Seperti Ada Rasa Bangga Ketika Mereka Melakukan Maksiat Di Tempat-tempat Umum



PADAHAL AIBMU SUDAH DITUTUPI TUHANMU, KENAPA MALAH KAU BUKA AIBMU DENGAN FOTO DAN VIDEO

Sungguh rusak akhlaq seseorang yang berbuat kemungkaran namun di umbar di umum.

Apalagi mengenai perasaan bangga dan tanpa rasa bersalah sama sekali saat melakukannya.

Banyak sekali orang yang melakukan hal tersebut, seperti contohnya ia berzina, bangga bisa merebut pasangan orang, melalui perbuatanya tersebut ia justru menyebarluaskannya melalui foto, video yang di unggahnya di sosial media.

Padahal jika kita mau menutupi dan merasa bersalah setulus hati maka allah akan menutupi air tersebut dari manusia lainnya, maka insya allah ia pun kembali menutup aib kita di hari kiamat kelak.

“Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” (HR. Muslim, no. 2590)

Bukankah salah satu dosa yang tidak dimaafkan adalah seseorang yang berbuat maksiat secara terang-terangan? Yakni dengan membongkar aibnya sendiri di hadapan manusia lain:

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990).

Maka, hendaknya kita menjauhkan diri dari maksiat, kalaupun tergelincir... mintalah Allah menutupinya dan bukannya malah mengumbar maksiat tersebut tanpa rasa malu dan bersalah sama sekali di hadapan makhluk yang lain.

BACA JUGA: Pernikahan Berujung Duka Pria Ini Blak-blakan Putar Video Rekaman Perselingkuhan Calon Istrinya



Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah. Karena barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka kami pasti akan menegakkan ketetapan hukum Allah atasnya.” (HR. Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar, 1: 86; Al-Hakim, 4: 244; Al-Baihaqi, 8: 330. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 8: 435 menyatakan bahwa sanad hadits ini kuat, zahirnya shahih. Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.)
Top