Irma Surjani Nasution Perisai Untuk Ayah Saat Serangan G30S/PKI



ANNAKU TERCINTA ENGKAU GUGUR SEBAGAI PERISAI UNTUK AYAHMU

Namanya tidak tercantum dalam target. Tapi nama ayahnya termasuk. Sang putri bungsu yang harus meninggal akibat kekejaman G30S/PKI.

Seperti yang dikisahkan pengguna akun facebook bernama Dian Andryanto ini, sebuah narasi mengenang bagaimana seorang anak jendral meninggal dunia akibat tembakan yang dilakukan pasukan Tjakrabirawa.

PERISAI AYAH...

Peluru yang ditembakkan dari jarak dekat pasukan Tjakrabirawa itu menembus tubuh kecilku. 

Peluru itu kemudian bersarung di limpa. Enam hari aku mencoba bertahan. Sebelum tak kuasa lagi, kemudian berpulang, 6 Oktober 1965.

Aku hanya anak kecil, yang cuma ingin bermain, bersekolah, dan suka cita bersama ayah, ibu dan kakakku. Aku bocah perempuan yang sedang senang-senangnya menggunakan pakaian Kowad, korps wanita angkatan darat.

Aku tak tahu apa-apa tentang kejamnya orang-orang dewasa dilumuri ambisi durjana. Sebelum 1 Oktober itu, entah mengapa aku senang menyanyikan lagu "Gugur Bunga", berulang-ulang, tentang rasa sedih kehilangan pahlawan. Aku pahlawan itu pada akhirnya.

"Papa, apa salah adek?" pertanyaan yang keluar dariku, siapa yang bisa menjawab ketika tubuh kecil ini bersimbah darah. Peluru tak pandang bulu, menerjangku.

"Mengapa Ayah ditembak, Mama?" Aku bertanya. Tak satupun bisa menjawab.

Darah merah itu terus membasahi tubuhku dalam gendongan ibuku. Aku mendengar ibuku berkata keras, "Kalian ke sini hanya untuk membunuh anakku!"

Aku anak kecil itu, terenggut segala masa senangku. Tercabut segala cita-citaku. Terampas bahagiaku oleh peluru yang kalian tembakkan jarak dekat kepadaku. Aku hanya anak kecil, berkali-kali kutanyakan apa salahku. Jawablah!

Kini aku terbaring di pusara bernisan putih, sendiri. Berteman gurat tulisan ayahku, "anak saja jang tertjinta engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ajahmu"

Dalam gendongan terakhir ibuku, aku ditidurkan di sini selamanya.
Kini, kalian meributkan kejadian dini hari 1 Oktober 1965 itu. Lihatlah aku!
....
Angin bertiup kencang siang itu. Bisikan daun-daun seakan ingin mengisahkan lebih banyak lagi tentang Irma Surjani Nasution (Adik), terampas segala darinya 1 Oktober 1965, pukul 03.45.

Terik siang bersimbah duka. Doa untuknya pun tak sudah-sudah.

Unggahan ini pun mendpatkan banyak komentar dari netizen:


Top