Bercermin dari Harga "Ngemplang" di Malioboro, Makanan di Mall Mahal Kok Nggak Ada yang Protes?


Sebelum makan ada baiknya untuk membaca daftar menu terlebih dahulu. Jangan asal gaya ya.

Belum lama ini kita mungkin mendengar berita heboh tentang adanya pemerasan dalam bentuk bon makan di salah satu rumah makan di daerah Malioboro. Harga yang fantastis yang dianggap tidak sebanding dengan menu yang dihidangkan menjadi permasalahannya.

Ulasan terkait : Kekasihku Ramadhan yang Telah Pergi, dan Masjid yang Kini Mulai Kembali Sepi

Tidak ingin membela salah satu pihak, baik itu pihak wisatawan ataupun pemilik salah satu rumah makan tersebut, dimana terlepas dari itu semua, pihak wisatawan haruslah lebih teliti jika berbelanja atau membeli makanan / minuman di tempat-tempat wisata. Pun penjual haruslah memberikan daftar harga yang transparan sehingga pembeli bisa memilah sendiri apa yang hendak mereka beli dengan harga yang sudah tercantum.

Seperti pada ulasan dari akun Facebook Saptuari Sugiharto, yang membeberkan perihal harga "ngemplang" di beberapa tempat wisata. Dia bercerita bahwa sebelum kita mulai berperasangka buruk terhadap sebuah tempat makan, apalagi sampai tega membuat usaha tersebut harus ditutup. Sebaiknya pahami kalau mungkin saja sewa tempat tersebut cukup mahal dan pastinya harus diakali dengan pemasukan yang setara.

Oleh karena itulah mereka menetapkan tarif yang di atas rata-rata. Sama seperti halnya tempat usaha di mall-mall.

Sebuah bisnis harus jelas segmen target market yang mau diraih. Mau yang menengah bawah atau menengah atas? Lokasi juga menentukan harga jual, jika harga gak pass bahkan ngemplang maka bakal jadi kasus berkepanjangan.

Kemarin satu lesehan kaki lima di Malioboro dikomplain pelanggan karena ngemplang pembeli. Nasi goreng 90.000 dua piring, es jeruk 15.000, nasi putih 9.000.. pembeli memfoto notanya, upload di sosial media, langsung banjir caci maki disana.. paguyuban pedagang bereaksi cepat, lesehan yang nakal langsung ditutup gak boleh jualan karena menodai para pedagang lesehan Malioboro yang berusaha fair menetapkan harga wajar dan transparan.

Kalau alasan bahan baku naik selama Ramadhan dan lebaran, naik 50% masih bisa dimaklumi, tapi kalau sampai naik 5 kali lipat, itu namanya niat nyikat! Akhirnya malah gulung tikar gak bisa jualan lagi..

Beda kalau di Mall.. kemarin nyoba beli es Jeruk nipis dihargai 28.000, belum termasuk pajak restoran 10% dan servis 5,5%. Anehnya yang makan disana tidak ada yang ngamuk ngupload notanya, memang target pasar yang disasar beda. Walaupun banyak juga yang sering makan di mall hanya untuk gaya, korban konsumtif kartu kredit saja... makan sekarang dengan utang, bayar nyicil belakangan... yang penting nggayaa.. jeprat jepret mringis di sosial media!

Siapapun yang masuk restoran di mall harus siap dengan konsekuensinya.. harga mahal berlipat kali walaupun gak lebaran. 

Kenapa sebabnya mahal?

Alasan paling kena, sewa tempatnya juga muahal!

Saya pernah membuka konter kaos di sebuah mall di Jogja 3 tahun lalu, sewanya 7 juta/bulan ukuran 2x2m. Hehe.. kami hanya bertahan 1,5 tahun setelah dianalisa gak pernah untung malah beberapa kali nombok bayar sewa tempat. Setelah dihitung selama 1,5 tahun kami membayar ke pihak mall 126 juta! Dueeeng!

Apakah buka usaha di mall pasti untung? Kan selalu rame! Belum tentuuu.. sering kita lihat banyak counter yang berganti nama dalam hitungan bulan. Gak mampu bayar sewa tempat, banyak yang menyerah di bulan ketiga. Makanya pihak pengelola pinter, ada yang menyewakan space bayar bulanan. Kalo ada yang bangkrut dalam hitungan bulan, mereka akan cari penyewa baru yang mau uji coba pasar.

Ulasan terkait : "Kalau Bisa Saldo itu Nol Rupiah" Namira Oh Namira, Kapan Semua Masjid Menjadi Sepertimu?

Pokoknya semua tim marketingnya harus bekerja keras semua space di mall tersewa, karena bayar bunga bank yang buat membangun mall juga tidak bisa ditunda. Kalau banyak space tidak tersewa maka tidak ada pemasukan, gak bisa bayar utang, bunga dan denda terus berjalan, paling apes mall disita bank dan dilelang..

Untuk kita pribadi, gaya hidup ngutang bisa ditekan kok, asal kita gak peduli dengan penilaian orang. Buat apa tampak kaya, padahal utangan semua. Sifat pamer gak akan ada puasnya..
Salam,

@Saptuari


Jika sudah seperti ini, tentunya hal-hal atau fenomena seperti ini tidak akan terjadi lain. Karena pihak wisatawan dapat memilih, apakah harga yang ditawarkan oleh si pemilik rumah makan wajar atau tidak. Jika tidak wajar, maka si wisatawan bisa mencari rumah makan lain yang sekiranya sesuai.

Pun wisatawan harus tahu bahwa memang adakalanya tempat makan memberikan harga yang cukup merogoh kantong karena memang harus ada pemasukan yang setara untuk membayar hal ini dan itu supaya usaha mereka bisa tetap berjalan.

So, pahami dengan bijak ya guys!
Top