Meski Aku Masih Berusaha, Sampai Detik Ini, Sudahkah Aku Berbakti Kepadamu, Ibu?


Sungguh, jasa orang tua apalagi seorang ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, dia mesti menanggung berbagai macam penderitaan. Tatkala dia melahirkan juga demikian. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun dia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Oleh karena itu, jasanya sangat sulit sekali untuk dibalas, walaupun dengan memikulnya untuk berhaji dan memutari Ka’bah.

Artikel pilihan : "Wahai Anakku, Bukan Ke Negeri Seberang, Perjalanan Terberat Ialah ke Masjid"

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrod no. 11. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih secara sanad)

Sebegitu besar jasa yang engkau telah berikan kepadaku wahai ibu, sungguh aku sebagai seorang anak hanya mamu meminta maaf dan tak akan pernah bisa membalsa budimu. Ibu izinkan aku mengutarakan perasaanku, karena engkaulah malaikat yang Allah kirimkan kepadaku, meski diriku kini telah jauh darimu.

Ya ibu, suaramu masih terdengar, mengalun dalam ingatan. Sosokmu terekam jelas, saat hadir di setiap sudut rumah. Masih terasa keberadaanmu, saat kau mengunjungi cucumu. Dirimu hanya berjarak beberapa kilometer dariku. Tapi jasad ini seakan berat berpisah jarak. Tak terbayang, saat diri ini benar-benar mendapati kesunyianmu. Apakah keikhlasan kan mudahku raih?


Artikel pilihan : Kalian yang Menentukan, Ngabuburit Sama Al-Qur'an atau Malah Asyik Hape-an?

Apakah aku sudah menjadi anak yang berbakti di matamu, Bu?

Apakah aku benar menyayangimu? Sedang diri ini terperosok jauh, terjerembab di kubangan dosa.

Bukankah doa yang dapat menembus arasy, adalah doa anak yang berbakti, anak yang soleh dan solehah?
Sedangkan aku belum berada di titik itu. Mendekati pun belum. Saat ini aku sedang berusaha, Bu.
Semoga keinginan itu bukan cuma angan palsu. Karena aku benar-benar menyayangimu. Rasa sayang yang sanggup menjadi penyelamat di alam yang berbeda nanti. Ya, saat aku telah berubah menuju manusia yang masuk kriteria anak yang berbakti.

Saat ini doaku, semoga kesehatan menaungimu selalu. Berharap doamu tak terputus untukku. Agar aku tetap berjalan lurus dalam koridor-Nya. Aamiin.

Semoga Allah memudahkan kita berbakti kepada kedua orang tua, selama mereka masih hidup dan semoga kita juga dijauhkan dari mendurhakai keduanya.
Top