Curhat Seorang Ayah Tentang Bocoran UN SMP "Yang Pandai Dapat Nilai Biasa-biasa Yang Nihil Prestasi Dapat Nilai Tinggi"

Komentar
(Curahan Hati Orang Tua atas Dugaan Kecurangan UN)
Menjelang UN SMP, awal Mei lalu, putri kami Riqueza Raihan Nainggolan mengungkapkan kegalauannya. Bagaimana tidak, temannya di sekolah kasak-kusuk membicarakan kunci jawaban.

Hebatnya, KJ, demikian mereka menyebutnya, disebut-sebut bisa didapat di tempat-tempat bimbingan tes.

Riqueza merasa, kesungguhannya mempersiapkan diri menghadapi UN akan sia-sia.

“Tidak, Kak. Tujuan utama Kakak belajar dan bersekolah itu untuk mendapat ilmu, bukan nilai ujian.



Pendidikan di Indonesia memang bisa dibilang masih jauh dari sempurna.

Masih banyak hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan.

Satu diantaranya adalah sistem kelulusan di semua tingkat pendidikan, khususnya di tingkat dasar, dan menengah.

Penggunaan ujian nasional memang dianggap oleh pemerintah mampu menilai apakah seorang murid patut diberi kelulusan atau tidak.

Namun, semua hal pasti ada sisi baik dan buruknya.

Pengawasan yang kurang terhadap soal-soal ujian serta tuntutan dan adanya kesempatan menyebabkan banyaknya bocoran di setiap tahun pengadaan ujian nasional.

Hal ini tentu meresahkan bagi para orang tua, karena anak menjadi tidak lagi berusaha dan berbuat curang untuk mendapatkan kelulusan.

Hal ini dirasakan oleh seorang ayah bernama Toga Nainggolan, ia memiliki seorang anak bernama Riqueza Raihan Nainggolan.

Anaknya yang tahun ini menghadapi ujian nasional tingkat SMP harus bimbang dengan pilihan marak teman-temannya yang meminta bocoran dari orang luar sekolah.

Dari situ Toga menceritakan pengalamannya sebagai seorang ayah yang anaknya digoda dengan bocoran dari UN tersebut.

Berikut ini curhatan dari Toga Nainggolan yang dituangkan di Facebook yang dikutip dari style.tribunnews.com:

"KEJUJURANMU ADALAH HADIAHMU
(Curahan Hati Orang Tua atas Dugaan Kecurangan UN)
Menjelang UN SMP, awal Mei lalu, putri kami Riqueza Raihan Nainggolan mengungkapkan kegalauannya. Bagaimana tidak, temannya di sekolah kasak-kusuk membicarakan kunci jawaban.
Hebatnya, KJ, demikian mereka menyebutnya, disebut-sebut bisa didapat di tempat-tempat bimbingan tes.
Riqueza merasa, kesungguhannya mempersiapkan diri menghadapi UN akan sia-sia.
“Tidak, Kak. Tujuan utama Kakak belajar dan bersekolah itu untuk mendapat ilmu, bukan nilai ujian.
Selain itu, belum tentu KJ itu benar.
Naskah ujian itu kan rahasia negara?” Saya berusaha meyakinkannya, meski saya sendiri tahu, kecurangan semacam ini sudah menjadi budaya bagi bangsa yang berbudi luhur ini.
Namun saya juga mempersilakannya membuat pilihan.
“Tapi kalau Kakak mau ikutan ambil KJ, silakan.”
“Nggaklah, Pak. Biar sajalah,” katanya yakin. Keyakinan yang membuat saya bangga sekaligus lega.
“Kakak sudah ikut OSN bidang Matematika sampai tingkat nasional.
Masih SMP, Kakak sudah jadi pengajar di tempat les bahasa Inggris.
Biarlah teman-temanmu jadi juara nilai UN.
Masa mau Kakak borong semua?”
Kami tertawa.
*****
Kekhawatiran Echa terbukti.
Ketika tadi pagi, Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) dibagikan, nilai dia cukup jauh dari posisi tertinggi.
Hebatnya, hal yang sama juga terjadi di kelasnya, 9-1, yang merupakan kelas “unggulan”.
Mungkin ini cuma kebetulan, namun anak-anak di kelas itu memang umumnya menolak menggunakan KJ.
“Kehormatan” itu didapat anak-anak dari kelas lain, yang selama ini, saya mohon maaf harus mengatakan ini, nyaris tak pernah terdengar prestasi akademiknya.
Sebagai contoh, dalam mapel Bahasa Inggris, Echa, yang notabene sudah jadi guru les bahasa Inggris itu, dan belakangan sepertinya sudah lebih fasih dari saya sendiri, “hanya” dapat 88.
Sementara temannya, yang menjadi murid di tempat les dia mengajar, ada yang memperoleh 95.
Syukurlah, Echa masih unggul dalam Matematika, pelajaran yang disebutnya sebagai "soal harga diri" itu :D
Dia masih melampaui kesaktian KJ, dan "kehebatan" Kakak-kakak pintar di bimbel-bimbel itu.
Oh ya, satu lagi. Echa juga sepertinya jadi yang tertinggi dalam nilai Ujian Sekolah (US).
Entah ada kaitannya atau tidak, puasa, coy, gak boleh buruk sangka, bimbel-bimbel itu konon memang tidak menyiapkan KJ untuk US, karena soalnya memang dibuat di masing-masing sekolah.
Tapi sudahlah, Kak. Jangan kecewa.
Kejujuranmu itu adalah hadiahmu.
Kelak, ketika kau harus berhadap-hadapan dengan kehidupan, ketika kau harus menjawab tantangan-tantangan yang sesungguhnya, yang bisa kau jadikan senjata untuk menghadapinya bukan nilai-nilai di atas kertas itu, tetapi apa yang kau punyai di dalam dirimu.
Selamat, Nak.
Ayah dan ibumu sangat bangga!"


Dari situ kejujuran anak Toga Nainggolan pun mendapat respon positif dari netizen.

Kebanyakan dari mereka juga memuji Toga yang sebagai ayah bisa mengajarkan kejujuran pada anaknya.
@nhana_astuti: "Salut pak, ayah saya juga mengajarkan hal utama dalam hidup yaitu sebuah kejujuran meski sya tau itu sulit utk era skrg.Salam utk putrinya."

@putihijau: "Seorang ayah yang hebat, mengajarkan percaya diri pada anaknya. Itulah iman, melihat dunia dengan kejujuran dan memberikan pilihan pd anak."

@glrhn: "Ini udah dari dulu sih, Lae. Aku pun dulu pernah kecewa karena nilai teman yang nihil prestasi akademik, bisa dapat nilai jauh lebih tinggi.."

Adi Wiyono: "Susah ya anak sekolah sekarang, mau lulus sekolah, ujian nya banyak bgt..waktu mereka habis utk urusan sekolah saja..padahal pendidikan moral dan sosial di rumah dan lingkungan sekitar rumah jg penting.."

Gimana menurutmu guys?

SEDANG HOT: Sering Tak Disadari dan Terkesan Diabaikan Begini Gejala Kanker Serviks yang Dianggap 'Biasa' Oleh Kaum Wanita

Top