Teruntuk Kedua Orang Tuaku, yang Telah Tercetak Jelas Keriput di Wajah Ayah dan Ibu

Komentar
Masihkah kita berharap mereka mendampingi kita sampai nanti?, karena pasti ayah dan ibu kian hari kian menua adanya.


Tidak ada Agama yang tidak mengajarkan untuk berbakti kepada orangtuanya. Orang tua akan sangat bahagia memiliki anak yang selalu hormat dan memberikan perhatian kepada mereka.

Ulasan terkait : "Ketika Ayahku Wafat dan Hal Aneh Terjadi, Ternyata Penyebabnya Karena Shalawat 100 Kali Sebelum Tidur"

Namun, tak semua anak bisa menghormati orang tuanya dengan “baik”. Kebiasaan dalam pergaulan serta kemajuan jaman membuat tingkah laku anak (terutama yang sudah berumah tangga) terhadap orang tua menjadi kurang peduli.

Bahkan banyak yang kurang sesuai dengan pandangan orang tua yang kebanyakan tidak terlalu fasih dengan teknologi internet seperti anak muda usia dewasa ke atas di masa sekarang ini.

Hal ini wajar karena orangtua kita (bagi Anak usia 25 tahunan ke atas) kebanyakan hidup pada masa mudanya belum memiliki fasilitas internet dan memiliki pola pergaulan dan tata krama yang berbeda.

Sebagai anak sudah sepatutnya lebih bersabar karena bagaimana pun orang tua adalah orang yang paling besar jasanya sehingga kita bisa seperti sekarang ini.

Masih ingatkah kita, beberapa tahun yang lalu, ibu dengan segenap tenaga dan perjuangannya mengandung kita? Membawa kita ke mana pun ia pergi dan berada.

Sembilan bulan lamanya ia ikhlas dan tabah menjaga kita sang buah hatinya.

Masih ingatkah kita, saat bayi, kita terjaga dan merengek di gelapnya malam, ibu bangun dan ayah pun terjaga. Demi kita, demi si buah hatinya. Ia gendong dan bujuk kita agar diam dan kembali tidur dalam lelapnya malam.

Dan ingatkah kita, saat mulai beranjak sekolah TK, kita merengek dan meminta ingin dibelikan mainan ini dan itu, padahal ayah sedang tak punya uang banyak.

Ia rela meminjam dan berusaha demi membelikan mainan yang kita pinta, demi bahagianya sang anak yang dicinta.

Ingatkah kita, saat masuk Sekolah Dasar (SD), ibu antarkan kita hingga pintu kelas.

Lalu ia berbisik dan mencium kita, “Nak, sekolah yang rajin agar kelak kau menjadi orang berhasil.

Kita pun mengangguk lugu dan seolah paham dengan makna yang disampaikan ibu.

Lalu ingatkah kita, saat diri ini telah lulus SMA dan melanjutkan kuliah.

Betapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk itu, betapa berat (sebenarnya) ayah dan ibu melepas kita ke negeri orang, negeri rantau. Namun banyaknya biaya, ayah usahakan mendapatinya. Entah itu meminjam atau lembur di pekerjaannya.


Ulasan terkait : Untukmu yang Sedang Berusaha, Ini 5 Cara Ampuh Ambil Hati Calon Mertua dari Suku Jawa

Dan sekarang, saat diri ini mulai mencapai puncak keberhasilan, masih ingatkah kita pengorbanan dan perjuangan kedua orang tua dulunya?

Atau kita seolah-olah lupa dan berpura-pura keberhasilan hari ini dicapai karena perjuangan diri sendiri, tanpa sadar bahwa dulu ada peran besar ayah dan ibu yang menyertai kita.

Sejenak, marilah kita merenung tentang perjuangan, tentang ayah dan ibu yang kian hari kian menua.

Ingatlah bahwa orang tua kelak tidak akan berada di sisi kita selamanya, oleh karena itulah, mulai hari ini usahakanlah untuk membuat senyum selalu tertera di wajah mereka.

Senyuman yang menyiratkan bahwa mereka bangga telag memiliki seorang anak yang tulus dan berbakti.

Hingga pada akhirnya kita pun menjadi seorang anak yang mendapatkan ridha Allah SWT dari ridha kedua orang tua kita untuk kehidupan yang lebih baik.
Top