Pekerja Muslim di Amerika Ditanya Pilih Agama Atau Pekerjaan, Akhirnya Inilah Balasan yang Diterima Bosnya

Komentar
Tidak seperti Indonesia yang sebagian warganya muslim, di Amerika begitu sedikit. Karena itulah, semakin banyak cobaan yang mereka hadapi. Termasuk juga saat mereka bekerja. Seperti kasus 16 karuawan muslim di Michigan, AS ini yang harus memilih antara pekerjaan atau agama mereka.


BACA JUGA: Lifehack Pasta Gigi Untuk Hilangkan Goresan di Layar Hp, Ternyata Seperti Ini Faktanya, Jangan Sampai Salah!
Dikutip dari merdeka, merekapun pasti memilih agama. Akibatnya, mereka dipaksa mengundurkan diri "secara tidak langsung". Kasus ini berawal saat karyawan minta wakfu istirahat selama Bulan Ramadhan. Mereka meminta agar jam makan mereka dimundurkan dari pukul 19.00 menjadi 21.00, bertepatan dengan waktu berbuka puasa.

Usulan tersebut disampaikan oleh karyawan muslim yang kebetulan mendapat jam kerja dari pukul 14.00 sampai 22.00. Namun permintaan itu ditolak pihak perusahaan. Malahan, karyawan yang mengusulkannya diminta menentukan mana yang lebih penting, agama atau pekerjaan mereka.

Mereka pun secara bulat memilih mengundurkan diri. "Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan disebutkan dengan jelas bahwa seorang atasan memiliki kewajiban untuk mengakomodasi permintaan karyawan, selama itu masuk akal. Terlebih jika itu berkaitan dengan keyakinan mereka. Namun Brose gagal melakukan hal itu," kata Cary McGehee, salah satu kuasa hukum yang mewakili para karyawan tersebut, seperti dilansir dari laman Independent, Minggu (30/7).

"Dari penyelidikan independen dan dari diskusi dengan klien kami, tidak ada perbedaan dalam kebutuhan produksi perusahaan tahun ini jika pihak perusahaan mengabulkan permintaan tersebut," tambahnya.

Kendati demikian, pihak Brose Jefferson mengelak telah mendiskriminasi karyawannya. Pihaknya mengatakan setiap permintaan dari karyawan pasti dipertimbangkan secara hati-hati.

"Perusahaan kami adalah satu-satunya tempat yang menerima keberagaman ras, etnis, gender, generasi dan agama para karyawannya," demikian pernyataan dikeluarkan perusahaan tersebut.

"Sayangnya, tahun ini sekelompok pria Muslim tidak puas dengan akomodasi yang dijalankan perusahaan dan memilih hengkang daripada mendiskusikan masalah ini lebih lanjut. Brose tidak berniat membawa kasus ini ke ranah media, tetapi fakta-fakta yang dicantumkan dalam siaran pers mantan karyawan kami tidak benar," lanjut pernyataan tersebut
Top