"Habis kalo gak dibentak gak mau nurut" Kebiasaan ini Menghasilkan Anak Berperilaku Buruk

Komentar


Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa orangtua adalah sumber referensi utama perilaku bagi anak. Oleh karena itu jika kita ingin memiliki perilaku anak yang baik maka berkacalah pada diri sendiri terlebih dahulu.

Ketika orang tua membentak anaknya, sesungguhnya ia sedang menunjukkan dirinya telah gagal mendidik anaknya dengan cara-cara yang baik.

Dengan dalih; "Habis kalo gak dibentak gak mau nurut"

1. Raja yang Tidak Pernah Salah

Sewaktu anak masih kecil dan berjalan jalan, tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya ? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya… sudah cup… cup… diem ya Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terjadi terhadap benda-benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak bahwa ia tidak pernah bersalah. Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar.

2. Marah yang Berlebihan

Sering kita menyamarkan persepsi antara mendidik dan memarahi. Perlu selalu diingat, memarahi adalah cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena tidak bisa mengatasi masalah dengan baik.

Marah juga sering kali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain, dalam hal ini adalah anak kita. Ingatlah, bahwa dalam setiap kesalahan yang dibuat oleh orang lain maka kita sesungguhannya ikut berkontribusi di dalamnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah bicara pada saat marah ! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar atau pergi menghindar hingga amarah reda. Yang perlu kita lakukan adalah bicara “tegas” dan bukan bicara “keras”.

3. Gensi untuk Menyapa

Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar terhadap anak; biasanya, amarah terbawa selama berhari-hari. Akibat dari rasa kesal yang masih tersisa dan ditambah ‘gensi’, kita enggan menyapa anak kita. Masing-masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang seharusnya kita lakukan
Agar komunikasi mencair kembali? Siapakah sebenarnya yang harus memulai? Kita sebagai orang tua, yang harus memulai saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Jangan tunda lagi, segera setelah anak memberikan tanda-tanda berubah menjadi lebih baik atau ingin berdamai, bukalah pembicaraan dengannya.

4. Memaklumi yang Tidak Pada Tempatnya

Ini biasa terjadi pada kebanyakan orang tua. Misalnya melihat anak berjenis kelamin laki-laki berperilaku usil atau suka mengganggu, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… namanya juga anak laki-laki…’’ Atau pada saat melihat adik kakak yang sedang bertengkar, ungkapan yang umum dinyatakan, “Maklumlah, namanya juga anak-anak…” Bahkan ketika anak memukul atau melukai temannya, orang tua masih juga sempat mengatakan, “Ya, maklumlah namanya juga anak-anak. Tidak sengaja…”
Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan oleh anak-anak, otomatis si anak berpikir bahwa perilakunya saat ini sudah benar karena tidak ada teguran.  ,o,oni

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu memaklumi suatu hal yang tidak perlu dimaklumi. Kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan tipologi sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas (Ingat: bukan keras) sejak usia 2 tahun.

5. Menghukuman Anak Saat Kita Marah

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu di ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak saat ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apapun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata-kata ataupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak-anak kita lebih baik.

Apa yang sebaiknya kita lakukan ?

Ingatlah selalu :
1.Bila kita dalam keadaan marah, segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk menurunkan amarah kita dengan segera. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda, seperti masuk kamar atau mandi dengan air yang sejuk. Pilihlah cara yang cocok dengan kita.

2.Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat-beratnya pada anak kita. Padahal sanksi atau hukuman yang baik adalah bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menyadarkan anak supaya dia memahami prilaku buruknya. Sanksi atau hukuman yang berat terutama fisik hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita.

Dikutip dari komparentbjm.blogspot.co.id, Bersabarlah untuk tidak memotong penuturan anak kita. Tunggu sampai anak kita puas menyampaikan isi hatinya. Bicaralah hanya jika kita diminta karena saat itulah anak kita telah siap untuk mendengarkan penuturan kita. Ingat filosofinya bahwa Sang Pencipta memberikan kita dua telinga dan satu mulutm yang artinya dua kali mendengarkan dan baru bicara.
Top