Kita Generasi 90'an Pasti "Shock" Melihat Kelakuan Generasi Kekinian Seperti ini

Komentar


INI FAKTA, LIHAT SAJA KALAU TAK PERCAYA....

Generasi sekarang menjadi buruk karena kebanyak makan "micin". Hingga kelakuannya pun sudah menyalai aturan. Beda jauh dengan generasi diera dulu tahun 90-an. Mulai dari kebiasaan, makanan yang disantap pun juga berbeda drastis. 

Itulah mengapa Mereka yang pernah mengalami masa-masa di tahun 90'an, dengan kompak akan mengatakan. Bahwa era 90'an adalah era terbaik buat mereka. 

Mengutip kaskus, waktu terus berjalan hingga membuat generasi diera 90-an terkejut melihat perilaku generasi sekarang hanya gara-gara hubungan micin dengan penyedap rasa dulu.

Baca Juga : 4 Fakta Kelakuan Kids Jaman Now Biar Beken Mabuk Pakai "Fitting Lampu". Miris

Seperti apa sih aksi atau kelakuan generasi sekarang? dan apa yang membuatnya terkejut? berikut ulasannya:


1. Generasi Manja, Cengeng, Dan Amoral



Baca Juga : Sekarang Kok Makin Banyak Anak yang Tega dengan Orangtuanya ya, Generasi Apa ini?

Sebagai orang yang pernah mengalami kehidupan di zaman 80'an. Bisa jadi pada beberapa hal saya sepakat dengan mereka yang menyebut bahwa generasi hari ini, adalah generasi yang manja, cengeng, dan amoral.

Mohon maaf, saya tidak katakan generasi sekarang semuanya berkelakuan seperti itu. Tapi rata-rata kebanyakan memang begitu. Bagaimana tidak?

Terhitung sejak pasca reformasi hingga 2017, sudah berapa banyak media yang memberitakan kasus guru yang di buli dan di aniaya oleh murid dan orangtuanya? Begitu pula sebaliknya.



Saking banyaknya kasus, saya tidak bisa menyebutkan satu persatu bagaimana bobroknya moral dan akhlaq anak-anak muda zaman sekarang.

Sudah berapa orang tenaga pengajar yang dengan niat baiknya ingin mendidik akhlaq anak muridnya, tapi malah dipolisikan hingga di penjara? Silahkan dihitung sendiri!

Jadi rasanya wajar saja jika generasi 80'an dan 90'an merasa shock dan terheran-heran melihat kejadian seperti itu. Bagi mereka semua itu sulit diterima akal sehat dan hati nurani.

Bayangkan saja! Hanya karena seorang guru menjewer kuping anak muridnya yang bandel kelewat batas........Hanya karena sang guru menyuruh sholat, hanya karena memukul ringan tak berbekas apalagi menyakiti. Lalu sang guru pun dicaci maki, dituntut, di viralkan lalu dipenjara.

Saya menjadi saksi dan pelaku langsung, bagaimana dulu ada banyak pelajar SD dan SMP yang hanya karena bajunya tidak dimasukkan ke dalam celana ia akan dihukum berlari 3 x memutari lapangan basket atau sepak bola.

Saya adalah orang yang dulu pernah ditampar dengan keras beberapa kali hingga dibenturkan ke papan tulis. Hanya karena lempar-lemparan kertas dan menggoda teman perempuan.



Dulu saat SMP, saya dan belasan teman lainnya adalah orang yang pernah iseng mengintip seorang guru muda cantik yang sedang pipis lalu ketahuan. Demi Tuhan, kami semua saat itu di hukum habis-habisan. 

Apa kemudian saya menangis histeris, seraya mendramatisir kejadiannya lalu mengadukannya ke orangtua? Merengek meminta agar si guru dituntut lalu di penjara. TIDAK!

Baca Juga : Parah, Kelakuan Kids jaman Now ini. Selfie Aja Sambil Bawa Celurit. Jangan Sampai Ditiru

Yang ada justru kami takut orangtua kami akan lebih marah karena anaknya bikin ulah di sekolah. Karena saat itu tak sedikit orangtua yang malah membela sang guru daripada anaknya sendiri.

Hebatnya lagi, dari hasil banyak cerita, bahwa situasi seperti itu lazim terjadi hampir di seluruh Indonesia. Karena bagi kami guru tetaplah guru yang wajib kami hormati dan kami cintai.........

