Berzikir Tak Putus-Putus Tapi Hati Selalu Lalai, Begini Jawaban Ulama



MULUTNYA MELAFALKAN ZIKIR NAMUN HATI LALAI, bagaimana penjelasaanya ?


Ulama menganjurkan kita berzikir dalam kondisi apapun, agar lebih dekat dengan Allah SWT.

Zikir merupakan amalan mengingat Allah SWT dengan menyebut nama-Nya. Amalan ini dianjurkan untuk dijalankan dengan penuh ketulusan.

Tetapi, kondisi orang saat berzikir berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang mulutnya melafalkan zikir namun hati lalai, tetapi ada juga orang yang mulutnya berzikir dan hatinya terjaga.

Baca juga : Pengakuan Para Pencari Pesugihan, dan Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Ulama kenamaan Ibnu Athaillah, membuat uraian tentang zikir dalam kitabnya Al Hikam, menyitir Surat Ibrahim ayat 20.

Jangan tinggalkan zikir karena kelalaian hatimu yang tidak bersama Allah karena kelalaian tanpa zikir lebih buruk daripada kelalaian dengan zikir. Bisa jadi Allah mengangkatmu dari zikir dengan kelalaian ke zikir dengan hati terjaga, dari zikir dengan hati terjaga ke zikir dengan hati waspada, dari zikir dengan hati waspada ke zikir fana. Allah berfirman, 'Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit.'

Ibnu Athaillah sangat menganjurkan setiap Mukmin berzikir, meskipun dalam keadaan hati lalai. Karena bagi Ibnu Athaillah, zikir adalah jalan bagi mereka yang ingin dekat dengan Tuhannya.

Sebagian ulama bahkan menyebut zikir sebagai kunci pembuka penyatuan seorang hamba dan Allah. Melalui zikir, seorang hamba dapat memasuki majelis mulia bersama Allah SWT. Hal ini  disebutkan oleh Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi berikut ini. Menurutnya, tidak ada ketentuan terhadap lafal zikir. Artinya, zikir dengan lafal yang mana saja dapat membuka pintu langit.

أقول الذكر المأمور به من الأستاذ سواء كان قولك "لا إله إلا الله" أو "الله" أو غير ذلك بحسب ما يراه هو مفتاح لِبَاب لُباب شهوده ووجود وحدة المذكور وأصل أصول وصول الأرواح والأسرار إلى حضرات الحضور

Artinya, “Menurut saya, zikir yang diperintahkan ustadznya apakah itu ‘Lâ ilâha illallâh’, ‘Allâh’, atau zikir lainnya sesuai pertimbangan kemaslahatan ustadz adalah kunci pintu ruang utama penyaksian Allah, penyatuan dengan-Nya, pokok dari fondasi kehadiran (wushul) jiwa-jiwa suci di majelis Allah nan suci lagi mulia,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 51).

Baca juga : Sakit Gigi Tak Kunjung Sembuh ? Baca Doa dan Amalan Mustajab ini Dijamin Sakit Gigi Kabur

Syekh Zarruq memandang pentingnya zikir. Menyebut asma Allah dapat menghidupkan batin seseorang. Tetapi lupa akan Allah dapat berakibat fatal, jatuh di lembah maksiat.

تنبيه: الذكر حياة القلب والغفلة موته وغايتها تنتهى لاستحسان القبيح ومبدأ ذلك نسيان قبحه

Artinya, “Peringatan: zikir itu menghidupkan hati. Lalai itu mematikan hati. Sementara puncak dari kelalaian itu nanti berakhir pada menganggap baik sesuatu yang sebenarnya adalah tidak baik. Sedangkan awal dari semua itu adalah lupa atas ketidakbaikan hal itu,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 61).

Selalai apapun, zikir tetap harus dilakukan karena zikir dapat mendekatkan kita kepada Allah. Kalaupun baru berzikir dengan hati lalai, minimal lisannya sudah dekat dengan Allah. Sebagai manusia, kita hanya berusaha. Selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT.

لأن ترك الذكر فيه بعد عن الله تعالى بالقلب واللسان بخلاف الذكر فإنك إن بعدت عنه بقلبك فأنت قريب بلسانك فعليك أن تذكر الله به وإن كان قلبك غافلا حال الذكر... فعلى المريد القيام بالأسباب ومن الله الوصول ورفع الحجاب

Artinya, “Tidak zikir itu tanda jauh dari Allah baik secara hati maupun lisan. Lain halnya dengan zikir karena meskipun hatimu jauh dari Allah, lisanmu tetap dekat dengan-Nya karena itu kau tetap harus menyebut nama Allah sekalipun hatimu lalai terhadap-Nya saat zikir... (untuk sampai ke sana) seorang murid hanya berkewajiban menjalani sebab (sebagai syariat), sementara kesampaian dan terangkatnya hijab adalah wewenang Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, tanpa tahun, juz I, halaman 40). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Top