[RENUNGAN] Keluarga Tidak Sempurna Bukanlah Alasan untuk Berhenti Mencintaimu, Istriku!



Mencintai adalah perkara mudah, tapi bertahan dari terpaan rintangan dalam menjaganya yang sulit. Jika diberi kesempatan untuk jatuh cinta, berapa kali pun itu, aku ingin menggunakannya untuk jatuh cinta padamu tiap hari. Mencintai adalah perkara mudah, membuktikannya kadang-kadang sulit. Terlebih, jika turut campur orang lain pada kehidupan kita.

Mencintai adalah perkara mudah, bertahan dari terpaan rintangan dalam menjaganya yang sulit.

Mengarungi bahtera bernama rumah tangga menjadi satu keputusan besar dalam hidupku. Siapa pun berharap ini adalah keputusan sehari seumur hidup, tidak ada orang yang ingin pernikahannya tidak baik-baik saja. Alhamdulillah, itulah yang kita rasakan hingga saat ini. Perjalanannya memang tidak mudah, tapi, toh, kita bisa bertahan dengan indah.

Bukankah sesuatu akan terasa garing jika lurus-lurus saja? Mungkin begitulah yang harus kita lihat dari cobaan yang kini tengah kita rasakan ketika orang lain masih begitu peduli pada kita hingga meragukan pernikahan kita akan bertahan. Alasannya karena kamu, istriku, berasal dari keluarga yang bermasalah.

Siapa pun Tidak Ada yang Keluarganya Sempurna, meski Setitik, Ketidaksempurnaan Pasti Ada

Taraf baik dan tidak baik hanya bersifat relatif. Buruk taraf 10 mungkin hanya menjadi buruk taraf 5 bagi orang lain. Noda yang membuat cela mungkin hanya menjadi noda guratan saja bagi orang lain. Ketika satu per satu mereka di kanan kiriku mencelamu mengatakan bahwa kamu berasal dari keluarga yang berantakan, cukuplah bagi kita bergeming. Meski kasih sayang dari ibumu tidak pernah kamu rasakan hingga dewasa, lalu ayahmu pergi tanpa meninggalkan tanggung jawab, bukan berarti kamu hidup tercela karena benar-benar tidak mendapatkan kasih sayang. Allah menolongmu lewat tangan saudara-saudaramu yang baik budi.

Mungkin Mereka Hanya Meragukan Kita karena Pernah Merasakan Kasus Serupa

Salah satu penyebab seseorang marah mungkin karena ia menutupi sikap kecewa, takut, atau cemas. Begitu pun ketika orang lain ragu. Seperti saat ini, misalnya, mungkin mereka yang membicarakanmu adalah peragu yang sebelumnya pernah merasakan hal buruk di masa lalunya. Namun, gagal bangkit dan memilih lari. Generalisasi memang terlalu wajar dilakukan manusia, terlebih ketika mereka merasa berpengalaman. Pikirnya, “Jika kita gagal, mereka pasti gagal.” Biarpun sulit, biarkan kita mencoba. Hidupmu akan lebih indah ketika digunakan untuk menjalani pilihan sendiri. Doakan saja mereka agar hidupnya berjalan baik selalu. Mendapat berkah dengan dibukankan pintu-pintu hatinya.

Bukti bahwa Aku Memilihmu dan Kamu Memilihku adalah Cukup Bukti bahwa Rasa Saling Percaya Itu Ada

Jangan khawatir, istriku. Suamimu ini sudah tahu cara memilih dan menanggung pilihannya. Jangan gundah dan menyalahkan diri. Ketika aku meminangmu, memindahkan tanggung jawab nafkahmu ke pundakku, sungguh saat itu aku sudah yakin dan percaya bahwa kamu akan menjadi istri yang baik juga ibu yang luar biasa bagi keluarga kita sekarang dan nanti. Aku melihat cahaya kebaikan di matamu, melihat masa depan di wajahmu, dan melihat ketenangan di senyummu yang akan menjadi penyembuh dari segala rasa lelah dan sakitku sepanjang Allah mengizinkan kita bersama.

BACA JUGA: 6 Tips Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Baik dan Membawa Banyak Pahala No 3 Malah Jarang Dilakukan

Istriku, jangan bersedih lagi di kala kamu merasa tidak butuh bersedih. Jangan biarkan siapa pun menghapus senyummu. Pandanglah dunia ini lewat mata kita. Masih ada banyak orang yang mencintaimu, walau mungkin tidak bisa menggantikan peran ayah ibumu. Tunjukkan pada sekitar bahwa kita bisa berjalan, walau pelan. Setiap saat kamu ingin melakukan lompatan dan belari, tanganku kala itu siap menjagamu agar tidak terjatuh. Ingat, tidak ada keluarga yang bebas dari ketidaksempurnaan.
Top