Kalian yang Menentukan, Ngabuburit Sama Al-Qur'an atau Malah Asyik Hape-an?


Istilah kata Ngabuburit itu sendiri berasal dari Bahasa Sunda, Jawa Barat, yang berasal dari kata “burit” yang merepresentasikan waktu yang berarti sore, senja, atau menjelang Maghrib. Istilah Ngabuburit juga umum diucapkan banyak orang ketika menunggu waktu berbuka puasa, tepatnya setelah ba’da Ashar.

Kebanyakan orang juga mengenal istilah Ngabuburit sebagai menunggu waktu berbuka puasa. Kata “menunggunya” itu yang lebih ditekankan dengan cara melakukan aktivitas / kegiatan tak rutin sambil menunggu Adzan Maghrib tiba untuk berbuka puasa.

Also read : "Wahai Anakku, Bukan Ke Negeri Seberang, Perjalanan Terberat Ialah ke Masjid"

Membahas tentang hal itu, sekarang untuk kita ada sebuah pertanyaan, dan kalian yang menentukan, ngabuburit sama Al-Qur'an atau malah asyik hape-an?

Ngabuburit itu asyiknya kalau bisa kumpul sama teman-teman, terus lari-lari di teras masjid. Ada yang mengaji, ada juga yang main kejar-kejaran. Kadang juga main ke taman atau lapangan dekat masjid, terus main petak umpet di sana. Di  lapang, ada yang main sepeda, main loncat tinggi, ucing sabancak, galah, dan permainan tradisional lainnya. Senang sekali rasanya menikmati sore hari di bulan Ramadhan.

Tapi sayangnya, itu semua sudah jarang kita alami. Ngabuburit sembari menghafal Juz ‘Amma bersama teman-teman di teras masjid hanya tinggal kenangan. Kini, kita sibuk dengan beragam aplikasi dalam smartphone. Tempatnya mungkin masih sama, di teras masjid atau di lapang, namun tak ada lagi kehangatan yang kita rasakan seperti dulu.

Kita mungkin saling berhadapan, dan sama-sama menghabiskan waktu sore di halaman masjid. Tapi nyatanya kita tak saling bertemu. Tak ada muraja’ah hapalan ayat seperti yang biasa dilakukan ketika masih anak-anak. Kita tampak menunduk memandangi sesuatu dengan serius. Namun sayangnya, yang kita genggam bukanlah mushaf qur’an. Bukan pula kitab hadits atau buku bacaan bermanfaat.

Kita takut ketinggalan info dari media sosial, karena enggan dikatakan kudet oleh teman-teman. Tapi tidak takut ketinggalan khabar (berita) dalam al-Qur’an.  Kita rajin update status, tapi malas update hafalan qur’an. Saat kuota habis, dan terpaksa meninggalkan gadget, kita merasa kenikmatan telah berakhir. Tapi saat al-Qur’an ditinggalkan, kita tidak merasa ada yang hilang. Padahal, bukankah bencana sesungguhnya itu adalah saat nikmat iman hilang dari hati kita?


Also read : Hanya Mendengarkan Ceramah, Pria Tua Ini Meninggal Berbau Harum di Bawah Naungan Bedug!

Mari, ngabuburit bersama keindahan dan kedalaman samudera al-Qur’an. Selami ayat-ayatnya dengan penuh penghambaan. Ajak teman-teman menjadi partner dalam bertilawah, menghafal, dan mentadaburi al-Qur’an. Jadikan sore di bulan Ramadhan sebagai momentum untuk kembali mendekatkan diri dengan kalam-Nya. Jadikan al-Qur’an sebagai sahabat terbaik yang menemani hari-hari terbaik di bulan terbaik ini. Semoga, kelak al-qur’an benar-benar hadir sebagai syafaat saat hari persaksian tiba. Aamiin… Wallahu ‘Alam bishawab

Abu Umamah al-Bahili ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bacalah al-Qur’an karena ia akan memberikan syafaat kepada para “sahabatnya."” (HR.Muslim).

Siapapun dirimu, apapun profesimu, seperti apapun penampilanmu, kamu berhak untuk lebih baik dan mendekatkan diri pada Tuhan. Jangan malu untuk bertandang ke masjid. Isi waktumu dengan membaca Al-Qur'an, dijamin Ramadanmu jadi lebih berharga. Nah, sudah siap menerapkan? Semoga Ramadan-mu menyenangkan!
Top