Taaruf Mendapat Surga, Sementara Pacaran Berhadiah Neraka, Pilih Mana?

Komentar
Remaja saat ini, banyak yang terjebak dengan muslihat setan. Antara pria dan wanita yang bukan muhrim saling berdekatan, apalagi kalau bukan pacaran? Padahal dalam islam, tidak ada kata pacaran, adanya taaruf. Ingat ya, Taaruf berbeda dengan pacaran. Seperti dalam Firman Allah,

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf : 27)



BACA JUGA: Tidak Mampu Mengganti Puasa, Begini Cara Membayarnya Lewat Fidyah

Dari sinilah kita tahu jika pacaran merupakan jalan setan yang lurus menuju neraka. Lihatlah, ayat ini mengingatkan kita pada kisah nenek moyang kita yaitu Nabi Adam dan Hawa yg telah digelincirkan oleh setan (iblis). Allah memperingatkan agar anak keturunan Nabi Adam selalu waspada dari godaan setan.setan itu sungguh licik,dia menggoda secara halus dan setahap demi setahap,asalnya sekedar saling berkenalan akhirnya sampai pada zina.

Saat berduaan dengan pacar,setan menjadi pihak paling aktif membisikkan pada mereka berdua agar menghabiskan waktunya dngn penuh kemesraan. Dari situ setan terus membisikan dan menggambarkan berbagai nikmat, namun ingat itu adalah jurang menuju kehinaan dan jalan menuju neraka. Tiada pikiran untuk kedepannya, hamil, aborsi bahkan sampai penlenyapan diri. Firman Allah,

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

“(Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (QS. An-Nisa : 120)

Padahal taaruf punya kenikmatan dan keutamaan sendiri. Bahkan lebih baik daripada berpacaran, seperti yang dikutip dari taarufan.


Pertama, ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk penjajagan sebelum menikah. Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Jika jodoh maka langsung menikah dan jika tidak maka tidak ada pihak yang dirugikan.

Kedua, ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan maupun keburukannya . Bahkan kalau kita tidurnya sering ngorok, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari.

Jadi si calon enggak bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu (sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus).

Ketiga, dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Bandingkan saja dengan pacaran yang hanya mentingin status berpacarannya. Kapan nikahnya?

Keempat, melalui ta’aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan . Kalau ada hal-hal yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang kurang sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat. Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan Allah melalui sholat istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran.

Kelima, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta’aruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain itu tidak ada perasaan ”digantung” pada pihak perempuan. Karena semuanya sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi sunah Rasulullah yaitu menikah.

Keenam, dalam ta’aruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang artinya kita terhindar dari zina.

Bagaimana? lebih banyak keuntungan taaruf kan daripada berpacaran? Dengan begitu, kita bisa berhubungan baik, dapat pahala dan terbebas dari zina.
Top