2. Generasi Fakir Etika



Faktor kedua yang membuat generasi 80'an dan 90'an shock melihat generasi kekinian adalah, ketika anak-anak SD hingga mahasiswa jaman sekarang rata-rata seperti tak beretika (tak punya adab dan sopan santun).

Saya tidak katakan semuanya, tapi kebanyakan iya. Bagaimana tidak?

Coba kita perhatikan, di jaman sekarang yang namanya status guru atau dosen itu hanya berlaku ketika di sekolah atau kampus saja. Selebihnya mungkin tidak....

Bayangkan! Ketika di luar sekolah ada banyak anak-anak SD, SMP, SMU, hingga perguruan tinggi yang cuek bebek. Bahkan seolah tak kenal pada guru-gurunya ketika berpapasan.

Budaya mencium tangan sang guru atau dosen sepertinya tak dipakai lagi. Ini fakta!

Bukan cuma itu, anak-anak jaman sekarang sudah tidak bisa lagi membedakan mana teman sebaya dan mana teman kakak atau teman orangtuanya. Semua diperlakukan sama....

Miris ketika banyak anak-anak SD yang memanggil nama kakak kelasnya yang SMP atau SMU tanpa embel embel "Kakak atau abang".

Seolah mereka tak diajarkan bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua.

3. Generasi "Humblebragger"


Seiring pesatnya arus teknologi, generasi muda jaman sekarang seolah dimanjakan oleh beragam gadget canggih.

Dari anak tukang becak hingga anak sang raja. Dari professor hingga anak TK semua punya smartphone.

Baca Juga : Bisakah Bahasa Indonesia Menjadi Tuan Rumah Kalau Penerusnya Remaja Zaman Now?

Setiap kali saya buka aplikasi media sosial. Fenomena "Humblebragging" itu selalu muncul. Baik dalam bentuk foto atau sekedar status. Kadang miris kadang juga pengen tertawa karena statusnya yang "rada-rada".

Dalam bahasa sederhana "Humblebragging" bisa diartikan sebagai bentuk "pamer terselubung". Dengan kata lain "Humblebragging" adalah cara seseorang untuk menyombongkan diri dengan cara merendah.

"Lagi sibuk ngurus acara amal nih, lelah harus bolak balik ketemu menteri sosial"

"lagi bingung di showroom Lamborgini buat hadiah ulang tahun pembantu yang selalu naik angkot"



Dengan modal hp semua hal difoto dan dipamerkan. Bahkan untuk hal yang tidak penting sekalipun.

Mulai dari tiket bioskop, behel gigi, kunci mobil, merek celana dalam, hingga cangkir kopi produk Amerika. Persetan dibilang norak, masa bodo dibilang kampungan yang penting eksis dan bisa pamer.....

Baca Juga : Sering Dikutuk Karena Jadi Penyebab Kebodohan, Ternyata Begini Awal Mulanya Reputasi Micin Jelek

Tak cukup dengan itu, mereka yang mengaku generasi milenial juga hobi merekam setiap peristiwa. Saking asiknya merekam momen, mereka lupa bahwa orang yang tengah direkam ternyata sedang meregang nyawa dan butuh pertolongan.

Mengambil foto, merekam, atau membuat status adalah haknya. Namun sayangnya semua itu tidak diimbangi oleh filter moral dan kearifan. Apalagi jika yang selama ini dipamerkan di medsos ternyata hoax atau palsu.



Wahai para generasi "agak tua", seharusnya tak perlu kaget lagi melihat anak-anak SD zaman sekarang yang gaya pacarannya lebih dramatis dibanding kisah Romi dan Yuli.

Jangan panik jika melihat atau mendengar anak-anak bau kencur yang kencing saja masih belum lurus tapi sudah tahu sakit hati, cemburu, hingga mau bunuh diri.

Kepada para generasi 80'an dan 90'an yang dulu sering dicekoki oleh ilmu Pendidikan Moral Pancasila, seharusnya tak heran lagi jika melihat anak anak SD dan SMP masa kini yang kecanduan rokok, narkoba dan miras.

Jangan heran atau terkejut!!! Agar kita tak dibilang ketinggalan zaman atau di cap sebagai generasi tua yang kampungan.....
Top