Suami Berpoligami Dan Cobaan Lain Menimpaku, Alhamdulillah Allah Masih Sayang Hambanya


sumber : @notarich_ana


KENAPA HARUS BERPOLIGAMI JIKA ISTRI SATU SAJA SUDAH CUKUP, TAPI ITU SUDAH PILIHAN SUAMIKU

Terasa dunia akan runtuh ketika kau meminta izin kepadaku untuk menikah lagi.

Di kala suami pada saat itu memutuskan untuk berpoligami dan ketika saya tidak setuju, dia menyiksa batin dan jasmani saya.

Mempertahankan 9 tahun bahtera rumah tangga berakhir sia-sia

Membayangkan kau, suamiku tersayang, sedang membagi cinta, perhatian dan segala kesenangan duniawi lainnya dengan wanita lain, bukan hanya sekedar mendatangkan pusing dan mual tapi juga penyakit cemburu serta sakit hati yang mungkin tak akan berkesudahan bagiku.

Jangan protes wahai suamiku, Bahkan istri-istri nabi yang muliapun, mereka tak bisa menghindar dari kecemburuan.

Semua itu karena cinta yang teramat sangat untukmu, Seperti yang dikutip dari vemale.com kisah ini di alami wanita yang memiliki suami berpoligami.

Ia menceritakan kisahnya yang berjuang dari kemelut pernikahan dan cobaan yang menimpa buah hatinya.

Saya adalah single parentyang dikaruniai dua orang  putra. Saya percaya kepada takdir Allah. Dan bahwa takdir itu baik untuk hamba-Nya.

Keputusan saya untuk berjuang sendiri membesarkan anak-anak saya sudah bulat, setelah mencoba untuk bertahan selama 9 tahun di dalam bahtera pernikahan di mana saya mencapai titik yang membuat saya tak sanggup untuk meneruskan pernikahan yang ada.

Di kala suami pada saat itu memutuskan untuk berpoligami dan ketika saya tidak setuju, dia menyiksa batin dan jasmani saya.

Setelah dapat keluar dari kemelut yang ada, saya membawa anak-anak kembali ke rumah orang tua saya. Sungguh demi Allah tidaklah mudah untuk memulai semuanya dari nol.

Alhamdulillah keluarga dan teman-teman mau menerima saya dengan tangan terbuka.

Selama setahun saya mencoba mencari pekerjaan, di mana belenggu hijab menjadi sedikit kendala di dalamnya. Sempat berpikir untuk melamar pekerjaan tanpa menggunakan hijab (astagfirullah).

Namun subhanallah,percayalah Allah selalu memberikan kemudahan kepada hamba-Nya yang berusaha dan berikhtiar.

Dengan campur tangan Allah, alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor swasta. Saya merasakan salah satu mukjizat Allah.

Mengapa demikian? Karena setelah dua minggu saya bekerja, salah satu atasan yang ketika itu menerima saya setelah final interview, bertanya kepada sekretarisnya sejak kapan saya berhijab. Subhanallah, rezeki masing-masing manusia telah diatur oleh Allah.

ANAK SULUNG SAYA DIVONIS EPILEPSI


Namun, cobaan dalam hidup ini pasti selalu ada. Beberapa bulan setelah saya mendapat pekerjaan, saya mendapati anak sulung saya mengalami kejang-kejang.

Kejang yang pertama tidak terlalu saya anggap serius karena saya berpikir itu sebuah alergi. Selang dua bulan, anak sulung saya kembali kejang, kali itu langsung saya larikan ke dokter anak di rumah sakit terdekat.

Dokter pun merujuk untuk membawa anak saya ke dokter saraf anak. Namun, sebelumnya dia harus melakukan EEG test. Betapa hancurnya hari itu, ketika mendapati hasil dari tes EEG tersebut. Anak sulung saya divonis mengidap penyakit epilepsi.

Dia pun wajib minum obat setiap harinya dan efek dari obat tersebut bisa menyebabkan depresi. Demi kesembuhannya, saya harus membawa dia untuk terapi guna menghindari agar kejangnya tidak kambuh lagi.

ANAK BUNGSU MENJADI KORBAN BULLYING


Belum kelar masalah penyakit anak sulung saya. Berselang beberapa hari, sesampainya saya di rumah dari kantor, ibu saya menceritakan bahwa selama ini anak bungsu saya suka di-bully oleh temannya di sekolah. Ibu saya bercerita bahwa sepulang dari sekolah, anak saya menangis dan memberitahu bahwa dia baru saja dipukul oleh temannya di sekolah. 

Karena letak rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah anak tersebut, ibu saya bermaksud untuk bertemu dengan anak tersebut. Betapa kaget ketika ada seorang ibu yang melihat kejadian tersebut. Ibu itu bilang bahwa anak saya dipukul sampai terjatuh dan setelahnya dia ditendang berkali kali.

Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk memindahkan sekolah anak anak saya. Saya tidak mau mereka berada di lingkungan yang membuat mereka tertekan. Namun, saya tahu kendala yang akan saya hadapi. Bahwa saat itu saya tidak mempunyai cukup biaya untuk pindah sekolah. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah meminjam uang dari om saya (kakak papa yang tertua). Walaupun saya sendiri tidak tahu bagaimana untuk memulainya. 

Subhanallah, tidak berapa lama, tante dari istri om yang saya maksud menelepon saya untuk menanyakan kabar papa saya. Dengan campur tangan Allah lagi, langsung saja keluar rangkaian kata-kata yang menyatakan maksud saya tadi. Jawabannya, esok hari saya dan anak anak diminta untuk datang ke rumahnya karena mereka akan membantu saya untuk biaya yang saya perlukan, tanpa harus mengembalikannya. Allahuakbar!

Top