Saat Allah Menjauh Karena Dirimu Masih Seperti Ini, Tak Malukah?


Bagi kita yang masih merasa jauh dari Allah (terutama bagi penulis sendiri), sampai kapan mau jauh dari Allah? Apakah sampai kaya, sampai sukses, sampai terkenal, sampai bahagia, sampai punya anak, sampai punya istri/suami, sampai bumi dan seisinya milik kita, sampai mendepat musibah, sampai tua, sampai dapat bencana, sampai ada waktu luang atau sampai titik akhir kehidupan?! Sesungguhnya kita tidak pernah puas dengan apa dicari maupun diperoleh. “Kebahagiaan yang paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah” (HR.Ad-Dailami dan Al Qodhoi).

Also read : Dirimu Bukan Lalat, Inilah Bedanya Kerja Keras dan Kerja Cerdas!

Ya, mungkin memang benar kita hidup di dunia ini haruslah berjuang dan menggapai apa yang ingin kita peroleh, serta jangan sampai membuat sebuah kegagalan demi orang yang kita sayangi. Akan tetapi, ingatlah satu hal bahwa kita hanyalah hamba yang sangat dan harus melakukan apa yang diperintahkan untuk kita. Dialah yang memang Maha Memberi dan Menciptakan, sehingga tak ada satupun hal yang bisa kita elak dari diri-Nya.

Mungkin menjadi sebuah pertanyaan bagi mereka yang telah mengerti, mengapa rasanya seperti Allah SWT sangat jauh dari diri saya? Apakah Allah membenci saya? Juga beberapa pertanyaan lain yang bisa saja dijawab dengan melihat apa yang sudah diperbuat dan diamalkan selama ini. Namun jika memang ingin sekali memperbaiki, maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan poin-poin berikut ini tak sampai terlewatkan dalam hidup.

Tahapan pertama untuk dekat dengan Allah Ta’ala ialah membiasakan diri dengan amalan ketaatan dan terus menerus memperbaikinya hingga menjadi amalan terbaik. Berbeda dengan dzikir yang parameternya adalah sebanyak-banyaknya, amal ketaatan atau amal shalih dihitung berdasarkan kualitas, bukan kuantitas.

Dekat dengan Allah Ta’ala juga bisa digapai melalui tangga kedua yang disebut dengan akhlak yang mulia. Dalam tahapan ini, seorang hamba harus berupaya sungguh-sungguh menjauhkan dirinya dari sifat-sifat makhluk secara umum, berupaya sekuat tenaga meneladani Nabi, kemudian menginstal sifat-sifat malaikat di dalam dirinya.

Melalui tiga tahapan itu-menjauhi sifat mahkluk, meneladani Nabi, dan memilki sifat malaikat, maka seorang hamba akan berada dalam posisi yang dekat dengan Allah Ta’ala. Sifat-sifat makhluk yang harus dijauhi ialah perbuatan-perbuatan negatif yang masyhur dilakukan oleh sifat-sifat hewani dan syaithani. Rakus. Sombong. Serakah. Egois. Pemarah. Pembenci. Pendendam. Dan sebagainya.

Sifat-sifat itu harus dihilangkan-sebagian kemudian seluruhnya-dan diisi dengan meneladani sifat-sifat kenabian yang mulia. Benar. Dapat dipercaya. Menyampaikan kebenaran. Cerdas. Keempat sifat ini, dan derivasinya, merupakan sifat-sifat Nabi yang harus senantiasa diteladani dalam tiap jenak kehidupan seorang hamba.

Jika seorang hamba berhasil mengeliminasi sifat-sifat makhluk-kebinatangan dan syaithani, kemudian menginstal berbagai sifat-sifat kenabian yang mulia, maka ia akan mendapatkan berbagai kemudahan dalam melakukan sifat-sifat malaikat dalam kehidupan sehari-harinya.

Para malaikat merupakan makhluk yang senantiasa taat kepada Allah Ta’ala dan mustahil durhaka kepada-Nya. Ketaatan para malaikat akan mudah dikerjakan oleh seseorang yang tidak memiliki (atau sedikit memiliki) sifat-sifat buruk di dalam dirinya.


Also read : Masihkah Dirimu Betah Menyimpan Duri? Padahal Jelas Membukanya Akan Jauh Lebih Baik!

Pasalnya, hati dan jiwa manusia merupakan wadah yang mustahil mengumpulkan dua hal bertolak belakang. Tidak mungkin bersemayam keburukan di dalam hati, ketika ia dipenuhi dengan berbagai jenis kebaikan. Sebaliknya, kebaikan akan sukar masuk dan bersemayam di dalam diri tatkala hati dan jiwanya dipenuhi dengan berbagai macam keburukan dan sifat-sifat tercela lainnya.

Melewati tiga kondisi ini dengan baik, insya Allah mengantarkan kita pada kedekatan dengan Allah Ta’ala. Sebab seorang hamba yang dekat dengan-Nya pasti meneladani dan dimudahkan meniru sifat-sifat-Nya yang baik; penyayang, penolong, pengasih, penyabar, dan sebagainya.

Pada akhirnya, buka hati dan pikiran kita untuk merenung. Apa yang melatarbelakangi kita masih betah, bertahan untuk menjauhi Allah dan menikmati hidup tanpa aturan-Nya. Bukankah hidup tidak kekal dan sejauh-jauhnya berjalan akan ada akhirnya dan sebebas-bebasnya pasti akan rindu untuk mengadu pada-Nya?

“Di antara Wahyu Allah kepada Nabi Dawud AS; “Tiada seorang hamba yang taat kepada-Ku melainkan Aku memberinya sebelum dia meminta, dan mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa, dan mengampuni dosanya sebelum dia mohon pengampunan (istighfara).” (HR.Ad-Dailami).
Top