5 Fakta Memilukan Bayi Di Brebes Ditolak Puskesmas Hingga Meninggal Dunia

Komentar


Malang nasib ibu bernama Emiti, ia harus merasakan duka yang sangat dalam usai buah hati kesayangannya, Icha Selfia meninggal dunia.

Anaknya yang baru berusia 7 bulan itu meninggal usai mendapat penolakan dari pihak Puskemas.

Sedih merasakan penderitaan orang-orang yang kurang mampu dalam hal ekonomi, sepertinya sudah berjalan seiringan, jika kemiskinan itu jauh dari kata sehat.

Buktinya, dua hari yang lalu nyawa bayi berusia tujuh bulan melayang setelah mendapat penolakan dari pihak puskesmas, padahal puskemas yang di tuju menjadi tempat satu-satunya bagi masyarakat kurang mampu.

Malang nasib ibu bernama Emiti, ia harus merasakan duka yang sangat dalam usai buah hati kesayangannya, Icha Selfia meninggal dunia.

Anaknya yang baru berusia 7 bulan itu meninggal usai mendapat penolakan dari pihak Puskemas.

Berikut 6 fakta soal penolakan Puskemas hingga membuat bayi 7 bulan meninggal yang dirangkum wajibbaca.com dari bogor.tribunnews.com.

1. Jalan 1,5 Kilo

Emiti menceritakan, anak bungsunya itu tampak tidak sehat sejak Jumat (8/12) malam.

"Icha mengalami gejala muntah dan berak (mutaber).

Kemudian, malam- malam saya bawa ke tukang urut," kata Emiti, Senin (11/12/2017) dikutip dari bogor.tribunnews.com.

Namun, kata dia, tukang urut menyarankan membawa bayinya itu ke Puskesmas. Keesokan harinya, pada Sabtu (9/12), Emiti membawa anaknya itu ke Puskesmas dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer sekirar pukul 10.00 WIB.

Maklum, jarak Puskesmas dari rumahnya lumayan jauh.

konomi yang pas- pasan juga tidak memungkinkan dirinya punya kendaraan, suaminya pun tengah merantau ke luar kota.

Sesampai di Puskesmas, bukan mendapatkan pertolongan, ia dan buah hatinya justru mendapatkan penolakan dan ditelantarkan.

"Sampai sana, saya dibiarkan seperti patung. Petugas tidak melayani. Padahal anak saya kondisinya sudah lemas," ujar Emiti.

2. Dicueki Petugas

Petugas Puskesmas yang seharusnya melayaninya malah menolaknya.

Alasan petugas menolaknya, kata dia, lantaran dia tidak membawa Kartu Indonesia Sehat (KIS).

"Saya hanya bawa Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) milik saya dan KTP saya," ucapnya.

Ketika ditanya petugas apakah ada Kartu Keluarga (KK), ia mengatakan tidak membawa KK lantaran kalau dibawa pun percuma.

Nama anaknya belum masuk ke dalam KK.

Emiti mengatakan masih tidak terima dengan perlakuan petugas Puskesmas atas dirinya dan si buah hati.

"Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu," tandasnya.

3. Hanya Diberi Obat Warung

Karena tidak kunjung mendapatkan pelayanan, Emiti pun menuju rumah tempat praktik bidan desa.

Namun yang bersangkutan, tidak ada di rumah.
Demikian juga ketika dia mendatangi Pondok Bersalin Desa (Polindes) di balai desa setempat, yang ternyata tutup.

Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli obat bebas yang dijual di warung- warung.

"Saya beli obat di warung. Anak saya mau minum. Setelah itu saya kasih ASI (air susu ibu)," ucap Emiti.

Ia mengaku tidak berani membawa Icha ke rumah sakit karena khawatir uang yang dimiliki tidak cukup untuk biaya pengobatan.

"Apalagi, suami saya tidak sedang di rumah. Dia merantau kerja di kapal ikan," tuturnya.

Meskipun sudah dikasih obat warung, Icha tidak kunjung pulih. Hingga akhirnya, Icha menghembuskan napas terakhir pada Minggu (10/12) siang.

Icha pun dikebumikan pada Minggu sore.

4. Puskesmas Akui Salah

Kepala Puskesmas Sidamulya, Arlinda mengatakan ada petugas yang menjalankan tugasnya tidak sesuai Standar Operational Procedure (SOP).

"Saya sudah meminta keterangan ke karyawan. Yang bersangkutan mengakui menyalahi SOP," ucapnya.

Petugas tersebut lalai karena menolak kedatangan bayi sakit dalam kondisi darurat hanya karena kurang syarat administrasi.

Menurutnya, saat Emiti dan bayinya datang, ditemui dua orang. Satu di antaranya masih magang.

"Petugas itu menolak menerima pasien karena alasan tidak lengkap administrasinya," ujarnya.

Padahal, kata dia, sesuai standar pelayanan, siapapun yang datang dalam kondisi darurat harus segera mendapatkan pertolongan.

"Semua persyaratan administrasi harus dikesampingkan dulu. Itu bisa dilengkapi menyusul," tegasnya.

5. Bupati Minta Maaf

Peristiwa menyedihkan ini ternyata mendapat respon dari Bupati Brebes, Idza Priyanti.

Pihaknya langsung mengunjungi rumah Emiti dan mengucapkan permintaan maafnya.

"Kami, Pemerintah Kabupaten Brebes, meminta maaf sebesar- besarnya atas kejadian ini," kata Idza saat mengunjungi rumah sederhana Emiti.

Ia menyesalkan atas kejadian tersebut.

Dalam kesempatan itu, Idza juga memberikan santunan uang tunai dan bahan pangan untuk keluarga Emiti.

Setelah ke rumah korban, bupati juga melakukan inspeksi di puskesmas.

Di sana ia mempertanyakan pelayanan kesehatan kepada pasien.

"Jelas ada sanksi sesuai prosedur terhadap petugas pendaftaran di puskesmas," tegasnya.

Dalam waktu dekat ini, ia juga akan memanggil semua pegawai di bidang kesehatan setiap kecamatan untuk diberikan bimbingan.
Top