Renungan Untuk Istri, Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan

Komentar


NASIHAT UNTUK PARA ISTRI

Saat kau sudah menjadi istri, sesekali pandanglah wajah suamimu ketika ia terlelap.
Itulah orang yang tiada hubungan darah dengan mu namun tetap terus berusaha mencintaimu.

Sesekali saat suami pulang bekerja atau dari tempat usahanya, pandang wajahnya, cium tangannya.

Itulah tangan yang bekerja keras mencari rizki untuk menafkahi dirimu dan anak-
anakmu.

Padahal, sebelum akad nikah ia tak punya hutang budi terhadapmu.

Bahkan ia mempunyai hutang budi terhadap Ibu bapaknya.

Ia memilihmu sebelum ia sempat membalas seluruh hutang budi kedua orang tuanya.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu, pandanglah wajahnya dengan penuh sayang.

Baca Kisah Ini : 


Untuk Suami Pekerja Keras, Terima Kasih Selalu Kuat Bertahan


Suara pintu digedor membuatku tersadar dari tidur ayam siang-siang di sofa. Bunyi dentuman itu masih berulang terus, barulah aku sadar bukan rumah ini yang digedor. Aku memberanikan diri ke luar untuk melihat rumah siapa yang sedang digedor hingga seperti itu.

Sebelah rumah, tempat sepasang suami-istri kaya tinggal bersama anak-anaknya, dipenuhi oleh orang-orang kekar berbaju hitam. Mereka yang kekar itu berteriak dengan garang, mengancam si empunya rumah membuka pintu atau mereka akan mendobrak dan merusak apa yang ada.

Dua menit, tiga menit, tak ada jawaban. Aku berpandangan dengan tetangga seberang rumah yang juga menyembul kepalanya dari balik pintu rumahnya akibat berisik-berisik ini. Suasana mendadak tegang, terlebih ketika pemilik rumah tidak kunjung keluar dan orang-orang kekar itu mulai berteriak lagi.

Pintu rumah sebelah akhirnya benaran didobrak. Di dalam ternyata ada orang, terdengar jerit-jerit kaget, memelas dan mengucap beragam alasan untuk membayar hutang.

Orang kekar menyebut jumlah hutang dengan lantang. 700 juta rupiah. Aku membelalak bersamaan dengan tetangga seberang, tak menyangka keluarga kaya itu memiliki hutang sedemikian fantastis.

“Neng?”

Suamiku menyapa dari luar, mungkin keheranan aku tak menunggunya di depan pintu seperti biasa.

Aku di kamar, menyeka pipi yang basah. Baru mau ke ruang tamu, suamiku sudah duluan sampai di depan kamar.

Aku menggigit bibir bertatapan dengannya. Mataku panas, hidungku mungkin sudah memerah. Dengan lirih aku bersuara, “Bang, makasih udah ikhlas berjuang nyari nafkah selama ini.”

Tadi siang sungguh mengerikan. 700 juta rupiah bisa membuat orang kalap, rupanya. Sementara di luar mulai ramai tetangga lain berkumpul, di dalam rumah sebelah tak kalah ramai benda-benda dihancurkan, segala vas, gelas dan piring kristal yang sinarmya selalu menyilaukan tiap lewat rumahnya itu, sudah tak lagi bisa membela dan membanggakan pemiliknya. Pecah dibanting ke lantai, berkeping-keping.

4 orang anak yang semuanya perempuan, menangis jejeritan. Mungkin dijambak rambutnya, dirontokkan perhiasan emas dan mutiara dari badan montok mereka.

“Gue jadiin ini sebagai jaminan! Kalo Ibu lu nggak bayar-bayar, gue sita nih rumah!” seorang kekar berteriak mengancam.

Tak ada yang menolong 4 anak perempuan itu hingga kericuhan reda, menyisakan tangisan dan ratapan yang melengking memilukan. Tak ada Pak RT atau polisi sempat datang.

Keluarga itu, apalagi Ibu mereka, terlalu angkuh untuk dibantu, terlalu banyak menyakitkan para tetangganya yang dianggapnya miskin-miskin dan menjijikkan, jadi tak ada yang sudi memanggil polisi.

Lalu, Pak RT? Hingga kemarin, Ayah dari keluarga itulah yang menjadi RT di sini. Dia baik, tampangnya memelas dan menderita. Hanya saja dia memelihara seorang lintah perempuan menjadi istrinya, jadi dia tak mendapat kasihan dari warganya sendiri, karena mengurus KTP saja harus rumit kalau tak punya uang, karena perempuan lintah itu. Warga menyesal sudah memilih keluarga itu mengurus lingkungan. Kemarin malam setelah bertengkar dengan istrinya, Pak RT yang selalu hidup di bawah perintah istrinya itu pergi, kabur entah kemana.

Aku memeluk erat anak perempuanku di tempat tidurnya, selesai membacakan dongeng. Kulapalkan doa untuknya agar tak pernah banyak tingkah nanti dewasa, tapi bersedia sederhana dan berbakti pada aku dan suamiku. Aku mematikan lampu kamar dan menutup pintu, menuju kamarku di sebelah.

Suamiku sudah terbaring lelah di ranjang kamar kami. Aku menatap kulit kusam itu, membayangkan ia berlelah-lelah di bawah matahari sebagai tukang kue semprong.

Aku menyeka butiran air di ujung mata sebelum membesar, dan pecah mengalir ke pipi. Aku bersyukur. Meski sederhana dan kadang makan kadang tidak, setidaknya suamiku terus bekerja keras hingga kami tak perlu hutang sana-sini.

Aku malu, pernah kadang iri pada tetangga sebelah. Iri pada anak-anak gadisnya yang subur-subur dan cantik oleh perawatan, dihiasi emas sekujur tubuh. Aku iri, karena anak perempuanku bisa sekolah saja sudah untung.

BACA JUGA: 10 Tahun Rumah Tanggaku Hancur Di Tangan Kakak Kandungku Sendiri

Sekarang aku tak ingin begitu. Kaya tapi hasil hutang, hanya karena gengsi. Sekarang aku merasa cukup memiliki suami yang ikhlas bekerja keras, bertahan mencari nafkah halal untuk aku dan anak perempuannya yang sangat ia cintai, ia perjuangkan mati-matian.
Top