Diteriaki "Nek Iso Mlaku Rasah Digawe Ngesot-Ngesot" Pengakuan Pengemis ini Membuat Hati Pilu

Komentar


Terpaksa memutuskan mengemis karena kondisi tubuh tak memungkinkan, Pengemis ini malah dikira menipu karena dianggap bisa berjalan.

Pengakuan pengemis ini membuat bersedih, dari sekian banyak orang yang mengalami hal sama, mereka masih mau berusaha, salah satunya bapak ini, ia memutuskan untuk mengemis setelah kakinya lumpuh karena kecelakaan kerja. mengemis jadi pilihannya karena ia tak bisa apa-apa.

Beda pengemis beda cerita, satu diantaranya kisah pengemis bernama Harno. Dia sempat menjadi bahan pembicaraan di media sosial lantaran meminta minta dengan cara berjalan ngesot.

Baca juga : Bayi ini Alami Pendarahan Otak dan Divonis Hidup Tak Lama, Ternyata Karena Kebiasaan Memijat ini

Bagaimana sebenarnya dirinya? dilansir dari tribunnews yang juga menelusuri pengemis yang sering beraksi di sejumlah pasar di Sleman.

Ia adalah Harno, lelaki yang saat mengemis selalu mengenakan kopiah dan berjalan dengan cara ngesot.

Pria berusia sekitar 45 tahun ini mengaku terpaksa mengemis karena tidak ada pilihan lain. Pria asal Parakan, Temanggung, Jawa Tengah ini tinggal di sebuah kontrakan di Tegal Mlati Jombor Lor, Sleman.

Saat ditemui, Harno tampak segar setelah selesai mandi. Namun terkait kondisi fisiknya, Harno bersumpah bahwa ia memang tidak bisa berjalan. Ia juga mengaku terpaksa mengemis untuk mencukupi kehidupannya.

Harno memutuskan menjadi pengemis setelah kakinya lumpuh pascakecelakaan kerja. Sekira dua tahun lalu, Harno yang merupakan kuli bangunan bekerja di sebuah gedung bertingkat. Namun oleh mandornya, ia dicelakai dan terjatuh hingga mengalami kelumpuhan pada kakinya.

Pasca kejadian tersebut, Harno menghabiskan hari-harinya di kediaman orangtuanya. Hari-hari dihabiskan untuk melamun meratapi nasibnya.

"Ketimbang di rumah cuma melamun meratapi nasib, saya putuskan buat ngemis," ujar pria yang mengaku masih bujang ini, Selasa (10/10/2017).

Baca juga : "2019, Semua Masyarakat Wajib Terdaftar BPJS Kesehatan, Namun Ada Bebera Penyakit yang Tidak Dicover"

Ada rasa malu

Kota Yogya pun dipilih lantaran dinilai dekat dengan tempat tinggalnya. Selain itu dipilihnya Yogya pun beralasan. Dia malu bila sahabat dan kerabatnya tahu kalau dia mengemis. Untuk itu, Harno memilih mengasingkan diri dari hiruk pikuk tanah kelahirannya.

Harno mengaku, saat ramai dia mampu kantongi Rp150 ribu dalam sehari beroperasi. Jika perolehannya dihitung 30 hari kerja sebulan, maka yang diperoleh Harno bisa mencapai Rp4,5 juta setiap bulannya. Namun, kalau benar-benar apes, dalam sehari dia mungkin hanya bisa membawa pulang Rp35 ribu.

Dengan pendapatan tersebut, Harno mesti pintar-pintar mengatur keuangan agar bisa mencukupi kebutuhan harian serta membayar kos bulanan. "Kalau makan ya seadanya, kadang nempur beras Rp6 ribu, Rp10 ribu. Lauknya seadanya," katanya.

Indekos yang didiami Harno per bulannya Rp500 ribu. Di ruangan kecil tersebut tak ada fasilitas wah. Hanya ada kasur tipis, satu buah lemari pakaian, serta satu buah magicom. Di tempat ini, Harno tinggal bersama pasangan belum resminya, Atun. Wanita asli Semarang inilah yang dengan setia menemani Harno.

–– ADVERTISEMENT ––

Dari pukul 06.00 hingga pukul 16.00, Harno biasa habiskan waktunya untuk hilir mudik menimba rupiah dengan cara meminta-minta. Pasar Gamping, Pasar Godean, Jalan Damai, Pasar Demangan merupakan sejumlah lokasi yang biasa dia datangi.

Kondisi fisik yang dialami Harno tak lantas membuat orang iba. Ia bahkan sering mendapat perlakuan tak senonoh dari pengunjung atau pun pedagang pasar tempatnya mengais rezeki. Mereka rata-rata menduga jalan ngesot yang dilakukannya hanyalah bagian dari triknya agar orang berbelas kasihan pada dirinya.

"Banyak yang mengira pura-pura, bahkan pas di Jalan Damai ada yang neriaki saya nek isa mlaku rasah digawe ngesot-ngesot. Nggih kula mendel mawon, nek sing serik kathah neng kula mendel mawon. Nek pengen reti asline mang mriki mawon, [ada yang berteriak kalau bisa jalan gak usah dibuat ngesot. Kalau yang gak suka banyak tapi saya diam saja, kalau ingin tahu aslinya kesini aja-red]" katanya.

Baca juga :  Karena Terlahir Tak Sempurna Sang Ibu Tega Jual Anaknya ini Pada Pengedar Narkoba, Sungguh Pedih

Kandang bebek

Yang paling membuat Harno pilu adalah saat sejumlah orang mendatanginya untuk mencari kebenaran akan kondisi fisiknya. Saat itu, Harno mengaku diangkat oleh sejumlah orang sambil emosi dan membawa Harno ke kandang bebek.

Di tempat tersebut, Harno dipaksa mengaku akan kebenaran kondisi fisiknya. Harno yang dilanda ketakutan pun hanya bisa mengucap ribuan maaf.

"Ampun.. ampun.. saestu kula mboten saget mlampah, nek kula ngapusi dipateni wae purun, [Ampun ampun..tak bohong saya gak bisa jalan, kalau bohong, dibunuh saja saya bersedia]" ujar Harno mengenang peristiwa tersebut.

"Wong-wong ajeng ngomong napa mawon, monggo. Sik penting kula mboten nyolong, lan ngapusi, [orang orang mau bilang apa saja, silahkan. Yang penting saya tidak mencuri lan berbohong-red]" jelasnya.

Ketika ditemui di indekosnya, memang terdapat kursi roda yang terlipat di depan kamar. Ketika Tribun Jogja menanyai kenapa tidak menggunakan kursi roda, Harno menjawab kakinya akan kejang bila duduk di kursi tersebut.

"Nggak tahu tulang belakang saya ini kenapa, tiap buat duduk di kursi roda kaki saya mengejang. Belum lagi kalau terlalu lama terpapar panas matahari, kepala saya kadang kemut-kemut," keluh pria yang mengaku tidak mengenyam bangku sekolah ini.
Top