Banyak Dikeluhkan Ibu, Anak Berkata Kasar Jangan Sampai Dimaki! Lakukan Saja Ini


"Bagaimana tidak memaki, saya tak pernah mengajarinya seperti itu." Memang benar, tapi ini lho cara tepat menghadapi anak yang suka berkata kasar.

Anak sering bicara kasar atau tak pantas? Tak perlu bereaksi berlebihan, apalagi sampai memberi hukuman fisik. Tenang saja bunda, ini lho solusi jitunya.

Also read : Sudah Hafal Lebaran Ditanya "Kapan Nikah?", Ini Lho Jawaban Biasa Tapi Semua Pasti Bilang "Iya-ya"

Anak-anak memang selalu punya cara untuk membuat kehadiran mereka diperhatikan, usia yang masih sangat muda membuat mereka belum mengerti dan memahami betul apa sebab akibat yang akan mereka terima dari melampiaskan kemarahan dan rasa frustasinya kepada orang lain. Tak heran jika terkadang kita akan mendapati anak yang tiba-tiba berkata kasar untuk sesuatu yang bisa saja kita anggap sepele tapi sesunguhnya telah berhasil membuatnya marah atau kecewa.

Bisa juga karena kebiasaan menirukan orang lain, terutama usia praremaja karena ia meniru orang lain. Penyebab: Pengaruh nonton film. Umumnya, anak usia ini sudah boleh nonton film remaja yang notabene untuk anak di atas usia mereka. Bukan tidak mungkin ada katakata yang tidak seharusnya mereka dengar. Selain itu, mungkin saja ia melakukannya karena meniru omongan orang-orang yang ada di sekitarnya.

1. Jadi contoh yang baik


Karena anak memang selalu jadi cerminan dari kita sebagai orangtuanya semua perilaku dan sikap yang dia tunjukkan menjadi bukti dari keberhasilan kita dalam mendidiknya. Untuk itu jadilah contoh yang baik bagi anak, hindari memakai kata kasar yang bertujuan untuk mengumpat apalagi jika di depan anak. Dengan memberikan contoh yang baik mereka akan lebih mudah untuk mengikuti dan meniru semua yang kita ajarkan kepadanya.

2. Ajari kosakata netral


Ajaklah Ia seakan masuk dalam sebuah permainan yang sebenarnya adalah memberikan ia pemahaman yang baik, persilahkan ia berkreasi untuk menemukan kata lain yang hampir sama dan mirip namun berkonotasi lebih netral. Misalnya daripada harus mengucapkan “Kampret atau Kurang Ajar” diganti dengan kata “Kurang Asem” yang lebih mudah diterima dan lebih enak didengar daripada kata pertama tadi.

3. Temani dan awasi


Meski tak selalu bisa menemaninya saat bermain tapi ini adalah satu hal yang perlu demi menjaganya dari lingkungan yang bisa saja memberinya pengaruh yang tidak sesuai dengan aturan yang kita pakai dalam mendidiknya dirumah. Mungkin anak sering menyaksikan seorang temannya yang biasa berkata kasar meski kepada orangtuanya sekalipun, ini akan memberinya pandangan hal itu adalah baik buktinya temannya bisa melakukannya hal tersebut.

Karena kita mungkin tak selalu bisa menemaninya saat bermain, kita bisa memintanya untuk menceritakan ulang apa saja yang dilakukannya saat bermain tanpa kita. Bagaimana sikap temannya, dan segera berikan pengertian untuk meluruskan pandangannya jika sekiranya ada sesuatu yang salah. Tapi jika memang memiliki waktu, akan lebih baik jika kita tetap bersamanya saat sia bermain untuk lebih mengetahui apa yang diterimanya dari lingkungannya.


Also read : Ibadah di Akhir Ramadhan yang Jarang Dilakukan Wanita, Bagi Ibu-ibu Pasti Mudah Melakukannya

4. Beritahu artinya


Tetap bersikap tenang dan wajar hindari untuk memarahinya langsung karena kemarahan bukanlah cara yang efektif untuk memberinya pengertian. Ini hanya akan mendramatisir keadaan yang hanya akan membuatnya bingung, cobalah tanyakan kepadanya apakah arti dari ucapanya itu. Jika dia memang tidak bisa menjelaskan itu berarti dia tak paham apa arti dari ucapanya itu ternyata tidak baik bahkan bisa menyakiti hati oranglain. berikan ia pemahaman tentang arti kata yang diucapkannya tersebut. Kita harus bisa menggali pemahaman tentang kata yang dimilikinya, dan mengapa ia berucap demikian. Lalu berikan dia pengertian bahwa apa yang dilakukannya itu tidaklah baik.

5. Buat kesepakatan


Demi menghindar rasa terlalu di kekang baginya, kita bisa mengakali dengan mengajak anak untuk membuat beberapa kesepakatan yang harus diikuti. Berisi aturan untuk tidak menggunakan bahasa dan kata yang tidak baik, namun jika memang sang anak masih melanggarnya cobalah untuk memberinya konsekuensi dari kesalahannya tersebut.

Misalnya “Tidak akan memperbolehkannya menonton tv dalam beberapa jangka waktu tertentu untuk kesalahan itu”, atau menceritakannya sebuah cerita yang mungkin bisa kita karang sendiri berikan dia pengertian jika ketika dia mengucapkan kata-kata kasar akan ada hati yang sedih kita bisa mengambil objek sesuatu yang disayanginya bisa mainan ataupun orang tua, kakak atau neneknya. “Kalau adek ngomong kasar gitu, mama bisa sedih loh. Adek mau mama sedih ya? Mau mama nangis ya nak ?” biasanya cerita sederhana begini lebih mudah untuk dipahaminya. Dengan begitu dia tak akan mengulangi kesalahannya lagi karena tak mau mamanya bersedih.


Bunda harus lebih paham tentang apa yang diinginkan sang anak ya. Jangan sampai memberikan rasa trauma kepada mereka dan pada akhirnya malah membuat anak jadi gemar berkata kasar.
Top