Karena Tak Perlulah untuk Kita Memaksakan Diri Agar Orang Lain Mengakui Kita

Komentar

Ada saja saatnya di mana keinginan gagal terpenuhi, mimpi tak tercapai, dan ekspektasimu akhirnya runtuh karena dipasang terlalu tinggi. Yang paling sering terjadi, kita mengharapkan seseorang akan menjadi manusia yang berkata dan mengambil keputusan sesuai keinginan kita. Padahal mereka punya pemikiran sendiri, keinginan sendiri, kepentingan sendiri yang belum tentu bersanding dalam harmoni dengan apa yang kita miliki.

Ulasan terkait : Jangan Keburu Baper, Ini Bedanya Cowok yang Asli Sayang dengan Hanya Kasihan!

Ada titik di mana kita harus mulai mengenal seseorang lebih dalam, menghargai kepribadiannya dan menerima mereka apa adanya. Cobalah dengan tulus mengenal seseorang jika tidak ingin kecewa. Berhentilah menaruh harapan pada mereka terlalu tinggi, serta ya, memang ada hal yang bisa bebas dan ada pula yang harus di dalam kendali.

Sehingga merupakan hal yang lumrah jika dalam bermasyarakat kita menemukan orang yang suka dan tidak suka pada diri kita. Sebaik apapun tabiat orang pasti ada yang tidak menyukai. Begitu pula seburuk-buruknya orang masih ada pula orang yang menyukai.

Orang yang tidak menyukai orang baik bisa dipastikan orang yang tidak suka tersebut memang bukan orang baik. Orang yang masih menyukai orang yang memiliki tabiat buruk barangkali orang yang suka tersebut masuk kategori orang yang buruk pula.

Ketika ada yang tidak menyukai kita dan dengan penuh kesadaran kita tidak pernah berbuat kejahatan, tidak menyakiti orang lain, tidak berbuat ulah yang merugikan orang lain maka kita tidak perlu untuk balik tidak menyukai orang tersebut. Berbuat baik tidak perlu menunggu orang lain harus sepaham dengan kita.

Tidak perlu juga kita berbuat baik setengah mati mengikuti apapun yang orang lain katakan agar kita mendapat simpati lantas orang menjadi suka dengan syarat. Tidak ada gunanya pula kita meyakinkan orang yang tidak suka kepada kita agar menjadi suka, sebab semua itu tentunya akan menguras banyak waktu serta tenaga. Berbuat sebaik yang kita mampu dan jangan pernah kita risau dengan penilaian orang kepada kita. Tanamkan pada diri sendiri bahwa hidup ini tak selalu seperti yang kita harapkan.

Bahkan Rasulullah dengan sifat-sifat mulianya siddiq (benar), amanah (terpercaya), tabliq (menyampaikan), dan fathonah (bijaksana) masih banyak kaumnya ketika itu yang membenci beliau bahkan menyakitinya secara fisik dan mental. Akan tetapi kita ketahui beliau tidak pernah membalas perlakuan buruk umatnya.


Ulasan terkait : Unggah Foto Kembar, Captionnya Beda Bikin Nyesek, Netizen : "Mengheningkan Cipta, Mulai"

Sebaliknya Rasulullah membalas perlakuan buruk umatnya dengan terus berbuat kebaikan. Kita dibandingkan akhlak beliau pastilah bukan tandingannya akan tetapi sebagai umat Muhammad Saw beliau adalah suri tauladan dan kita wajib mencontoh akhlak beliau.

Allah SWT adalah pemegang penuh hati hamba-Nya. Hari ini hati dipenuhi kebencian tapi suatu saat hati bisa berubah 180 derajat menjadi suka. Dan sebaliknya bisa jadi saat ini hati sedang dilanda rasa suka tapi beberapa jam kemudian berubah menjadi kebencian dan semua itu sangat mudah bagi Allah Swt.

Berbuat baik kepada semua orang terlepas orang suka atau tidak suka itu bukan hak kita untuk menghakimi. Tidak perlu juga kita marah dan memendam rasa kecewa ketika orang tidak menyukai kita. Terima keadaannya dengan lapang dada. Ada tiga kesamaan yang sering kita bagi, yaitu mimpi, kebutuhan, dan perjuangan. Saling memberi semangat dan mendukung akan lebih bermanfaat untuk orang lain.

Ingat-ingatlah sakitnya merasa kecewa dan jangan coba-coba ingin merasakannya untuk kesekian kali, maka cobalah untuk menjadi pribadi yang penerima, tulus dan apa adanya. Termasuk jangan memaksakan kehendak pada orang lain tentang apa yang menurut kita benar.
Top