Masihkah Kita Gemar Bermaksiat Meski Membuat Seret Rezeki? Sungguh Tak Tahu Diri


Mengapa shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Ini dikarenakan seorang hamba jika mengerjakannya dengan menyempurnakan rukun-rukun dan syarat-syarat shalat serta memperhatikan ke-khusyuu’-annya, maka hal tersebut dapat menerangi dan membersihkan hatinya, menambah keimanannya, semakin kuat keinginannya untuk berbuat baik dan semakin sedikit atau bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan keburukan.

Artikel pilihan : Jangan Sampai Tergoda, Ini Cara Kalahkan Hawa Nafsu yang Membuncah Saat Puasa

Oleh karena itulah ketika seseorang yang melaksanakan shalat dengan sungguh-sungguh, maka semua godaan untuk melakukan perbuatan dosa bisa dikendalikan. Sehingga bisa dijauhi dan tak akan sampai terjerumus ke dalam kemaksiatan. Kemaksiatan adalah perbuatan yang dilarang Allah Azza wa Jalla. Ia bukan hanya mendatangkan siksa di akhirat nanti, tetapi juga membawa banyak dampak buruk di dunia ini.

Di antaranya, membuat wajah kusam dan rezeki seret. Lantas, bagaimana mungkin maksiat mampu membuat wajah kusam dan rezeki menjadi menjauhi dari kita semua?

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah, cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan makhluk. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang kekusaman pada wajah, kegelapan kubur dan kegelapan hati, kelemahan badan, sulitnya rezeki dan kebencian makhluk

Ibnu Abbas atau Abdullah bin Abbas merupakan salah seorang sahabat yang sejak kecil telah masuk Islam. Ia lahir tiga tahun sebelum hijrah dan sejak kecil dididik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kesungguhan Ibnu Abbas dalam belajar Islam ia wujudkan dengan sering menyertasi Rasulullah bahkan sampai menginap.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah wafat. Ibnu Abbas sangat berduka namun hal itu tak menghentikan proses belajarnya. Ia kemudian berguru kepada para sahabat senior.


Artikel pilihan : Meski Aku Masih Berusaha, Sampai Detik Ini, Sudahkah Aku Berbakti Kepadamu, Ibu?

Ibnu Abbas kemudian menjadi seorang ulama besar di antara para sahabat meskipun usianya masih tergolong muda. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan menjadikannya sebagai ahlu syuro untuk dimintai fatwa dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi kaum muslimin.

Dan inilah salah satu nasehatnya agar umat Islam menjauhi kemaksiatan. Meninggalkan perbuatan buruk dan kedurhakaan. Sebab ia membawa banyak dampak negatif di dunia ini sebelum mendatangkan adzab yang pedih di akhirat nanti.

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَيَٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡاْ مُجۡرِمِينَ

Dan (Hud berkata): “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)

Masihkah pantas kita berbuat maksiat dan masih berharap Allah terus memberi rezekiNya? Sadarlah, tidakkah kita malu padaNya yang telah begitu baik pada kita? Lalu balasan kita adalah dosa dan maksiat? Betapa kita termasuk hamba yang tak tahu diri. Wallahu alam.

Top