Tak Ada Makanan dan Uang, Adik Kelaparan, Kakaknya Hanya Berikan ini Untuk Dihisap, Buat Terharu


SUNGGUH KASIHAN HANYA BERIKAN INI UNTUK PENGGANJAL LAPAR 


Kisah ini dialami dua bersaudara, sang adik menangis kelaparan karena tak ada uang dan makanan kakaknya hanya bisa berikan jempolnya untuk mengganjal lapar. terlihat adiknya yang sedang tengkurap sembari menghisap-hisap jempul kakaknya, adiknya juga tengkurap ditempat yang kotor hanya depan sebuah toko.

Baca juga : Siksa Anak Tiri Hingga Tewas, Wanita ini Kena Azab Saat Ia Melahirkan Terjadi Hal Mengerikan

Setiap orang mendapat rezeki yang berbeda-beda dari Allah SWT. Ada orang yang diberi rezeki melimpah, namun kadang masih merasa tidak cukup.

Sementara sebagian yang lain kurang beruntung. Mereka diuji dengan kehidupan susah, terpaksa mengais rezeki dari pagi sampai petang hanya untuk sesuap nasi. Tetapi, mereka selalu merasa bahagia dengan rezeki yang dikaruniakan Allah.

Seperti cerita yang dikisahkan Hamiatie Abd Hamid, ketika melihat seorang balita telungkup di luar restoran sembari diasuh kakaknya.

Adik kecil itu menangis kencang. Sementara kakaknya hanya mampu menyodorkan jempol tangan untuk dihisap adiknya, karena lapar.



 " Langkah saya terhenti saat keluar dari restoran ketika melihat seorang balita telungkup di teras. Terbersit di hati, 'Ya Allah, anak siapa pula ini? Kenapa telungkup di teras restoran?' Rasa marah pun muncul, 'Ke mana ibu bayi itu?'

" Saya pergi mendekat. Ya Allah, rasanya mau menangis. Dengan ingus meleleh, balita itu diasuh oleh kakaknya. Adiknya merengek, kakaknya menyumbatkan ibu jari ke mulutnya untuk dihisap. Balita itu pun berhenti menangis.

Baca juga : Dibalik Sifatnya yang Susah Diatur, Ternyata Anak Kedua Memiliki Inovasi yang Membuat ia Sukses Kelak

" Hati saya pun menangis di dalam. Saya coba bertanya pada kakaknya 'Mana ibu kamu?' yang dijawab 'Mak pergi ke sana'.

" Kakaknya menunjuk arah dengan memancungkan mulutnya. Tak tahu yang mana ibunya.

" Bapak kamu?' saya tanya lagi.

" Ditahan polisi. Tidak punya KTP," jawab si kakak dengan suara sedih.

" Berapa bulan ini usia adik kamu? Kenapa kamu tak jaga dia di rumah saja? Kasihan adik kamu kedinginan," tanya saya.

Saya sedih lihat balita itu. Berbaring di lantai teras restoran tanpa alas sama sekali. Merasa terenyuh dengan keadaannya.

" Tujuh bulan. Di rumah tidak ada makanan. Tidak punya uang untuk beli," kata si kakak sambil mengelap ingus adiknya.

 " Saya tak tahu harus bertanya apa lagi. Berurai air mata melihat keadaan mereka, terutama bayi itu. Bayi itu masih menghisap jari kakaknya. Saya kemudian pergi ke sebuah toko roti di sebelah restoran.


Di dalam, saya beli susu rendah lemak dan roti untuk sekadar mengganjal rasa lapar dan haus bagi kedua kakak-beradik itu.

Saya balik dan memberikan susu dan roti kepada si kakak. Saya bilang agar suap adiknya dengan roti dan kasih minum susu.

" Kamu juga jangan lupa makan dan minum," kata saya sambil menangis serahkan roti dan susu."

Saya tarik napas panjang, kepala terasa pusing dan masuk mobil. Allah, pelihara anak terlantar itu.

Mereka adalah anak-anak susah. Biasanya mengejar orang untuk minta uang. Saya biasanya tak akan kasih uang. Bukan apa, saya lebih suka memberi mereka barang daripada uang.

Sebab kebanyakan dari mereka akan menyalah gunakan uang itu. Itu sudah menjadi rahasia umum.

Kebanyakan orang tua mereka menyuruh untuk meminta-minta, padahal mereka tak diberikan uang atau makanan setelah hasil ia meminta-minta, orang tua sudah hidup berantakan anak pun juga terkena imbasnya, mereka malah dijadikan tulang punggung dan ibunya menerima hasilnya, namun entah orang tua mereka, ayahnya juga ditangkap polisi, sungguh bagaimana perasaan mereka, kita yang berkecukupan terkadang lupa untuk bersyukur malah meminta lebih, sedangkan banyak yang dibawah kita kekurangan.
Top