalqiliya, Hebron dan Tulkarm di Tepi Barat, terjadi bentrokan antara massa aksi dengan pasukan penjajah.

Tindakan represif yang diwarnai tembakan gas air mata dan peluru karet, mengakibatkan ratusan rakyat Palestina terluka.

Pemandangan serupa dapat disaksikan di Jalur Gaza. Pasukan penjajah melancarkan tindakan represif di sebelah timur Kamp.

Maghazi. Seorang saksi mata mengatakan, beberapa roket diluncurkan dari Jalur Gaza ke arah kota-kota Israel. Sementara, ada sembilan pemuda Palestina terluka akibat serangan peluru-peluru zionis.

Disebutkan, Brigade Izzudin al-Qassam sebagai sayap militer Hamas, telah melancarkan kampanye militer di utara Gaza. Puluhan personil Al-Qassam tampak bersiaga di kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, dengan bersenjata lengkap.

Sementara itu, Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah menyatakan, hari ini (08/12) harus menjadi Hari Kemarahan dan menggelorakan intifadha baru guna membebaskan Tepi Barat dan Gaza.

Baca juga : Ormas Pengusir Ustadz Abdul Somad di Bali Terancam Dibubarkan, ini Kata LBH

Lihat video berikut ini :


Selain itu, Haniyah juga mendesak Otoritas Palestina untuk keluar dari Perjanjian Oslo serta menghentikan koordinasi keamanan dengan Israel.

Sebelumnya Haniyah juga telah dihubungi oleh Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani. Dalam kesempatan tersebut, Emir Qatar menegaskan penolakan atas keputusan Trump terkait status Al-Quds.
Top