Idamkan Anak Penurut dan Patuh? Kuncinya Sikap Orang Tua Seperti ini yang Bisa Membentuknya



ANAK PENURUT KARENA KITA PEMBENTUKNYA

Seorang ibu memiliki tujuh orang anak. Tentu orang bertanya-tanya, anak 1-2 aja sudah repot, banyak maunya, rewel , ngurusi makan minumnya, bagaimana dengan ibu tersebut yah? Pasti lebih repot lagi. Belum lagi mereka pada bertengkar, Wuih, baru membayangkan saja sudah pusing apalagi menjalaninya ya?"

"Aku heran, anaknya 7 tapi nilainya bagus-bagus.", kata yang lain "yah, wajarlah emak-bapaknya pintar!" Aduh, please deh! Ngapain ngurusin rumahtangga orang? Kalau itu untuk kemajuan, jadikan contoh. Kalau tak baik jadikan pembanding yang membangun.

Coba simak tulisan berikut,jika anda ingin mengetahuinya:

Seorang ibu memiliki tujuh orang anak. Tentu orang bertanya-tanya, anak 1-2 aja sudah repot, banyak maunya, rewel , ngurusi makan minumnya, bagaimana dengan ibu tersebut yah? Pasti lebih repot lagi. Belum lagi mereka pada bertengkar, Wuih, baru membayangkan saja sudah pusing apalagi menjalaninya ya?"

"Aku heran, anaknya 7 tapi nilainya bagus-bagus.", kata yang lain "yah, wajarlah emak-bapaknya pintar!" Aduh, please deh! Ngapain ngurusin rumahtangga orang? Kalau itu untuk kemajuan, jadikan contoh. Kalau tak baik jadikan pembanding yang membangun.

Di saat orang kasak-kusuk mencari tahu dan sibuk dengan komunitas gunjingannya, sebuah keluarga sederhana sedang membentuk karakter keluarga. Zaman sekarang, anak banyak dianggap rendah oleh sebagian orang, dianggap berpendidikan rendah dan dianggap kurangnya pengetahuan tentang program pemerintah mengenai keluarga berencana.

Jika dulu anak banyak adalah kebanggaan dan jadi prestise tersendiri. Mana yang benar? Menurut saya, sedikit atau banyak anak itu pilihan. Yang paling utama adalah cara mendidik dan mempertanggung jawabkannya. Sedikit atau banyak, jika kita sebagai orangtua tidak bisa menjadikan anak berkualitas di masyarakat apalagi dihadapan Sang Khalik, tentu kita adalah orangtua yang gagal. Atau justru orang yang cuma sibuk dengan mengoreksi urusan orang, sehingga tak mampu mengoreksi keluarganya sendiri.

Anak adalah titipan Ilahi, dimana pertanggungjawabannya sampai pada titik akhir yaitu akhirat. Mengapa kita tidak mencoba menjadikan mereka investasi akhirat sebagai muaranya? Jika orientasi kita pada kebaikan anak dan kebaikan kita juga sebagai orangtua, maka seharusnya kita memperbaiki cara didik terhadap anak.

Apa kaitannya antara ilustrasi cerita di atas dengan anak penurut? Masyarakat sekarang lebih sering menjadi 'pemerhati' bukan sebagai pelaku. Sibuk menjadi komentator tapi tak mampu jadi pemain.

Apakah yang dikatakan sebagai anak penurut itu yang hanya berkata 'ya bu atau ya ayah'.

Kalau jawaban kita seperti itu, coba periksakan anak kita ke psikolog atau dokter khusus. Anak penurut menurut saya bukan karena iya jawabannya, tetapi mengerti apa yang kita maksud dari perintah orangtua, dari sisi benar atau salah.

Jika si anak berargumen dari apa yang kita perintahkan, ditelisik dahulu, benarkah argumentasinya atau justru kita yang salah menyuruhnya. Jika begitu kita jangan buru-buru menganggapnya bukan tipe penurut.

Dapat juga anak mengerjakan perintah orangtua karena malas berdebat atau berargumen dengan orangtua.Menurut saya,ini lebih berbahaya karena dapat menjadi 'budaya' Asal Bapak/Ibu Senang (ABS).Bukankah selama ini kita seringnya menggunakan budaya tersebut yang berdampak pada krisis moral?

BACA JUGA: Inilah 7 Karakter Orangtua Calon Pemilik Anak Sukses, Bunda Masuk Kategori Nomor Berapa?

Seperti yang dikutip dari majalahummi, anak penurut tentu ditanamkan akidah, moral, tata krama dan kebiasaan orangtua. Mampu menerima perbedaan sudut pandang. Orangtua tidak bisa meletakkan kekuasaan bahwa apapun kemauan, pendapat maupun perintah orangtua adalah yang paling benar, absolut sehingga anak tidak punya ruang untuk memberikan pendapatnya. Dan kemudian memberi cap 'anak pembangkang'.

Jangan jadikan anak sebagai pemuas obsesi orangtua, sehingga menganggapnya bukan anak penurut.Tapi, berikanlah yang terbaik untuk anak, dalam pengasuhan orangtua, dan meneladani bukan hanya sekedar pemerhati kehidupan orang lain yang kadang justru lebih baik daripada kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita bersama.
Top