Awalnya Dia Pilihan Ayahku, Namun Karena Allah Aku Bisa Mencintainya Sebagai Suamiku


Tak selamanya perjodohan itu membawa duka pada setiap pasangan. Semoga kisahku ini memberikan gambaran ketika aku yang dijodohkan, terlanjur mencintainya karena Allah SWT.

Tidak selamanya loh yang dinamakan perjodohan  atau di kenalkan itu jelek ,mendapatkan pasangan apapun jalannya mungkin juga sudah merupakan bagian dari kehidupan seseorang yang sudah di tulis dalam kitab-Nya.

Artikel pilihan : "Entah Penyesalan atau Bukan, Diriku yang Berselingkuh Tak Tahu Jika Istriku Menyimpan Sakitnya Sendirian"

Terkadang kita sebagai manusia (perempuan khususnya) ada perasaan gengsi atau malu menerima perjodohan itu , gengsi dan malu karena merasa tak berdaya dalam mendapatkan pasangan sendiri sehingga, kok harus melalui orang lain? kenapa kita gak bisa sendiri yang langsung mendapatkan pasangan ?.

Perasaan itulah yang aku rasakan walau dalam hal ini aku mungkin bukanlah orang yang sepenuhnya di jodohkan  tapi memang itulah jalannya .

Setelah berusaha betah di rumah yang baru walaupun jauh dari indah, aku mencoba untuk membuat nyaman rumah mungilku itu. Karena aku suka menjahit maka semua interior rumah aku sendiri yang membuatnya. Mulai korden, taplak, sprei dan lainnya. Walaupun dari bahan yang sangat sederhana.

Perlahan-lahan aku juga berusaha mencoba mencintai suami pilihan ayahku.

Yang membuatku sedih saat itu adalah kami belum mempunyai kamar mandi dan sumur sendiri, sehingga aku harus ke rumah tetangga kalau membutuhkannya. Sampai akhirnya suami mengetahui kesedihanku. Setiap pulang kerja, dia mengerjakan pembuatan sumur sampai larut malam. Alhamdulillah setelah sumur jadi tidak lama kemudian aku hamil anak pertama.

Gaji suami yang pas-pasan membuatku bisa makan hanya sampai pertengahan bulan. Sisanya kami biasa makan krupuk dan sambal terasi. Setelah anak pertamaku lahir, keinginan untuk pulang ke rumah ayah belum mereda. Hampir tiap bulan aku selalu minta suamiku mengantarkannku ke rumah ayah yang berjarak kira-kira 300 Km dari rumahku.

Sampai suatu saat suamiku berkata, “Jika setiap bulan seperti ini, apakah pertanda kamu tidak ingin hidup bersamaku lagi?


Artikel pilihan : Mana yang Lebih Wajib Bagi Istri? Taat Kepada Orang Tua ataukah Sang Suami?

Aku hanya bisa menangis. Aku membayangkan jika kami berpisah, maka bagaimana dengan nasib anak kami nanti? Bagaimana pula dengan hati ayahku pasti akan berkeping-keping pilu? Aku tak ingin hal itu terjadi. Akhirnya sejak saat itu aku berusaha meluruskan niatku untuk berumah tangga. Taat pada suami dan taat pada ayah.

Maka nikmat yang manakah yang aku dustakan  karena perkawinan ini adalah Rahmat bagi kami berdua dan saat ini keinginan kami yang terbesar adalah membesarkan anak- anak kami  menjadikan anak-anak yang Sehat, Sholeh dan Mapan di kehidupan mereka nanti dewasa kelak, Semoga Allah SWT meridhoinya.

Alhamdulillah genap 50 tahun kami menikah dengan segala suka duka kami lalui berdua, perlahan ekonomi keluarga kami membaik, keempat anakku berhasil menempuh pendidikan sarjana.

Sekarang aku dan suami menghabiskan waktuku berdua dengan mengisi kegiatan membuka Taman Pendidikan Qur’an.

Ayah terimakasih untuk menjadikan aku istri yang taat.
Top