Santri yang Sukses Bukan Paling Banyak Hafalannya, Tapi Bagaimana ia Hormat dan Taat Kepada Gurunya

Komentar

Facebook/Hukum Islam

Naudzubilah, kisah ini akan mengingatkan kita yang sedang belajar agar menghormati guru kita. Pahlawan tanpa tanda jasa yang telah menyampaikan ilmu kepada kita untuk kita pahami.

Kisah seorang santri yang durhaka kepada gurunya.

Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di Rubat Tarim yang saat itu diasuh Habib Abdulloh Assyatiri, dia dikenal sangat alim hingga mampu menghafal kitab Tuhfatul Muhtaj 4 jilid. siapa tak kenal dia?? Semua tau bahwa ia sangat alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar.

Baca Juga: Ini Efeknya Jika Kita Rutin Membaca Al-Qur’an Usai Subuh dan Maghrib. MasyaAllah

Nah, suatu hari disaat Habib Abdulloh Assyatiri mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba Habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal alim itu. "Kemana si fulan???" Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin. Akhirnya Habib Abdulloh Assyatiri yang sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata: "baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap disini!!!".

Di kota Mukalla, santri yang sudah terkenal alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid Omar Mukalla.

Singkat cerita si santri ini pun maju kedepan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba'du si Alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun.

Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, "Ada apa ini???", akhirnya salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; "Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?".

Dia menjawab : "aku keluar tanpa izin habib dari pesantren." Dia terus menangis, dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf
kepada Habib.

Namun dengan sombongnya ia tidak mau meminta maaf. Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.

Dan disaat ia meninggal, dia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang.

Semoga dengan cerita ini kita bisa mengambil hikmahnya. Sebanyak apapun ilmu kita saat kita durhaka kepada orang yang telah menyampaikan ilmu kepada kita yaitu guru, maka jangan harap ilmu kita manfaat dan hidup menjadi berkah.
Top