"kalau dipukul, balas pukul lagi ya" Jelas Cara Ini Salah, 7 cara Ini Hentikan Anak Suka Memukul

Penulis Penulis | Ditayangkan 26 Aug 2017



Dalam berperilaku, anak-anak biasanya meniru orang dewasa. Ia juga akan mempelajari efek dari perilakunya terhadap orang lain, terutama figur lekatnya dalam hal ini orang tua. Ini 7 Cara Menghentikan Anak memukul

Ada  orangtua yang secara tidak langsung mengajari anaknya untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Bahkan membiarkan saja anaknya berprilaku kasar kepada orang lain. Terkadang jika anak dipukul oleh temannya, orang tua malah meminta anak “Kalau dipukul, balas pukul lagi ya” seperti yang dilansir dari laman sayangianak.

Dalam berperilaku, anak-anak biasanya meniru orang dewasa. Ia juga akan mempelajari efek dari perilakunya terhadap orang lain, terutama figur lekatnya.

Ia akan mempelajari reaksi figur lekatnya ketika ia merangkak, menyebutkan kata-kata tertentu, termasuk juga ketika ia mencubit, menjambak, memukul dan bahkan menggigit. Perilaku yang mendapatkan respons yang ia anggap positif, akan cenderung diulang.

1. JANGAN MEMUKUL BALIK, LEBIH BAIK BILA ANDA MEMPERINGATINYA DENGAN TEGAS SERTA MEMBERIKAN DIA KONSEKUENSI

Bagi sebagian orangtua,  memukul merupakan tindakan yang tepat untuk mendisiplinkan si kecil. Memukul atau menampar anak adalah cara sederhana agar dia mau mengerti. Namun, memukul balik bisa membuat anak menjadi bingung karena Anda menasihati mereka dengan cara yang sama. Akan lebih baik bila Anda memperingatinya dengan tegas serta memberikan dia konsekuensi yang mendidik.

2. CARI TAHU APA PEMICUNYA, CARA INI BISA MEMBANTU ANDA MENGURANGI SIKAP ANAK YANG SUKA MEMUKUL

Bila anak Anda sering memukul, perhatikan apa pemicu sebenarnya. Apakah dia melakukan itu karena lelah, bosan, lapar, atau marah? Selain itu, bisa jadi dia juga terpengaruh oleh lingkungan keluarga atau sekelilingnya. Untuk mengatasi hal ini, coba perhatikan anak saa bermain lalu amati reaksinya terhadap anak-anak lain. Pastikan kalau dia tidak memukul, terutama ke wajah. Cara ini bisa membantu Anda mengurangi sikap anak yang suka memukul.

3. KADANG, ANAK MEMUKUL KARENA MEREKA INGIN MENDAPATKAN PERHATIAN LEBIH DARI ORANGTUANYA, TUNJUKKAN CARA BERKOMUNIKASI YANG BAIK

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak sebenarnya tidak memukul orangtua karena marah atau frustasi, tapi karena mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari Anda. Kunci untuk mengubah perilaku buruk tersebut dengan menunjukkan cara berkomunikasi yang baik. Sebagai contoh, kalau anak Anda kesal, lalu memukul, sebaiknya Anda cepat merangkul serta memeluknya. Beritahukan bagaimana cara menepuk lengan atau wajah dengan lembut. Ingat, mengubah kebiasaan si kecil memang butuh kesabaran.

4. BUATLAH KOMUNIKASI YANG MENYENANGKAN, CARA INI DAPAT MENGURANGI KEBIASAAN BURUK ANAK ANDA SEIRING BERJALANNYA WAKTU

Beberapa anak memiliki kebiasaan alami untuk menggunakan tangan mereka sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, Anda perlu mengajari mereka dengan membuat komunikasi yang menyenangkan.

Misalnya, begitu dia ingin memukul, cepat intervensi dengan menggerakkan tubuh dan katakan ‘ayo tos’. Hal itu akan membuat si kecil bingung, bisa jadi tersenyum dan tidak menjadi melakukannya. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan buruk anak Anda seiring berjalannya waktu.

5. SEDIAKAN BANYAK WAKTU UNTUK ANAK ANDA

Luangkan waktu yang banyak agar bisa mengubah kepribadian si kecil. Sering-seringlah memeluk serta mengajak mereka bermain agar dia semakin dekat dengan Anda. Ajarkan dia menggunakan tangan secara lembut hingga anak benar-benar bisa mempraktekannya.

6. JARKAN ANAK MENARIK NAFAS PANJANG, INI MENGURANGI KEBIASAAN ANAK YANG SUKA MEMUKUL

Ternyata mengajarkan anak untuk mengendalikan emosi dengan menarik nafas panjang bisa membantu mengurangi kebiasaan anak yang suka memukul, menggigit dan menjambak. Ajaklah anak untuk mengikuti gerakan yoga dengan duduk bersila dan merentangkan tangan selebar mungkin. Tarik nafas panjang dan biarkan anak menikmati rasa rileks dan nyaman.


7. LATIH ANAK UNTUK MENGUNGKAPKAN EMOSI DENGAN EKSPRESI YANG SESUAI

karena kemampuan bicara anak anak umumnya belum optimal sehingga tidak dapat mengungkapkan emosi dengan kata-kata. Beri contoh dan latih anak untuk mengungkapkan emosi dengan ekspresi yang sesuai, seperti memeluk atau bertepuk tangan untuk rasa senang, atau menangis untuk rasa sedih. Tunjukkan ekpresi wajah seseorang jika sedang marah. Bila anak sedang marah, coba tanyakan kenapa dia marah, lalu bantu mencari penyelesaiannya.
SHARE ARTIKEL