Bayi Lahir Premature, Ini Waktu Yang Tepat Untuk Pemotongan Tali Pusar Pada Bayi

Komentar


SEDIKIT MENUNDA PEMOTONGAN TALI PUSAR PADA BAYI TERNYATA ADA MANFAATNYA LOH BUNDA, TERLEBIH UNTUK BAYI SEPERTI INI.

Berikut ini beberapa dampak bila ada perbedaan waktu pemotongan tali pusat pada bayi.

Artikel kali ini adalah artikel sederhana tentang pembahasan pemotongan tali pusar.

Artikel ini dirangkum dari tulisan dr. Setyadewi Lusyati, SpA(K), PhD pada kelompok kerja neonatologi RSAB Harapan Kita seperti yang dikutip dari kedokteran-kesehatan.blogspot.co.id.

Artikel ini ditujukan untuk menambah bahan seputar pemotongan tali pusar pada artikel ini.

Berikut ini beberapa dampak bila ada perbedaan waktu pemotongan tali pusat pada bayi prematur:

  • Terdapat perbedaan nilai hematologi yang sangat jelas bila dilakukan perbedaan waktu pemotongan tali pusat pada bayi yang prematur.
  • Terdapat perbedaan nilai hematokrit yang sangat jelas antara waktu pemotongan tali pusat pada bayi prematur segera setelah lahir dan saat 1 menit yaitu 45% dan 55% (Saigal, 1972).
  • Ibrahim (2000) mendapatkan bahwa usia gestasi yang semakin kecil akan menunjukkan perbedaan nilai hematokrit yang semakin kentara. Pada bayi berusia kurang dari 29 minggu memperlihatkan nilai hematokrit 39% pada pemotongan tali pusat kurang dari 10 detik setelah lahir dan 50% pada saat 20 detik setelah lahir.
  • Perbedaan pemotongan tali pusat ini juga akan berdampak pada kejadian anemia akibat defisiensi zat besi (Fe) bila tidak diterapi dengan baik. Algarin C, et. al. juga dalam Peadtric Res. 2003 menyimpulkan dari laporan penelitian akhir-akhir ini bahwa didapatkan adanya dampak positif pada waktu pemotongan tali pusat yang lama terutama pada nilai-nilai hematologi dan cadangan zat besi pada usia-usia 6 bulan berikutnya. Lebih lanjut lagi, waktu pemotongan tali pusat pada bayi normal sekitar 60 detik ialah waktu yang optimal yang dapat dipertimbangkan membantu meningkatkan persediaan dan cadangan zat besi pada kehidupan selanjutnya.

Waktu pemotongan tali pusat dengan menunda 60 menit bukanlah waktu yang lama. Hal ini dapat dengan mudah dipraktikkan pada bayi baru lahir yang tidak memiliki masalah medis. Selama melakukan perawatan rutin termasuk inisiasi menyusui dini di atas perut ibu, penolong persalinan dapat menunda melakukan pemotongan tali pusat.

Lantas, bagaimana bila sang bayi membutuhkan tindakan resusitasi termasuk pada bayi prematur? Pada kondisi khusus ini, penundaan tindakan resusitasi selama sekitar 60 detik bukanlah tindakan yang bijak dan tepat. Justru ini bertolak belakang dengan kaidah dan prinsip resusitasi. Resusitasi memiliki kaidah yaitu harus segera dan setepat mungkin dilakukan.

Pada laporan studi kasus dari Hosono S, et al. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed 2008 mebuktikan bahwa pada situasi yang tidak memungkinkan untuk menunggu, tali pusat dapat dilakukan pemotongan segera, tetapi lebih panjang sekitar 20 cm dengan maksud untuk memudahkan melakukan pengurutan tali pusat (milking). Dengan begitu, diharapkan bayi tetap mendapatkan efek transfus plasenta seperti pemotongan tali pusat yang ditunda agak lambat.

Penelitian telah dilakukan pada bayi prematur usia kurang dari 29 minggu dan terus diikuti hingga usia 3 bulan, Penelitian tersebut membandingkan bayi prematur yang mendapatkan millking dan yang tidak mendapatkan milking. Hasil pada kelompok milking didapatkan:

- Kebutuhan ventilasi dan oksigen yang lebih rendah
- Kebutuhan dan frekuensi transfusi yang lebih jarang
- Memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit yang lebih tinggi
- Tidak adanya efek samping hiperbilirubinemia dan perdarahan intrakranial yang lebih tinggi.

Pada meta-analisis terhadap 15 penelitian pada kelompok bayi prematur (24-36 minggu) yang membandingkan antara kelompok pemotongan tali pusat lambat dan dunia ditambah milking menunjukkan hasil yang tidak berbeda dalam hal:

1. Kebutuhan akan terapi hipotermia
2. Kajeadian keadaan asfiksia
3. Terjadinya mortalitas
4. Munculnya gangguan pernafasan (sindrom gawat nafas, kebutuhan ventilasi mekanik, oksigen, atau surfaktan).

Bayi yang memerlukan resusitasi harus dipisahkan dari ibunya dikarenakan tindakan resusitasi perlu dilakukan segera.

Kondisi pada periode transisi, yaitu terjadi penurunan pada tahanan di paru-paru seiring dengan mengembangnya alveol. Waktu pemotongan tali pusat akan memberikan efek dan dampak berupa:

1. Pemotongan pada arteri umbilikalis akan memberikan efek peningkatan tekanan darah sistemik dan peningkatan beban ventrikel kiri (afterload).
2. Pemotongan pada vena umbilikalis akan memberikan efek terhadap penurunan pengisian ventrikel dan atrium kanan.

Keadaan bayi yang memerlukan tindakan resusitasi, akibat dari tahanan paru yang masih relatif tinggi mengakibatkan terjadinya penurunan aliran darah ke bagian atrium kiri dan akibat tingginya afterload akibat dari pemotongan tali pusat mengakibatkan cardiac output terjadi penurunan. Penurunan ini dapat menyebabkan hipotensi dan gangguan aliran darah otak.

"Jadi disimpulkan bahwa tiap-tiap bayi yang memerlukan resusitasi  pada saat yang sama juga membutuhkan transfusi plasenta

Catatan Penting:

The American College Obstetrician and Gynecologist dan ILCOR (Desember 2012) merekomendasikan:“Berdasarkan beberapa laporan penelitian dan meta-analisis, disarankan untuk melakukan pemutusan tali pusat sekitar waktu 30-60 detik dan bisa ditunda hingga 2 menit,demikian juga halnya terhadap bayi prematur (jika memungkinkan untuk dilakukan)”
Top