Taukah Anda Mengapa Maksiat Lebih Dipandang Daripada Taat?

Komentar

Banyak yang sebagian orang tidak tahu sejak kapan berita aneh ini mulai mewabah di bumi. Bisa jadi hal ini telah ada sesaat setelah Adam dihempaskan dari surga. Karena mendustai perintah Tuhannya.Disaat para makhluk diberinama Setan itu kemudian bersumpah. Akan selalu dengan hati riang menggoda anak-cucu Adam. Bagaimanapun caranya, dari manapun arahnya, sampai kapanpun masanya. Tapi para syetan telah mengikrarkan janji laknat tersebut.

Mereka yang dengan lihai mengelabui kita, memberikan pemahaman yang keliru, menyatakan kenikmatan dunia yang tidak akan ada habisnya, serta menjadikan kita sebagai media paling asyik untuk didekatkan dengan musyrik. Semua bisa jadi hal yang melatari mengapa banyak sekali yang menganggap hebat orang ahli maksiat dibandingka yang menjadi taat.

BACA JUGA Tak Disangka Manusia Memiliki Surat Izin Di Akhirat!

Kita tidak bisa untuk tetap menyalahkan perkembangan zaman yang semakin praktis dan hedonis.Karena ini adalah urusan personal dari setiap orang itu sendiri. Karena menyangkut apa yang sudah di yakini dan di anut. Begitu juga berpendapat. Banyak yang beranggapan bahwa maksiat lebih hebat daripada dengan taat yang pada dasarnya tidak bisa disalahkan.Popularitas, komunitas, dan materi sebagai sumber kebahagiaan paling mutlak di dunia. Itu yang menambah kesan bahwa yang maksiat lebih hebat daripada yang taat.

Maksiat yang melahirkan sikap hina dina di hadapan Allah itu lebih baik ketimbang ketaatan keapada Allah yang melahirkan sikap merasa mulia dan sombong.( Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary).
Sebesar apa pun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat, Allah tetap menyambutnya dengan Pintu Ampunan yang agung, bahkan dengan kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepada yang bertaubat. Karena sebesar langit dan bumi. Jika kalian penuh dengan dosa-dosa kalian, dikalikan dengan lipatan jumlah penghuni alam semesta ini, kelipatan dosa itu sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi.


Oleh sebab itu membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa untuk memohon ampun kepada Allah, bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya.

Mengapa itu bisa terjadi ? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi dibanding maksiat, yaitu dosa orang takjub atau kagum kepada dirinya sendiri. Bahkan Rasulullah saw. Bersabda :

“Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).”
Banyak dari sekeliling orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya menjadi manusia mulia di hadapan Allah SWT. Begitu juga banyak ahli ibadah tetapi berakhir hina di hadapan Alllah SWT, gara-gara merasa sombong dan lebih hebat diantara lainnya. Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah SWT, mereka yang merasa paling Islam itu justru menjadi hina dihadapan-Nya, jika tidak segera melakukan tobat.

Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan luar biasa sebagai Nabi, Rasul, Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena berbuat dosa di surga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan ma’rifatnya ketika di dunia, bukan ketika di syurga dulu.

BACA JUGA Banyak yang Sujud Asal Meringkuk, Ternyata 3 Doa Ini Jangan Sampai Terlupa!

Nabi Adam as, menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika berada di surga. Oleh karena itu terkadang Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Pendapat ini dilontarkan agar manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu, malah membuat dirinya naik derajat.Pendapat ini pula tidak bias dipandang dengan mata hati, nafsu dan hasrat hawa. Misalnya,
Kalau begitu maksiat saja, siapa tahu, kita malah naik derajat… Kalimat ini adalah kalimat yang muncul dari hawa nafsu!
Di akhir zaman , jika benar membuktikan bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang hancur-hancuran, maksiat yang bernoda.

Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, khususnya di wilayah kota-kota besar, betapa banyak orang yang merasa bangga terhadap diri sendiri dengan menunjukan ahli ibadahnya, ketekunan dan taatnya, diam-diam menjadi ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya.

Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita, Karena manusia menjadi manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa hebat dibanding yang lainnya.

Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci terbukanya Pintu-pintu Allah Ta’ala, karena kesadaran seperti itu, membuat seseorang lebih mudah fana’ di hadapan Allah SWT.

Top