"Surga nyata itu di dunia, bukan di dongeng setelah kematian" Astagfirullah



Entah karena ingin tenar di dunia yang fana ini dengan mengatakan fitnah. Atau memang benar-benar jauh dari petunjuk. Tapi dengan sangat jelas orang seperti ini hanya mementingkan dunia. Terlihat dua motifnya.
1. Ingin tenar meski dengan hal negatif.
2. Acuh tak acuh dan tidak ingin tahu, meskipun saat ini dakwah islam begitu mudah sampai ke mata dan telinga kita.

Padahal dengan sangat jelas, di banyak ayat Al-Qur'an bahwa kehidupan kekal setelah di dunia ini pasti ada. Semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.

Islam selalu seimbang dalam memberikan porsi rasa takut dan harapan. Setelah Al-Qur’an mengancam manusia dengan ganasnya api neraka. Kini rasa takut itu di imbangi dengan kabar gembira tentang surga.

Rasulullah saw sering menceritakan kenikmatan surga dihadapan para sahabatnya. Mereka pun sering bertanya tentang surga untuk membuat hati mereka rindu dan bersemangat untuk melakukan amal soleh.

Kali ini kita akan mengintip kenikmatan surga sesuai dengan penjelasan Al-Qur’an. Walaupun apa yang telah Allah ceritakan tentang kenikmatan surga bukanlah seperti kenyataannya. Cerita tentang kenikmatan itu hanya untuk mendekatkan pemahaman kita yang terbatas. Sebenarnya, kenikmatan surga tidak bisa di jangkau oleh manusia. Rasulullah pernah mengutip firman Allah dalam Hadist Qudsin-Nya,

“Aku telah menyiapkan bagi hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbesit dalam benak seseorang.”

Namun, kita tetap akan mengkaji kenikmatan surga menurut Al-Qur’an agar hati kita rindu kepadanya. Dan semoga dengan kerinduan itu kita akan lebih giat untuk meraih kenikmatan abadi ini.

وَبَشِّرِ الَّذِين آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقاً قَالُواْ هَـذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُواْ بِهِ مُتَشَابِهاً وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٥-

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah 25)

Baca Juga: Hukum Meng-Aqiqah-i Anak atau Orang Tua yang Sudah Meninggal

Bidadari Surga

Al-Qur’an berulang kali menceritakan bahwa kenikmatan yang akan didapat di surga adalah bidadari. Berulang kali Allah menjelaskan tentang sifat-sifat bidadari surga. Mengapa?

Karena manusia memiliki naluri menyukai lawan jenisnya. Dia memiliki fitrah untuk mencintai wanita. Bahkan ketika Allah menceritakan tentang syahwat duniawi manusia, Allah mendahulukan wanita sebelum kesukaan yang lain.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ-١٤-

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.” (Ali Imran 14)

Surga adalah hadiah bagi mereka yang telah beramal di dunia. Dan hadiah terbaik adalah sesuai keinginan si penerima. Karena itu Allah menjanjikan kenikmatan yang disukai manusia agar jiwanya tergugah untuk segera meraihnya.

Surga dihiasi oleh wajah molek bidadari-bidadarinya. Allah swt menyifati mereka dalam firman-Nya,

Baik dan elok

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ -٧٠-

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita.” (Ar-Rahman 70)

Kita akan melihat perangai yang indah dan wajah yang elok ketika melihat bidadari itu. Tidak ada yang terlihat dari mereka kecuali keindahan.

Belum Pernah disentuh Siapapun

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ -٥٦-

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” (Ar-Rahman 56)

Para bidadari terjaga dalam sebuah tempat yang mulia. Tidak sembarang orang bisa melihatnya. Mereka tidak pernah disentuh oleh siapapun sebelum kita.

Selalu perawan dan muda

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَاراً -٣٦- عُرُباً أَتْرَاباً -٣٧-

“Lalu Kami Jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya.” (Al-Waqi’ah 26-27)

Semua bidadari di surga adalah perawan. Dan ketika kita mendatangi mereka berapa kali pun, mereka akan tetap seperti pertama kali kita datang. Selalu perawan dan penuh kemesraan. Penuh cinta dan kasih sayang. Selain itu, mereka juga tidak pernah menua. Tetap pada umur mudanya.

Bukankah telah datang seorang wanita tua kepada Rasulullah saw. Dia meminta beliau untuk mendoakannya masuk surga. Namun Rasulullah menjawabnya, “Tidak ada orang tua di surga.” Seketika dia menangis karena tidak bisa masuk surga dengan umurnya yang tua. Kemudian Rasulullahs saw segera menenangkannya dengan berkata bahwa semua yang tua akan menjadi muda di dalam surga.

Seperti Mutiara dan Permata      

كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ -٢٣-

“Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Al-Waqi’ah 23)

Para bidadari laksana permata yang terjaga. Kecantikannya begitu memancar dan kelembutannya selembut mutiara.

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ -٥٨-

“Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.” (Ar-Rahman 58)

Pasangan yang Suci.

وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٥-

“Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah 25)

Imam Ja’far Shodiq menyebutkan bahwa para bidadari itu suci dari Haid atau darah selainnya. Selalu siap melayani. Dan tak pernah berubah seperti pertama kali bertemu.

Apakah Ada Komunikasi?
Imam Ja’far pernah ditanya oleh sahabatnya, “Apakah ada pembicaraan dengan bidadari?”

Imam menjawab, “Ya, belum pernah seluruh makhluk mendengar pembicaraan seperti yang dibicarakan bidadari.”

“Apa yang dibicarakan?” Tanya sahabat itu.

“Mereka berkata bahwa kami adalah (bidadari) yang kekal dan tak akan mati. Kami selalu ramah dan tak pernah berlaku kasar. Kami akan terus berada disini dan tak pernah meninggalkan. Dan kami selalu rela dan tak pernah marah. Beruntung siapa yang diciptakan untuk kami dan beruntung siapa yang kami diciptakan untuknya. Jika sedikit saja kami ditampilkan di bumi maka seluruh makhluk tidak akan mampu melihat cahaya kami.”

Inilah yang dijanjikan Allah bagi mereka yang beriman dan beramal sholeh.

Anak-Anak Kecil yang Lucu

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ -١٧-

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda.” (Al-Waqi’ah 17)

Para penghuni surga disambut oleh anak-anak kecil yang lucu. Umur mereka tidak bertambah. Selalu terlihat indah dipandang. Tugas mereka adalah melayani para penghuni surga. Mereka berkeliling disekitar penghuni surga untuk selalu siap melayani apapun kemauan tuannya. Dalam ayat lain, Allah swt berfirman,

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤاً مَّنثُوراً -١٩-

“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan.” (Al-Insaan 19)

Tempat Tinggal Penghuni Surga

Seberapa besar tempat tinggal yang disediakan Allah untuk penghuni surga?

Allah swt berfirman,

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ -١٣٣-

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhan-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran 133)

Saat memasuki surga, kita adalah tamu-tamu Allah swt. Coba bayangkan apa yang diberikan Penguasa Alam kepada tamu-tamu kemuliaan-Nya. Kita tak bisa menjangkau dengan akal betapa nikmat kehidupan surga, tak sebatas pakaian mahal dan makanan enak di dunia yang fana ini. Bahkan semua itu telah ditunjukkan dalam ayat-ayat dalam surat lain.

Apa kita masih ingin ingkar? Apa anda temukan sepercik saja kesalahan Al Qur'an. Bahkan karena majunya teknologi saat ini, penelitian-penelitian yang dilakukan satu-persatu akhirnya merujuk dan membenarkan isi Al Qur'an.
Top