Jika Pernah Operasi Pemasangan Logam Akibat Patah Tulang Saat Meninggal Apakah Harus Diambil ?

Komentar


Pertanyaan: Jika pernah operasi penanaman atau pemasangan pen atau logam kemudian tertinggal di tubuh (misalnya pada operasi patah tulang) lalu  meninggal. Apakah harus diambil kembali? Artinya mayit akan dioperasi kembali dan dicabut logam atau pen tersebut?

Jawabannya: TIDAK perlu dicabut

Dengan alasan:

1) Operasi pada mayit termasuk dalam larangan tidak  bolehnya mencincang[1] dan mematahkan tulang mayit [2] (walaupun musuh dalam peperangan tidak boleh).

2. Ini tidak sesuai dengan anjuran bersegera menyelenggarakan jenazah. Ini akan menjadi lama karena ada proses tersebut.[3]

Demikian juga penjelasan ulama, apa yang tertinggal pada tubuh mayit, tidak perlu diangkat dan segera dikuburkan.

Ibnu Qudamah Al-Maghdisi berkata:

وإن جبر عظمه بعظم فجبر، ثم مات لم ينزع؛ إن كان طاهراً.

“Apabila tulang (di dalam) dilapisi/ditutupi dengan bahan tulang lainnya kemudian ia meninggal maka tidak perlu dicabut jika benda tersebut suci.”[4]

Demikian semoga bermanfaat

[1] Larangan mencincang mayit

diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعْهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا، ثُمَّ قَالَ: اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ، في سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ -أَوْ خِلَالٍ- فَأَيَّتُهُنَّ مَا أََجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ…

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila menetapkan seorang komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya secara khususuntuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau mengatakan: “Berperanglah dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah.Perangilah orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, kalau mereka terima maka terimalah dan jangan perangi mereka…” (HR. Muslim)

[2] Larangan mematahkan tulang mayit

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata,
عن جابر ـ رضي الله عنه ـ أنه قال: خرجْنا مع رسول الله ـ صلّى الله عليه وسلم ـ في جنازة فجلس النبيّ على شَفير القبر وجلسْنا معه، فأخرج الحَفّار عظمًا ـ ساقًا أو عضوًا ـ فذهب ليكسِره، فقال النبي ـ صلى الله عليه وسلم, “لا تكسرْها، فإنّ كسرَك إيّاه ميّتًا ككسرِك إياه حَيًّا، ولكن دُسَّه في جانب القبر” هذا الحديث رواه مالك وابن ماجه وأبو داود بإسناد صحيح

“Aku keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengantar jenazah, beliau duduk di pinggir kuburan dan kami pun juga demikian. Lalu seorang penggali kubur mengeluarkan tulang (betis atau anggota) dan mematahkannya (menghancurkannya). Maka nabiShallallahu ‘alaihi wa Sallambersabda, “Jangan kamu patahkan tulang itu. Kamu patahkan meski sudah meninggal sama saja dengan kamu patahkan sewaktu masih hidup. Benamkanlah di samping kuburan. (HR Malik, Ibnu Majah, Abu Daud dengan isnad yang shahih)

[3] Anjuran agar segera menyelenggarakan jenazah, dalam hadits:

ﺃَﺳْﺮِﻋُﻮْﺍ ﺑِﺎﻟْﺠَﻨَﺎﺯَﺓِ ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻚُ ﺻَﺎﻟِﺤَﺔً ﻓَﺨَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻓَﺨَﻴْﺮٌ ﺗُﻘَﺪِّﻣُﻮْﻧَﻬَﺎ، ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻚُ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺸَﺮٌّ ﺗَﻀَﻌُﻮْﻧَﻪُ ﻋَﻦْ ﺭِﻗَﺎﺑِﻜُﻢْ .

“Bersegeralah dalam mengurus jenazah, karena jika ia baik maka engkau telah melakukan suatu kebaikan dan jika tidak, maka engkau telah membuang suatu kejelekan dari lehermu.” [HR. Al-Bukhari no. 1315 dan Muslim no. 944 (50) [4] Al-Mughni libni Qudamah 2/408, Cet. I, Darul Fikr, Beirut, Syamilah
Top