Kisah Penuh Hikmah, Putri Al Mishri dengan Ikan yang Bertasbih



Bacalah Kisah ini, Temukan Hikmah dan Istimewanya Ikan yang Dimaksud.

Maha besar Allah dengan segala keagungannya. Tak hentinya kita diberikan keberkahan dan kenikmatan serta hal-hal yang menakjubkan, agar kita sebagai manusia tetap rendah hati dan menghamba pada Allah dengan baik.

Dzunun Al-Mishri adalah tokoh tasawuf yang cukup terkenal, melalui ‘tangannya’ seorang biduanita bernama Rabi’atul Adawiyah bertaubat kepada Allah dan kemudian oleh Allah mengampuninya bahkan mengangkatnya menjadi salah seorang kekasih-Nya.

Ada pula cerita unik tentang Dzunnun al-Misri yang menyibak hikmah di dalamnya. Alkisah Dzunnun Al-Mishri adalah orang yang gemar memancing ikan. Saat bulan puasa, sambil ngabuburit, ia biasa berburu ikan di sungai, ikan yang didapat dari memancing itu lalu dimasak dan dimakan sebagai menu buka puasa.

Suatu hari, Dzunun Al-Mishri mengajak anak perempuannya ikut memancing. Saat itulah  tiba-tiba putrinya mengingatkan kepada ayahnya yang sufi, ‘alim, dan muhadits itu bahwa ikan yang ada di sungai tersebut sedang dan selalu bertasbih kepada Allah.

Kalau sampai ikan tersebut diambil, disembelih lalu dimakan maka mereka akan berhenti berdzikir kepada Allah. Akhirnya, Dzunun Al-Mishri mengiyakan perkataan anaknya, lalu pulang tanpa membawa ikan. Sejak saat itu Dzunnun Al-Mishri ‘pensiun’ menjadi pemancing dan selalu bertawakal kepada Allah, tentu saja setelah melakukan ikhtiar tanpa mengganggu makhluk Allah yang ada di muka bumi.

BACA JUGA : Kisah Inspiratif Kakek-Kakek Asal Indonesia Ketika Di Makkah, MasyaAllah

Akhirnya Allah Swt membalas Dzunun Al-Mishri dan putrinya itu dengan makanan surga, setiap Maghrib selalu datang pasukan elite yang membawa makanan super lezat. “Ini makanan dari Sang Raja untuk kalian berdua,” kata pasukan itu.Begitu setiap hari selama 30 tahun.

Setelah 30 tahun berlalu putri Dzunun Al-Misri wafat dan sejak saat itu pasukan elite utusan Sang Raja tidak lagi datang membawa makanan ke rumahnya dan menyadari bahwa anugerah itu merupakan karomah dari putrinya.

Kisah ini disampaikan oleh KH Tb Ahmad Rifqi Chowas dalam pengajian pasaran di Pasantren Daarussalam Buntet, Cirebon. Menurutnya, kisah ini sangat terkenal, dan banyak ditemui di beberapa kitab seperti kitab Jami’ Karamatil Auliya, Thabaqatul Kubra karya Imam Sya’roni, dan lain-lain.

Maka sesering mungkin kita bertasbih dan mengagungkan akan kebesaran Allah. Mensyukuri setiap kehidupan yang diberikan agar nikmat serta keberakan dalam hidup kita semakin bertambah.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah, jika kita masih yakin akan Allah adalah Tuhan semesta alam, tidak akan ada rasa ragu sedikitpun untuk meyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberi keadilan. Setiap manusia sudah diberi jatah kehidupan.

Rizki akan datang dari arah manapun yang tidak akan pernah manusia sangka, manusia memang punya pintu, tapi Allah tidak butuh pintuk untuk memberikan rizki pada siapa saja yang memang memang membutuhkan dan meminta. Semoga kita semua menjadi hamba yang pandai bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Amin
Top